HTTP Status[404] Errno [0]

Ribut-ribut Soal Musik

29 June 2019 16:41
Ribut-ribut Soal Musik
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos – Musik itu adalah kebutuhan sebagian orang dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Bahkan banyak yang bilang, tanpa musik hidup terasa hampa. Mereka ini boleh jadi adalah pecandu musik kelas berat.

Atau mungkin saja sedang patah hati, sehingga kepincut suara musik untuk menghibur diri.

Jenis musik juga beragam. Boleh rock, boleh dangdut, boleh pop, boleh keroncong, boleh qasidah.

Boleh pula musik gambus, kecapi, seruling bambu, biola, atau jenis musik apalah namanya. Yang pasti bermain musik tak dilarang.

Negara dan masyarakat tak ada yang melarang. Cuma saja persoalannya ialah di tempat mana musik itu dimainkan.

Di kondangan ada musik elekton, di tv ada lomba dangdut, di lapangan sepak bola ada pagelaran musik, semua boleh-boeh saja sepanjang sesui aturan yang ada.

Kalau di kondangan biasanya ada pemberitahuan ke Polisi setempat bila menggelar hiburan musik.

Tapi jangat kaget bila ternyata biduannya beraksi candoleng-doleng dan ditangkap polisi. Dia bisa dituduh melanggar UU Pornografi.

Bahwa pertunjukan yang sifatnya insidentil, harus memang mengantongi izin keramaian dari Polisi.

Aturannya sudah demikian. Begitu pula di suatu tempat, apa itu cafe, warkop, atau apapun namanya dan menggelar pertunjukan musik, bila tempat itu belum memiliki izin tetap dari pemerintah daerah, berupa surat izin perdagangan, surat tanda terdaftar, dan surat tanda daftar pariwisata, maka dia harus mengantongi izin insidentil dan kepolisian.

Tentu saja izin kepolisian itu tak serta-merta diberikan. Polisi juga akan mengecek lokasi pertunjukan, apakah di lokasi itu tak mengganggu warga setempat, atau di sekitar tempat itu ada lokasi vital atau tempat penting yang tak boleh terganggu oleh jenis pertunjukan apapun, termasuk pertunjukan musik, maka Polisi bisa saja menolak memberi izin.

Seperti itulah aturannya. Karena memang dalam hidup dan kehidupan ini semua punya aturan. Semua punya tata cara. Tak bisa seenak dengkul. Siapapun itu mesti taat aturan.

Soal ribut-ribut memperbincangkan tentang langkah penghentian pertunjukan musik di Cafe Red Corner, Jalan Yusuf Dg Ngawing pada Kamis, 28/6/19 sekitar pukul 14.00 Wita itu, tentunya perlu ditelisik sejauhmana perizinan yang dimiliki.

Acara musik bertajuk ‘Makassar Millennial Sound’ itu, dihentikan oleh Polisi. Dan tentu saja Polisi punya pertimbangan apakah kegiatan ini mengganggu masyarakat setempat atau tidak.

Apalagi di sekitar lokasi terdapat rumah jabatan wakil gubernur yang setiap saat menjadi bagian penting dalam kegiatan pemerintahan.

Pemerintah pasti mendukung kegiatan musik seperti ini, apalagi diselenggarakan oleh anak muda masa depan bangsa yang bekerja di industri kreatif musik dan digital.

Tetapi tentunya mesti pada tempat yang diizinkan. Pada tempat yang tak mengganggu warga setempat.

Apalagi pada saat itu wagub Andi Sudirman Sulaiman menerima tamu di rumah jabatan, bahkan sedang dalam kondisi kurang sehat. Bisa dibayangkan seorang wagub masih saja melayani masyarakat mesipun kurang fit.

Wagub bekerja untuk rakyat Sulsel, untuk kesejahteraan 8 juta jiwa rakyat di Sulsel.

Termasuk untuk anak-anak muda yang dihentikan acara musiknya itu. Tentunya anak-anak muda harapan bangsa kita ini, paham bagaimana memberi ketenangan untuk wagub dalam melakankan tugas dan tanggung jawabnya yang maha berat itu.

Apalagi wagub punya anak kecil yang butuh ketenangan. Kita semua tentu pantas menghargainya, kalaupun bukan wagub, warga biasa pun pantas dan berhak mendapatkan ketenangan ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya