Soal Gubernur Marah-marah Ke PJ Walikota

08 July 2019 19:12
Soal Gubernur Marah-marah Ke PJ Walikota
Oleh : Usdar Nawawi

 

BugisPos — Hari ini, Senin 8/9/19, tiba-tiba muncul pemberitaan yang sesungguhnya cukup bisa penyudutkan gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Gubernur diberitakan tengah marah-marah lantaran Pj Walikota Makassar Iqbal Suhaeb tidak hadir pada rapat yang dipimpin gubernur Nurdin Abdullah, sebagai persiapan acara peringatan Hari Anak Nasional yang akan dihadiri Presiden Jokowi 19 Juli 2019 di Karebosi.

Sebagai gubernur yang memimpin rapat penting, lantas orang yang sangat diperlukan itu tidak hadir tanpa diketahui sebab musababnya, bisa saja spontan marah-marah.

Dan marah-marah bagi seorang pimpinan itu hal biasa saja. Kalau tak bisa marah mungkin saja seseorang tak bisa jadi pemimpin.

Cara melampiaskan kemarahan juga berbeda pada setiap orang. Bahkan bila sampai marah-marah ditahan di perut atau ditenggorokan, malah bisa menimbulkan penyakit.

Soal ucapan Nurdin Abdullah yang menyebut kapan saja bisa mengganti Walikota, ya itulah isinya tadi saat marah-marah itu. Tapi siapa bilang gubernur lagi berang? Mungkin saja kalimat itu dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian orang.

Mungkin saja itu bumbu, dan tidak perlu juga dipandang sebagai sesuatu yang salah. Pemberitaan juga butuh bumbu. Itulah yang membedakan setiap warung coto, mereka punya resep bumbu masing-masing.

Jangan Hari ini, Senin 8/9/19, tiba-tiba muncul pemberitaan yang sesungguhnya cukup bisa penyudutkan gubernur Sulsel Nurdin Abdullah samakan coto Jl.Nusantara dengan coto Jl.Pettarani.

Bahwa ketidak hadiran Iqbal Suhaeb di rapat itu, sesungguhnya sudah diwakili bahkan oleh beberapa kepala OPD terkait dari Pemkot Makasssar. Bahwa mereka inilah nanti yang akan sibuk di acara hari anak-anak itu.

Pj Walikota sendiri saat rapat itu, sedang dalam perjalanan ke Makassar. Tiba di Makassar setelah rapat selesai, dan Iqbal kabarnya langsung menemui gubernur.
Sebenarnya memang ada yang tidak dilakukan sebelum rapat dimulai.

Mestinya Sekda Makassar menyampaikan ke Sekda Sulsel soal posisi Pj Walikota saat itu, sehingga Sekda Abdul Hayat Gani bisa memberitahu posisi dimana Pj Walikota berada.

Atau juga Pj Walikota bisa per telepon menyampaikan sendiri ke gubernur. Atau telepon saja ke ajudan gubernur soal halangan hadir di rapat itu.

Kan beres. Tujuannya agar gubernur tak perlu lagi tanya-tanya dimana Pj Walikota.

Gubernur tak perlu lagi marah-marah sampai menjadi konsumsi publik. Sebab hal-hal seperti itu akan menggelinding kemana-mana sebagai bola liar, yang bisa saja jadi bola panas.

Kalau sampai jadi bola panas, maka mungkin saja banyak yang kepanasan. Yang namanya panas bisa saja menjadi ledakan. Dampaknya bisa saja menyebar kemana-mana.

Sebetulnya apa yang terjadi di rapat itu tadi, perlu menjadi pelajaran.

Mungkin juga perlu dibuatkan SOP, biar kesalahan yang sama tak terulang di belakang hari.

Yang pasti, gubernur sebagai pimpinan tidak salah, Pj Walikota juga tak bisa disalahkan, pemberitaan media juga tidak salah.

Yang perlu pembenahan ialah sistem penjadwalan rapat yang dipandang maha penting.

Orang yang mengatur persiapan rapat mestilah cermat dan aktif melakukan komunikasi dengan calon peserta rapat yang diperlukan kehadirannya. Supaya jangan lagi ada nuansa marah-marah, yang dengan mudah diakses publik ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya