Oleh : Usdar Nawawi

Pj Wali Kota, Media dan Hoax

06 October 2019 08:40
Pj Wali Kota, Media dan Hoax
Usdar Nawawi

 

BugisPos — Pj Wali Kota yang saya maksud pada judul tulisan ini, adalah Pj Walikota Makassar DR Iqbal Samad Suhaeb. Sedang yang saya maksud dengan media, adalah media pers sesuai yang diatur oleh Undang-undang Pokok Pers No.40/1999. Jadi bukan media sosial (medsos) ataupun media lainnya diluar media pers. Sedangkan yang saya maksuskan dengah hoax, adalah kabar bohong yang selama ini begitu banyak mewarnai media soal, misalkan facebook, WhatsApp, twitter, dan lain-lain.

Pada Temu Wartawan Media Online, Cetak dan Eletronik plus OPD lingkup Pemkot Makassar yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kota di hotel Arthama Jl.H.Bau Makassar akhir September 2019 lalu, Pj Walikota Makassar Iqbal Suhaeb mengajak praktisi Media untuk bersikap netral dan memerangi Hoax atau kabar bohong yang berseliwerang di se antero medsos.

Pj Walikota minta Media bersatu dan jangan mau dijadikan alat oleh sebahagian orang yang mempunyai kepentingan tertentu. Sebaiknya media harus menyatukan pendapat untuk menangkal berita hoax, utamanya yang menyangkut keamanan dan stabilitas nasional. Iqbal menyebut peran media massa sangat penting untuk menyajikan informasi yang berimbang, faktual, dan mendidik bagi khalayak. Media menjadi rujukan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi.
Bahwa apa yang dikemukakan Pj Walikota Makassar ini, sesungguhnya adalah merupakan tantangan bagi jajaran media pers di Makassar khususnya, dan di Sulsel pada umumnya.
Bahwa media jangan pernah menjadi alat provokasi dengan menggunakan kabar bohong. Bahwa media haruslah netral dan objektif dalam mempublis sebuah berita. Bahwa media harus melakukan rechek, konfirmasi, dalam produk pemberitannya, sehingga dapat tersaji secara berimbang.
Hal itu tentu saja terkait erat dengan berita sosial kontrol, kritikan, atau masukan kepada pihak-pihak terkait, termasuk masukan kepada pihak pemerintah, agar pemberitaan yang muncul bisa menyejukkan, bisa menjadi penyeimbang, dan bisa menjadi obor penerang di saat suasana kegelapan.
Dengan membahananya kabar bohong atau hoax di tengah masyarakat, yang tentu saja tidak lain melainkan disebarkan melalui media sosial (medsos) oleh orang-orang atau pihak tertentu, adalah menjadi pekerjaan rumah yang sungguh maha berat bagi jajaran media pers.
Masalahnya, setiap berita hoax yang muncul di medsos, sumber beritanya menjadi sangat sulit dideteksi tanpa peralatan khusus yang mampu melacak sumber berita atau gambar-gambar hoax.
Yang punya peralatan cangguh untuk melacak kabar-kabar bohong tersebut, hanyalah pihak kepolisian. Kewenangan melakukan pelacakan atas kabar bohong tersebut adalah juga menjadi kewenangan dan tanggung jawab pihak kepolisian.
Bagi jajaran media pers dalam memerangi berita hoax, paling hanya sebatas melalukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang diketahui membuat berita bohong itu. Itupun bila sumber kabar bohong itu mampu dijangkau dengan peralatan konvensional.
Intinya, dengan semakin merajalelanya kabar bohong dimaksud, jajaran media pers sesungguhnya memiliki keterbatasan, terutama pada soal fasilitas media yang dimiliki. Artinya, memerangi kabar bohong bagi jajaran media, tak semudah membalik telapak tangan. Bukan hanya sekali bersin maka didapatlah sumber kabar bohong itu. Tidak !
Namun demikian, kita semua tentu mengapresiasi kegalauan Pj Walikota Makassar terhadap virus hoax yang semakin menjadi-jadi itu. Kegalauan Pj Walikota sesungguhnya juga adalah kegalauan bersama media pers dan masyarakat. Sebab sesungguhnya kita semua pasti muak pada setiap disuguhi berita hoax. Siapa sihh yang mau dan rela dibohongi?
Bahwa kencangnya berita hoax di tengah masyarakat, sesungguhnya karena masyarakat kita juga yang turut andil di dalamnya. Faktanya, begitu muncul berita hoax, tanpa mencermati kebenarannya masyarakat medsos kita lansung-lansung saja menshare kemana-mana. Langsung saja meneruskan kemana-mana, dan biasanya jadilah berita hoax itu viral di medsos. Dan masyarakat lantas menerimanya sebagai sebuah berita yang benar, yang betul, padahal itu adalah berita bohong belaka.
Pertanyannya, mampukah kita semua memberitahu masyarakat yang terlanjur mengirim berita bohong itu kemana-mana? Mampukah kita semua mencegahnya? Sungguh bukan pekerjaan gampang. Mari kita renungkan bersama ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya