Kisah na Tomanurung Bira

12 August 2019 11:50
Kisah na Tomanurung Bira
Illustrasi.

BugisPos  —  Kisah sejarah daerah ini diawali dengan kedatangan seorang Tomanurung yang datang melalui sebuah pohon keladi raksasa yang dalam Bahasa setempat disebut Pacco “Balira” dan kemudian Tomanurung tersebut digelar Manurunga ri Bira. Diperkirakan terjadi sekitar akhir Abad XII.

Kedatangannya lalu disambut gembira oleh masyarakat asli setempat yang saat itu dipimpin oleh seorang Ketua Kaum yang digelar Tolaki.

Manurunga ri Bira, lalu memperistrikan putri Tolaki dan menurunkan dua orang putera yaitu :

01. Batara Bira
02. Batara Bulu

Batara Bira sebagai putera sulung menggantikan kedudukan Manurunga ri Bira. Dari perkawinannya dengan Karaeng Beroanging menurunkan 7 orang anak, masing-masing 6 putera dan seorang puteri, yaitu masing-masing

01. Karaeng LoE ri Bira, Karaeng Bira I
02. Karaeng LoE ri Bentang, Karaeng Sudiang I
03. Karaeng LoE ri Katingan
04. Karaeng LoE ri Karampuang
05. Karaeng LoE ri Barasa
06. Karaeng LoE ri BululoE
07. Karaeng Nipakocci ri Pao-pao

Karaeng LoE ri Bira akhirnya menggantikan ayahandanya Batara Bira sebagai Raja Bira dan adiknya Karaeng LoE ri Bentang mendirikan Kerajaan Bentang yang kemudian berubah nama menjadi Sudiang sekaligus sebagai Raja Bentang (Sudiang) yang pertama.

Di awal sudah kami tuliskan bahwa Bira berasal dari nama pohon talas/keladi raksasa atau dalam bahasa Makassar disebut “Pacco Balira”.

Diambil untuk menjadi nama kerajaan ini, karena Manurunga ri Bira, datang secara misterius dan ditemukan oleh masyarakat setempat sedang duduk di atas selembar daun talas (keladi) beralaskan selembar cindai (bendera) bergambar harimau putih.

Dari kejadian itu akhirnya disebutkan bahwa nama daerah tersebut adalah BIRA mengambil dari nama jenis pohon talas tempat kedatangan Tomanurung, yaitu Balira yang kemudian berubah bunyi menjadi Bira.

Bendera bergambar harimau yang menjadi alas Tomanurung di atas daun talas itu lalu menjadi “Kalompoang” (simbol kebesaran) Kerajaan Bira yang digelar “Macang Keboka”.

Bendera “Macang Keboka” tersebut oleh Karaeng LoE ri Bira diserahkan kepada Karaeng LoE ri Sero, Raja Tallo I ketika Raja Bira menyatakan perhambaannya di bawah kekuasaan Tallo sekaligus menempatkan kerajaannya sebagai bagian dari Kerajaan Tallo dan kemudian mengundurkan diri dan memegang jabatan sebagai Dampang ParangloE di bawah kekuasaan Tallo.

Di Kerajaan Bira lah Dato ri Bandang pertama kali tiba yaitu di suatu pelabuhan yang disebut “Turungang Berasa” dan oleh Raja Bira yang ketika itu bernama Baso Daeng Pabeta (Raja Bira VIII) mengantarkannya menemui I Mallingkaan Daeng Mannyonri Raja Tallo untuk menyampaikan misi kedatangannya.- R/@ly –

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya