CJH Bulukumba Fokus ki Menjaga Spirit Ibadah

15 July 2019 22:33
CJH Bulukumba Fokus ki Menjaga Spirit Ibadah

BugisPos.- Setelah menunaikan shalat sunnah di Masjid Quba, Senin (14/7) pagi, salah seorang Calon Jamaah Haji asal Kecamatan Rilau Ale, meminta kepada pemandu jalan dan sopir bus yang mengangkutnya untuk segera kembali ke hotel tempat menginap para jamaah haji Indonesia.

Padahal, jam di tangan baru menunjukkan pukul 10.15 waktu Madinah. Artinya, shalat zhuhur dilakukan sekitar dua jam kemudian. Lagi pula jarak antara Masjid Quba dan Masjid Nabawi tidak jauh, hanya sekitar tujuh menit menggunakan mobil.

“Tujuan utama kita ke sini untuk ibadah,” ujarnya singkat saat ditanya alasannya. “Belanja kurma dan lainnya bisa dilakukan nanti,” tambah ibu ini, seperti dilaporkan Ust.Muh.Yusuf Shandy kepada BugisPos.com.

Mendengar pernyataan ibu itu, CJH lainnya ikut mendukung dan menyatakan khawatir ketinggalan shalat jamaah zhuhur di Masjid Nabawi.

Menurut Ust.Muh.Yusuf Shandy yang juga bertugas selaku pembimbing ibadah haji daerah, itulah salah satu potret calon jamaah haji Indonesia (CJHI) asal Bulukumba, mereka selalu bersemangat dalam beribadah dan menjaga shalat jamaah mereka, bahkan 30 menit sebelum masuk waktu sholat, seluruh CJH Bulukumba sudah berada di dalam masjid Nabawi.

“Spirit Shalat Arbain di Masjid Nabawi telah menjadi cambuk dan motivasi tersendiri bagi mereka untuk shalat tepat waktu, bahkan sudah mempersiapkan diri untuk shalat, sebelum waktu shalat itu tiba,” sebut Yusuf Shandy melalui jaringan telepon.

Muh.Yusuf menyampaikan dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang shalat di masjid ku ini (Masjid Nanawi) selamat 40 kali berturut-turut, maka dia terbebas dari api, azab, dan kemunafikan.” Walau hadits ini lemah menurut banyak ulama, tapi ia telah menjadi spirit dan motivator bagi para jamaah calon haji, termasuk yang berasal dari Bulukumba,” kata Yusuf Shandy yang juga Ketua BAZNAS Kabupaten Bulukumba.

Spirit shalat jamaah dengan berbagai keutamaannya hendaknya, selalu dibangun dalam hati, dalam diri, dalam keluarga, dan di lingkungan; menjaga ibadah dengan baik. Sehingga dengan begitu, sajadah (dengan berbagai macam pola dan bentuknya) yang dibeli jauh-jauh dari Tanah Haram tak menjadi oleh-oleh haji semata, tapi turut menjadi saksi bahwa pemberi dan pemilik sajadah tersebut gemar menunaikan shalat secara berjamaah di masjid.

Laporan Muhammad Yusuf Shandy dari Masjid Nabawi

Editor H.Suaedy Lantara

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya