Oleh : Usdar Nawawi

Nurdin Abdullah Dizalimi

19 August 2019 16:01
Nurdin Abdullah Dizalimi
Nurdin Abdullah

BugisPos – Perjalanan Nurdin Abdullah dalam 11 bulan menjadi gubernur pilihan rakyat memimpin Sulawesi Selatan, ternyata tak semulus sebagaimana yang diharapkan oleh rakyat di daerah ini.

Di bulan ke delapan kepemimpinannya di Sulsel, diapun digoyang sedemikian kencang.

Ibarat Nurdin Abdullah sedang di atas pohon, lalu pohon itu sengaja ditebang agar mantan bupati Bantaeng dua periode ini jatuh tersungkur meskipun tanpa kesalahan.

1,8 juta rakyat Sulsel yang memilih Nurdin Abdullah sehingga naik ke tampuk pemerintahan, bisa jadi hari ini pada menangis tersedu.

Bagaimana mereka tak menangis, bila pemimpinnya sedang dizalimi, bahkan berusaha dimakzulkan.

Berusaha dijatuhkan dari jabatan gubernur. Padahal putra keturunan Raja Bantaeng ini tengah sibuk-sibuknya membangun infrastruktur jalan yang menghubungkan daerah-daerah terpencil. Sibuk membangun tiga rumah sakit regional di tiga daerah.

Andaikan nantinya Nurdin Abdullah jatuh akibat pemakzulan itu, maka pasti tiga rumah sakit regoinal lainnya yang menyusul akan dibangun, akan gagal total. Belum lagi program pembangunan fisik lainnya, yakni jalur kereta api, pelebaran jalan dari Gowa ke Sinjai, semuanya dapat dipastikan akan terhenti.

Begitu mudahnyakah Nurdin Abdullah dijatuhkan? Kesalahan seperti apakah yang dilakukan oleh putra terbaik yang dilahirkan di Pare-pare dari keluarga Tentara ini?

Jutaan rakyat Sulsel tentu tak habis pikir, seperti apa gerangan penyimpangan yang dilakukan Nurdin Abdullah.

Hari ini jutaan rakyat tentunya bisa terisak akibat dagelan politik yang dimainkan pihak tertentu di kampung sendiri ini.

Benarlah apa yang sering saya katakan pada teman-teman di warkop, bahwa kita di Sulsel ini masih saja memelihara budaya Panjat Pinang.

Coba saja amati lomba Panjat Pinang di Agustusan yang kini tengah berlangsung. Yang duluan naik ke atas mengambil hadiah, pasti akan ditarik turun oleh yang ada di bawah. Bahkan bila sudah jatuh ke bawah akan diinjak pula.

Gubernur Nurdin dalam menghadapi upaya pemakzulan itu, tentu saja berharap do’a dari jutaan rakyat Sulsel yang kini dipimpinnya. Mereka tentu meyakini Nurdin Abdullah tak bersalah.

Orang-orang yang mencoba menjatuhkannya, semata beralasan sebab mencopot beberapa pejabat Sulsel tanpa melalui prosedur.

Padahal memang untuk pejabat yang bersalah, apalagi menyangkut uang, itu tak perlu melaui prosedur yang panjang.

Yang terpenting ada bukti penyimpangan keuangan maka secepatnya memang mesti dicopot, agar aksi-aksi penyimpangan itu tidak berkepanjangan yang merugikan rakyat.

Apalagi dalam hal mengganti pejabat itu adalah hak proregatifnya Gubernur.

KPK juga merekomendasi agar menjatuhkan sanksi pada pejabat yang merugikan keuangan negara. Itu demi langkah pencegahan korupsi yang memang seharusnya dilakukan.

Terkait persoalan SK pejabat yang diteken Wagub Andi Sudirman Sulaiman, itu juga sudah selesai masalahnya. Kemedagri sudah menyelesaikannya.

Dan kenapa pula justru Nurdin Abdullah yang diganjar Pemakzulan?

Ini semua menjadi pertanyaan panjang dalam sejarah di negeri ini. Bahwa ada gubernur yang berupaya dijatuhkan dengan mencari-cari sejumlah alasan yang sesungguhnya tak masuk akal dan tak mendasar.

Tetapi itulah fakta di negeri tercinta ini, pemimpin yang jujur dan berdedikasi tinggi malah berupaya dijatuhkan. Dizalimi.

Padahal banyak pemimpin yang kurang baik, korup, bahkan kurang perhatian atas kepentingan rakyat, malah dipelihara baik-baik.

Apakah itu tak berarti adalah persekongkolan jahat?

Bahwa kejahatan memang selalu dibenci banyak orang, tetapi juga dapat dipelihara oleh segelintir orang demi menjatuhkan orang baik.

Dan celakanya, gaya seperti itu malah digunakan dalam perpolitikan demi menjatuhkan seseorang.

Bila memang ternyata kemudian Nurdin Abdullah dijatuhkan dari jabatannya, maka bukan hanya keluarga dan para sahabatnya yang menangis, tetapi jutaan rakyat di Sulsel akan menitikkan air mata.

Itu karena Nurdin Abdullah dijatuhkan tanpa dasar dan alasan yang kuat.
Nurdin Abdullah tidak korup, tidak melakukan tindakan yang merugikan keuangan negara, juga tidak mengganggu istri orang, tapi mengapa dia berupaya dijatuhkan.

Begitu kasarnyakah dunia politik kita di Sulsel ini? Begitu sakitnyakah mereka yang kalah di Pilgub itu tahun lalu? Atau mungkin saja ada yang menggunting dalam lipatan?

Entahlah. Biarkan saja rakyat di Sulsel yang menilai, memilah-milah siapa yang salah dan siapa yang benar.

Jabatan itu rezeki dari Tuhan, dan rezeki itu rahasia Tuhan. Hanya Tuhan yang memastikan apakah Nurdin Abdullah jatuh, atau malah semakin kokoh di kursi Gubernur.  ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya