Media dan Pembohongan Publik

07 November 2019 09:47
Media dan Pembohongan Publik
Dahlan Abubakar (Wartawan Senior)

Oleh : Dahlan Abubakar

 

BugisPos — Pembohongan publik merupakan salah satu sisi yang kerap menimpa pekerja media massa, baik cetak maupun elektronik serta media daring (online). Di luar negeri berita yang bersifat pembohongan publik terjadi pada dua media raksasa Amerika. Begitu pun di dalam negeri, juga menimpa dua media, yakni Jawa Pos dan Rakyat Merdeka.

Jayson Blair, pria Afro American berusia 27 tahun telah dipecat oleh The New York Times, koran yang sudah berusia 100 tahun di Amerika karena kasus pembohongan publik. Pada tahun 2003, Blair menurunkan satu berita bohong dengan mewawancarai narasumber palsu mencontek laporan-laporan media lokal, kemudian menyiarkan melalui The Times.

Kedok Blair terbongkar ketika dia menulis tentang Jesica D.Lynch, seorang tentara perempuan Amerika yang tertawan tentara Irak saat AS menyerbu negara itu tahun 2003. Ketika laporan itu dimuat di Times, April 2003, sebuah surat kabar di Texas mencurigai laporannya. Koran Texas itu menuduh bahwa laporan di Times itu merupakan jiplakan dari laporan wartawan mereka, Berita menjadi viral di media cetak AS dan kredibilitas Times langsung anjlok.

Investigasi internal yang dilakukan The Times membuktikan bahwa Blair tidak pernah datang ke tempat keluarga Lynch tinggal. Ia juga tidak pernah tercatat pernah tinggal di hotel kota itu. Dan, tidak pernah mendatangi keluarga Lynch atau menelepon sekalipun.

The Times juga menginvestigasi terhadap 73 artikel yang pernah ditulis Blair sejak Oktober 2002 hingga 11 Mei 2003. Hasilnya cukup mencengangkan. Dari 73 artiket tersebut, 10 di antaranya berita bohong.

Kasus serupa juga melanda The Washington Post, koran bergengsi yang pernah menjatuhkan Presiden AS Richard F.Nixon pada awal tahun 1970 gara-gara skandal Watergate. Adalah wartawati Janet Cooke, menurunkan satu berita yang memilukan tentang seorang anak yang pecandu obat bius.

Kisah yang dikemas Cooke ini menarik perhatian para juri Pulitzer, hadiah jurnalisme bergengsi di AS, dan mengganjarnya dengan hadiah Pulitzer pada tahun 1982.

Belakang ketahuan bahwa berita tentang anak pecandu obat bius itu bohong belaka. Janet Cooke sendiri mengaku kemudian mengembalikan hadiah Pulitzer yang sudah di tangannya. Cooke akhirnya dipecat.
Di Indonesia, kasus berita bohong pun pernah terjadi. Seorang wartawan Jawa Pos menurunkan berita hasil wawancara dengan Nur Aini, istri Dr.Azahari Husin, gembong teroris asal Malaysia yang tewas ditembak polisi dalam penggerebekan di Batu Malang, tahun 2005. Wartawan itu menurunkan wawancara melalui telepon dengan istri Azahari. Dalam wawancara itu Nur Aini digambarkan dengan suara yang terdengar menahan isak tangis. Pada alinea lain ditulis, digambarkan suara Nur Aini yang lirih dengan logat Melayu yang kental.

Namun sial bagi wartawan tersebut, pada saat yang hampir bersamaan, satu stasiun televisi menurunkan berita yang menayangkan Nur Aini. Wawancara stasiun televisi itu hanya bisa dilakukan dengan tulisan tangan. Ternyata perempuan Nur Aini tidak bisa berbicara seperti yang digambarkan wartawan Jawa Pos tersebut. Tim Ombusmen Jawa Pos juga menginvestigasi ke kantor Telkom dan tidak menemukan data percakapan telepon antara sang wartawan dengan si Nur Aini. Wartawan tersebut akhirnya mengaku, wawancara itu memang tidak pernah dia lakukan. Dia akhirnya dipecat.

SEMBILAN ELEMEN JURNALISME BILL KOVACH

Bill kovach dan Tom Rosentiel pada tahun 2003 membagi jurnalisme ke dalam sembilan elemen.

1). Kewajiban pertama Jurnalisme adalah pada kebenaran. Kebenaran berita adalah pada fakta dan informatif. Kebenaran itu harus dapat dibuktikan.
2). Loyalitas pertama Jurnalisme pada warga. Artinya, jurnalis itu melayani kepentingan umum, bukan kepentingan kelompok tertentu.
3). Intisari Jurnalisme adalah Disiplin verifikasi. Maksudnya, tidak boleh ada berita yang melibatkan pihak kedua tanpa ada verifikasi dan konfirmasi. Ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan the bost side coverage (peliputan kedua sisi) atau check and re-check yang dituntut kode etik jurnalistik.
4).Wartawan harus independen dari pihak yang mereka liput. Maksudnya, wartawan tidak boleh menunjukkan sikap mendukung satu pihak yang menjadi sumber berita. Independen di sini dimaknai bebas dan merdeka, namun di dalamnya termaktub bebas dan merdeka menjatuhkan pilihan. Supaya tidak memihak, wartawan harus netral.
5). Jurnalisme adalah pemantau kekuasaan. Elemen jurnalisme ini menempatkan media sebagai pilar keempat kekuasan, setelah eksekutif, legislatif,dan yudikatif. Oleh sebab itu, jurnals harus membebaskan diri dari pengaruh dan keterikatan dengan tiga pihak tersebut.
6). Jurnalisme harus menghadirkan sebuah forum untuk kritik dan komentar publik. Contoh praktik elemen ini adalah acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVONE. Di ajang ILC orang boleh mengkritik dan menghadirkan komentar masyarakat luas.
7). Wartawan harus membuat hal penting menjadi menarik dan relevan. Contohnya wawancara seorang penyiar ABC News, Barbara Wallers dengan Monica Lewinsky, pegawai magang Gedung Putih yang terlibat skandal dengan Presiden Bill Clinton. Kasus itu penting dan menarik serta relevan karena melibat tokoh atay figur publik.
8).Wartawan harus menjaga berita proporsional dan komprehensif. Contoh berita yang tidak proporsional adalah berita dengan judul-judul yang provokatif dan sensasional, tidak ada di dalam isi berita. Bahkan antara judul dengan isi tidak memiliki kaitan sama sekali.
9). Wartawan harus mendengarkan suara hatinya. Memang tidak mudah bagi seorang jurnalis mendengar suara hatinya ketika berhadapan, apalagi menentang atasannya karena mempertahankan prinsip dan berita yang dibuatnya .Bob Woordward dari Washington Post pernah berkata “Jurnalisme yang baik muncul ketika ia menentang manajemennya”.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya