Cocoki Tauwwa Jelang ARMUZNA, TPHI Himbau CJHI Sabar dan Disiplin

05 August 2019 11:32
Cocoki Tauwwa Jelang ARMUZNA, TPHI Himbau CJHI Sabar dan Disiplin

 

BugisPos.- Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI) menghimbau para calon jamaah haji Indonesia (CJHI) agar selalu sabar, tertib dan disiplin dalam menjalankan setiap rangkaian ibadah haji.

Demikian disampaikan oleh TPHI dan TPIHI kepada ratusan CJHI asal Bulukumba yang tergabung dalam kloter 6 embarkasi Makassar, Ahad (4/8) lalu.

Ketua Kloter 6 embarkasi Makassar Dr. M. Ashdaq mengatakan, jamaah hendaknya mendahukukan yang wajib atas yang sunnah serta bersabar terhadap keadaan. “Bersabar menghadapi berbagai kesulitan dan kekecewaan yang akan dirasakan,” harapnya.

Pihaknya menjelaskan, bahwa pada puncak pelaksanaan haji nanti akan ada banyak kondisi yang menuntut kesabaran, seperti kemacetan jalan di jalur Makkah – Armuzna (Arafah, Mizdalifah dan Mina) – Makkah, dan jalur menuju Masjidil Haram.

Kendala lainnya adalah dibatasinya jumlah bis yang beroperasi pada jalur Mekah – Armuzna – Mekah, dengan komposisi 21-7-5 kendaraan, serta kepadatan terjadi di mana-mana. “Kepadatan di Arafah dan Mina, di mana tempat per orang hanya dapat 1,1 m di Arafah dan 0,9 m di Mina,” ujarnya.

Selian itu, jelang dan sesudah pelaksanaan haji, akan terjadi penghentian konsumsi sementara. “Penghentian sementara konsumsi akan dilakukan selama lima hari, yakni tiga hari sebelum dan dua hari setelah puncak pelaksanaan ibadah haji. Konsumsi dihentikan pada tanggal 5, 6, 7, 14, dan 15 Dzulhijjah,” bebernya.

Bus shalawat yang selama ini bolak balik mengangkut jamaah dari hotel ke Masjidil Haram dan sebaliknya juga akan dihentikan sementara. “Bis salawat berhenti operasi pada tanggal 6-13 Dzulhijah. Bis ini akan kembali beroperai lagi mulai pada tanggal 14 Zulhijah beroperasi.”

Terkait dengan tarwiyah dan melontar jumrah, M. Ashdaq mengemukakan, bahwa pemerintah tidak mengadakan tarwiyah di Mina karena berbagai pertimbangan. Namun, baik Saudi maupun Indonesia, keduanya tidak melarang bila ada jamaah yang ingin melakukannya, tetapi harus menaati peraturan yang dikeluarkan oleh Kadaker Mekah.

Adapun yang terkait dengan melontar jumrah, alumni Unhas ini megungkapkan, bahwa jarak tempuh antara kemah jamaah dan titik jamarat adalah 5-7 km, pulang balik, semuanya harus ditempuh dengan jalan kaki.

Oleh karena ini, pihaknya meminta aga jamaah yang sepuh atau lemah, cukup dibadalkan saja. “Yang sepuh atau lemah, jangan paksakan diri, lebih baik mewakilkan atau minta bantuan orang lain, atau menjamak lontarnya di hari terakhir nafarnya,” pukasnya.

Makkah, 4 Agustus 2019
Laporan Muhammad Yusuf Shandy

Editor H.Suaedy Lantara

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya