Oleh : M. DAHLAN ABUBAKAR 

PSM Makassar, Club Paling Matowa di Indonesia

03 November 2019 01:19
PSM Makassar, Club Paling Matowa di Indonesia
Ramang

 

BugisPos – Pada tanggal 2 November 2019, saya mengenakan baju PSM, yang merupakan hadiah dari rekan Andi Widya Syahzwina, duet saya dalam menulis buku “SEABAD PSM MENGUKIR SEJARAH” yang kini siap naik cetak. Hari itu, dua yang berulang tahun, PSM yang ke-104 tahun dan cucu pertama Muhammad Syahrizal yang akrab disapa Reza, berusia 19 tahun.

Saya tidak mengomentari ulang tahun cucu, tetapi lebih memfokuskan menjejer prestasi PSM selama kehadirannya di blantika persepakbolaan tanah air sejak lahirnya 1915 hingga 2019 ini.

PSM Makassar berdiri tahun 1915 dan termasuk klub tertua di Indonesia. Sejarah awal berdirinya klub sepak bola ini, saat Hindia Belanda menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan di Indonesia Timur. Kala itu, Makassar terkenal dengan nama Bandar Makassar, pusat pelabuhan Indonesia. Berbagai kapal asing menjadikan Bandar Makassar sebagai pusat pelayaran mereka, sementara kapal-kapal domestik menjadikan Bandar Makassar sebagai tempat persinggahan menjual rempah-rempah dan hasil buminya ke kapal-kapal asing.
Kegiatan yang bertaraf internasional itu pun ikut memengaruhi masyarakat Makassar mengenal olahraga sepakbola yang sangat digandrungi di seluruh dunia. Tepat tanggal 2 November 1915 resmi berdiri sebuah klub sepakbola di Makassar bernama Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) yang kemudian di belakang hari menjelma menjadi PSM Makassar.

Pada masa itu, MVB terdiri atas gabungan pemain sepakbola dari jajaran elite Belanda dan pribumi Makassar Indonesia, juga dari kalangan Tionghoa. Dua pemainnya yakni Sagi dan Sangkala sangat terkenal dan menjadi pembicaraan hangat hingga di luar negeri. Beberapa kali MVB mendapatkan undangan bermain di luar negeri untuk pertandingan persahabatan.
Pada tahun 1922, sepakbola di Makassar ternyata berkembang cukup pesat. Ada 4 divisi di MVB waktu itu. Pada sebuah klub sepakbola kala itu, umumnya memiliki kesebelasan lebih dari satu divisi. Pada bulan Juni 1922, MVB mengadakan sidang memilih pengurus baru. Pemilihan pengurus dilakukan secara langsung. Dalam susunan kepengurusan yang baru tersebut, komposisi yang terbentuk cukup mewakili masyarakat saat itu yakni Eropa, Tionghoa, dan pribumi.

Pada tahun 1926-1940 beberapa klub di berbagai wilayah Indonesia sudah mulai terbentuk seperti di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Jawa. Pada tahun itu pula masa keemasan bagi klub MVB. Sangkala yang merupakan pemain andal MVB tercatat sebagai promoter pertama klub binaan Hindia Belanda ini. Sejumlah klub di Indonesia mengundang klub MVB untuk pertandingan persahabatan dan resmi. Saat itu kemenangan demi kemenangan diraih oleh Sangkala dan kawan-kawan. Klub ini pun menjadi kesebelasan yang disegani sepanjang pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa di Indonesia.

Pada tahun 1942, saat Jepang masuk ke Indonesia hingga ke Makassar, nyaris tidak ada aktivitas sepakbola. Semua hal yang ‘berbau’ Belanda dilenyapkan oleh Jepang. Peraturan dari Jepang inilah yang membuat putra-putra Makassar langsung mengubah nama MVB menjadi Persatuan Sepakbola Makassar atau yang lebih dikenal dengan PSM Makassar.

Meski berada di bawah tekanan Jepang, namun putra-putra Makassar terus menjalankan aktivitas berlatih sepakbola dan membesarkan nama PSM Makassar, hingga akhirnya Jepang meninggalkan Indonesia setelah takluk atas sekutu pasca pengeboman oleh Amerika di Hiroshima 6 Agustus 1945 dan menewaskan 90.000-146.000 jiwa dan Nagasaki 9 Agustus 1945 yang membunuh 36.000-80.000 jiwa. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang pun menyerah dan Indonesia pun merdeka dua hari kemudian, 17 Agustus 1945.

Ketika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berdiri tahun 1930 dalam usianya ke-70 tahun (2000), sama sekali tidak menyebut Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) sebagai salah satu klub tertua di Indonesia. Itu wajar-wajar saja. Sebab, PSSI lahir dan terbentuk justru dipicu oleh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang mempertemukan tokoh-tokoh pemuda dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Minahasa, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, dan lain-lainnya. Ketika PSSI berdiri, MVB yang kemudian mereinkarnasi diri menjadi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) sudah lebih dulu lahir 15 tahun sebelumnya.

Oleh sebab itu, tidak salah jika disebutkan PSM merupakan kesebelasan sepakbola tertua di Indonesia. Tidak jelas siapa yang menginisiasi hingga terbentuk Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) 2 November 1915 itu. Lahirnya PSM pada tahun ini pun ada yang menyebut tidak pas benar. Salah seorang teman yang bekerja di media online Jakarta menyebut, seorang berkebangsaan Belanda menyebutkan, PSM sebenarnya lahir tahun 1916. Tetapi angka itu tidak dikenal luas. Jika pun benar, tetap saja MVB yang kemudian dikenal sebagai PSM hingga kini, masih merupakan klub perserikatan tertua di republik ini. Dan, selalu diperingati 2 November 1915.

Ramang Bintang Pemain Legendaris

Melihat kelahirannya, boleh jadi MVB bersama sejumlah bonden (klub) yang ada di bawahnya telah lebih dahulu berkembang dan berprestasi secara lokal di Makassar. Memang di beberapa kota pasca-Sumpah Pemuda berdiri klub sepakbola antara lain Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM) di Yogyakarta, Voetbal Indische Java? (VIJ), Bandung Indische Voetbal Bond (BIVB) di Bandung, mengikuti dua klub atau bond yang lahir 1927, yakni VVB di Surakarta dan Soerabaia Indische Voetbal Bond (SIVB) di Surabaya. Dalam catatan ini, MVB sama sekali tidak termasuk di antara sejumlah bond yang lahir bersama-sama dengan bond-bond tersebut, meski MVB jauh lebih awal terbentuk di Makassar.

Kelahiran MVB sebagai salah satu organisasi klub sepakbola tertua di Indonesia tentu tidak dapat dilepaskan latar belakang dan akar budaya Bugis Makassar, terutama yang terkait dengan jenis permainan rakyatnya. Di dalam masyarakat dikenal dengan permainan raga, yakni sejenis aktivitas yang mengandalkan keterampilan khusus mengolah “bola” yang terbuat dari rotan yang dianyam.

Permainan raga bagi olahraga sepakbola dapat diidentikkan dengan peran olahraga atletik bagi seorang atlet. Dua skill pada dua cabang aktivitas olahraga yang berbeda ini akan memberikan akumulasi positif bagi pembentukan sosok seorang pemain bola yang baik. Ramang adalah sosok yang memiliki kombinasi dua keterampilan ini. Keterampilan bermain raga yang diperoleh dari ayahnya, Nyo’lo, ikut menunjang kecepatan larinya yang selalu orang katakan melaju laksana seekor kijang. Kemampuan lari tersebut dia miliki dan merupakan hasil latihan fisik yang sangat keras.

Lahir Banyak Klub

Kehadiran kesebelasan MVB boleh jadi dibidani oleh beberapa pemain keturunan Tionghoa yang bergabung dalam kesebelasan-kesebelasan Nang Hwa dan Chung Hwa yang menjuarai Puasa Beker (Piala Ramadan) lima tahun setelah MVB lahir, tepatnya pada tahun 1920. Sebuah foto yang dibuat pada tahun itu memperlihatkan tim juara itu bergambar bersama di lapangan Karebosi. Salah seorang yang bermain di klub Chung Hwa itu adalah ayah dari Piet Tio (Rahmat Jaya), almarhum. Piet Trio bermain di klub PSM se-angkatan dengan Keng Wie (Budi Wijaya) dan juga Ramang.

Selain dua klub warga Tionghoa itu, di Makassar muncul klub-klub lain. Pada tahun 1960-an atau di era Ramang ada klub seperti Main Oentoek Sehat (MOS), Minaesa, klub Bintang Timur, Nang Hwa, Chung Hwa, Excelsior, PIOS, Jong Ambon, Ikatan Sepakbola Angkatan Perang (ISAP) dan Persatuan Sepakbola Angkatan Darat ( PSAD). Di belakang hari muncul klub-klub Perseka, Libra, Persatuan Olahraga Polisi (POP), aneka Gas dan Industri (AGI), Bangau Putra, Penata, Persatuan Sepakbola Angkatan Laut (PSAL), Indonesia Muda, Makassar Satu, Estetika, Diklat, Anyelir, Swadiri, Beringin, dan Spiral.

MVB sendiri menurut catatan Kompas (21 Februari 1992) menampilkan para pemain bumiputera di jajaran elite persepakbolaan Hindia Belanda seperti Sagi dan Sangkala sebagai pemain andal yang ketika itu disegani oleh pemain Belanda. Ada juga pemain bernama Daeng Matinri dan AH Mustafa, dua sosok bumiputra lainnya yang namanya meroket sebagai wasit terkemuka di seantero wilayah timur Hindia Belanda.

Pada tahun 1925-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dalam maupun luar negeri seperti kesebelasan dari Hongkong, Korea, dan Australia. Pertandingan yang dilakoni MVB di dalam negeri di antaranya di daerah Jawa, seperti menghadapi Quick, Excelcior, HBS, dan klub dari Sumatera, Borneo, dan Bali. Sedangkan pertandingan dilakoni MVB dari luar negeri adalah melawan kesebelasan dari Hongkong dan Australia.

Pada usianya ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB ditangkap. Pemain-pemain pribumi dijadikan romusa, dan sebagian dikirim ke Burma (kini Myanmar). MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepakbola di Indonesia.

Penyerahan kedaulatan kepada Indonesia (1949) berarti terkuburnya negara-negara boneka van Mook, teristimewa Negara Indonesia Timur yang beribu kota di Makassar. Sejalan dengan itu nama MBV telah tamat pula riwayatnya. PSM jadi top organisasi sepakbola di Sulawesi Selatan dan Tenggara yang membintangi wilayah Timur Nusantara.

Sebelum tahun 1950, PSM masih menjadi anggota VUVSI tahun 1949 dan 1950. PSM merupakan tim pertama dari luar Pulau Jawa yang berlaga di turnamen bentukan warga Belanda tersebut.

Udara kemerdekaan ikut memberi napas baru bagi PSM. Tahun 1950, PSM mulai mengadakan ekspansi ke Pulau Jawa menjalin hubungan dengan PSSI. Bintang-bintang PSM pun bermunculan. Dan yang paling fenonemal adalah Ramang. Bahkan, kehebatan Ramang yang menjadi ikon PSM hingga kini masih tetap jadi legenda dan tercatat indah dalam sejarah persepakbolaan nasional. Roh dan semangat Ramang pula yang tetap ada dan hidup di tubuh PSM dan membuat kesebelasan ini kerap dijuluki Pasukan Ramang.

Roda kompetisi PSM mulai berjalan baik dan teratur (1947) bertepatan dengan bergabungnya seorang anak desa dari Barru yang memiliki bakat alam yang luar biasa, Ramang. Lelaki ini yang kemudian menjadi terkenal di seantero tanah air dan dijuluki federasi sepakbola dunia, Federation International Football Assosiation (FIFA) dalam laman resminya 26 September 2012 sebagai inspirator sepakbola Indonesia era 1950-an. Pengakuan FIFA tersebut pertama diberikan kepada seorang pesepakbola Indonesia hingga kini.
PSM mulai mendapat kunjungan pertandingan persahabatan (friendly game) dari kesebelasan China Olympic Football Team (COTF) dan disusul oleh tamu-tamu dalam negeri seperti kesebelasan dari Surabaya (HBS, Excelsior, Tionghoa dan Marine). Serta sekali lagi kedatangan kesebelasan COFT dari Hongkong pada tahun 1946.

Era PSM tahun 1950-an dengan bintangnya Ramang oleh Federasi Sepakbol Internasional, FIFA, dalam lamannya 26 September 2012, disebut sebagai era kebangkitan sepakbola Indonesia. Dan, Ramang disebut sebagai inspirator sepakbola Indonesia. Pengakuan ini, pertama kali diberikan FIFA pada pemain Indonesia selama ini. 

Enam Kali Juara, 11 Kali Runner up Tanpa Degradasi

PSM sejak dulu dikenal sebagai tempat lahirnya pemain-pemain sepakbola muda dan berbakat. Pemain-pemain tersebut masuk dalam tim nasional Indonesia. Dari Makassar di antaranya Sunardi Arlan yang kemudian di tim nasional digantikan Ramang, Suwardi Arlan, Noorsalam dan Maulwi Saelan. Fattah Hidayat, Sahruna, Rasyid Dahlan, Faisal Yusuf, Ilyas Haddade, Santja Bachtiar, Harry Tjong, M.Basri, Suaeb Rizal, Andi Lala, Ronny Pattinasarany, dan sebagainya, Para pemain itu muncul dan berjaya pada era tahun 1950-1970-an. Dalam sejarah PSSI pernah memiliki tiga pemain belakang yang sangat tangguh berasal dari PSM, yakni Sunardi Arland, Santja Bachtiar, dan Ilyas Haddade.

“Pemain sepakbola yang berasal dari Makassar ini tumbuh dan dibesarkan dalam ciri khas sepakbola Makassar yang dikenal keras, lugas, dan pemberani. Sebuah gaya permainan sepakbola dari tradisi lapangan Karebosi, “tulis Kompas, 21 Maret 1992.

PSM pertama kali menjadi juara perserikatan tahun 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan pada partai final yang digelar di Medan. Sejak itu PSM yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur menjadi kekuatan baru sepakbola Indonesia.

Dalam kiprahnya, PSM telah memenangi 6 kali juara kompetisi nasional, di antaranya lima kali juara PSSI Perserikatan dan satu kali juara liga. Sekali juara Piala Soeharto (1974) belum termasuk juara Piala Syarnoebi, Piala Wali Kota Ternate, dan terakhir Piala Presiden (2019). Selain itu, tercatat 10 kali tercatat sebagai juara II kompetisi nasional dan sekali juara I Piala Bangabandhu di Bangladesh.

PSM menjuara Jusuc Cup 7 kali, Habibie Cup 4 kali, Ho Chi Minh Citu Vietnam (2000/2001),

Jika dirinci, inilah prestasi lengkap PSM selama kiprahnya:
1.1951- Runner Up
2.1952 – Tidak ikut
3.1953 – Peringkat III
4.1954 – Peringkat V

Perserikatan, Liga Indonesia dan Liga Champion Asia
1. 1957 – Juara
2. 1959 – Juara
3. 1959-61 _ runner up
4. 1961 – Runner up
5. 1965 – Juara
6. 1966 – Juara
7. 1992 – Juara
8. 1994 – Runner-up 1.
9. 1994/1995 – Posisi ke-10, Wilayah Timur
10. 1995/1996 – Runner-up
11. 1996/1997 – Semifinalis
12. 1997/1998 – dihentikan
13. 1998/1999 – 8 Besar
14. 1999/2000 – Juara
15. 2001 – Runner-up
16.. 2002 – Semifinalis
17. 2003 – Runner-up
18. 2004 – Runner-up
19. 2005 – Posisi ke-2 Wilayah Timur, Finalis 8 Besar
20. 2006 – Posisi ke-4 Wilayah Timur, Finalis 8 Besar
21. 2008 – Posisi ke-1 Wilayah Timur (paruh musim)
22. 2017 – Runner up
23. 2018 – Runner up

Akumulasi prestasi PSM:
Liga Domestik
Kompetisi Perserikatan (1951-1994), Divisi Utama (1994-2008), LSI (2008-2010), LPI (2011-2013), LSI (2014-2016):
Juara (6): 1956–57, 1957–59, 1964–65, 1965–66, 1991–92, 1999–2000
Runners-up (10): 1951, 1959–61, 1964, 1993–94, 1995–96, 2001, 2003, 2004, 2017,2018.

Tempat III (1): 2011
Semi-final (2): 1996–97, 2002
Piala Domestik
Jusuf Cup
Juara (7): 1965, 1967, 1975, 1978, 1980, 1984, 1999
Soeharto Cup
Juara (1): 1974
Habibie Cup
Juara (4): 1993, 1995, 1996, 1997
Piala Indonesia 2018 (1), 2019.
Piala Winners Asia
Perempat-final (1): 1997–1998
Liga Champions AFC
Perempat-final (1): 2000–2001
Internasional
Ho Chi Minh City Cup Juara (1): 2001
AFC Champions 2019, perempat final
Piala Presiden 2019.
Hanya satu yang kurang di balik jejeran prestasi yang diraih itu, sampai kini PSM belum memiliki stadion ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya