Porei, Dari Saukang Menjadi Mesjid Megah

30 November 2019 09:21
Porei, Dari Saukang Menjadi Mesjid Megah
Mesjid Megah 12 kubah

 

BugisPos — Mesjid 12 kubah begitulah julukan rumah ibadah umat islam yang viral diakhir tahun ini. Dinamakan mesjid 12 kubah karena memang mesjid tersebut memiliki 12 kubah, namun tentu saja itu bukanlah nama yang sesungguhnya karena mesjid ini belum diresmikan sehingga nama juga belum punya.

Dalam Tour Jurnalistik yang dipelopori oleh BugisPos.Com Jumat (29/11/19). Melakukan perjalanan menuju sebuah perkampungan dikaki Gunung Lompo battang tepatnya di Dusun Langkowa Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa.

Dalam kunjungan ini kami sempat menemui pemilik kebun kopi sekaligus pemilik mesjid megah yang dibangun dalam area perkebunannya. Dari hasil wawancara, ditemukan beberapa fakta yang menarik.

Diarea perkebunan itu memang dari dulu sudah sering dikunjungi banyak orang, jauh sebelum mesjid ini dibangun. Kunjungan masyarakat sebelum mesjid ini ada, sangat berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Dulu orang-orang datang kesini dengan membawa sesajen, tentu sangat berlawanan dengan syariat.

Johan putra dari Puang Busli Saraka mengatakan, “Jadi sebelum kami membangun masjid ini dilokasi itu dulunya adalah batu besar yang oleh masyarakat sekitar sering diberi sesajen.

Dari pihak keluarga berinisiatif menjadikannya sebagai mesjid untuk ibadah bagi karyawan.

Pembangunan mesjid itu ternyata sudah lama dikerjakan, yakni pada tahun 2011,  hingga saat ini mesjid ini masih dalam tahap penyelesaian. Keberadaan mesjid ini disambut dengan sangat gembira oleh karyawan yang jumlahnya sekitar 25 orang.

“Alhamdulillah mesjid ini sekarang ramai dikunjungi oleh jamaah dari berbagai daerah, dengan melihat keadaan itu kami merasakan kebahagiaan yang luar biasa, karena Puang mampu mengubah kebiasaan orang-orang membawa sesajen menjadi tempat orang-orang dengan membawa sajadah.” kata Usman tokoh masyarakat Langkowa.

“Puang Busli merubah kebiasaan buruk masyarakat sekitar yang sering membawakan sesaji bagi saukang (berhala) untuk mendapatkan barakka (berkah) berganti dengan kebiasaan yang lebih bermanfaat yaitu menggelar sajadah (mesjid) di tempat saukang,” tambahnya.

Sebuah perjalanan hijrah yang luar biasa, tidak mudah mengubah sebuah kebiasaan menuju sesuatu diluar kebiasaan apalagi menyangkut kepercayaan. Tidak mudah menyulap tempat sesajen menjadi tempat sujud beralaskan sajadah. Namun keluarga Puang Busli mampu melakukan hal luar biasa ini tanpa harus menyakiti bahkan disambut gembira oleh warga sekitar.

Sungguh ini adalah dakwah yang luar biasa, konsep dakwah seperti ini sering disebut dengan berkhotbah tapi tidak menceramahi.

Dalam kunjungan BugisPos.Com juga ingin memastikan bahwa ditempat ini sama sekali tidak ada kegiatan-kegiatan yang menyimpan apalagi ajaran-ajaran radikal seperti kekhawatiran banyak orang.

“Semoga kedepannya semakin banyak orang mengikuti jejak keluarga Puang Busli, yang begitu peduli dengan lingkungan dan kepentingan orang banyak. Bahkan menjadikan berhala menjadi tempat orang mendapat pahala,” kunci Usman.

Penulis : Rustam

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya