Catatan Perjalanan (Bagian Pertama)

Ewako, Tour Jurnalistik BugisPos.com di Mesjid 12 Kubah

01 December 2019 19:43
Ewako, Tour Jurnalistik BugisPos.com di Mesjid 12 Kubah
Tim Tour Jurnalistik

 

BugisPos — Pagi itu Jumat 29 November 2019, sang mentari memancarkan sinar kuning keemasan menghangatkan sang ibu pertiwi. Awan tipis seolah bergerak malu-malu mengikuti alunan langkah sang mentari yang seolah tak terusik dengan keberadaan sang awan, dengan mata tajamnya sang mentari memandang kearah sebuah Scoopy yang melaju agak cepat menuju kantor BugisPos.com di Jalan Skarda N 1 nomor 2, Makassar.

Rustam yang akrab dipanggil Mister telah menunggu di ruangan BugisPos.com dengan secangkir teh manis dan hidangan Buroncong Hand Made produksi dapurnya.

Nampaknya pasukan Tour Jurnalistik BugisPos.com telah stay sejak pagi, bahkan Syahrul karena antusiasnya dalam acara tersebut memilih menginap di kantor karena khawatir tidak ikut serta dalam perjalanan jurnalistik.

Deringan Samsung A7 ku tak capek untuk berdering menerima panggilan dari Ibu Direktur Bisnis Pemasaran BugisPos yang juga sejak pagi telah menunggu. Beberapa kali share lokasinya masuk ke HP ku maklumlah takut jangan sampai saya menuju “alamat palsu” hingga nanti “bang Toyib nggak kunjung tiba”. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya “dimana… dimana ? Bukan bermaksud mengplagiat Ayu Ting Ting.
Sambil menunggu Andi Akbar yang membawa armada hasil pinjaman mertuanya, Tim Tour Jurnalistik mengatur strategi perjalanan layaknya strategi tempur Kostrad. Semua titik-titik koordinat persinggahan diatur secara seksama mulai dari menjemput Saniati ( Direktur Bisnis Pemasaran BugisPos), titik singgah shalat Jumat, tujuan akhir hingga yang paling terpenting titik koordinat untuk pengisian bahan bakar untuk tubuh (makan siang).

Pukul 10.30 mungkin lebih sedikit atau kurang sedikit, Tim Tour Jurnalistik yang terdiri dari Wapimred, Arwan D Awing, Redaktur Hukum, Andi Akbar, Redaktur Pendidikan, Rustam Dg. Palallo, Wartawan Pemerintahan Pemprov Sulsel, Syahrul Gunawan serta seorang lagi rekan mahasiswa dari Unismuh berangkat menuju tujuan di mesjid megah tengah hutan yang tengah viral dewasa ini.

Baru lima menit berkendara Ibu Dir (Saniaty) mengirim message lagi kali ini bunyinya “Issengi sallona kodong.” Untuk menenangkan ibu Dir, kamipun berVC ria untuk meyakinkan bahwa kami memang telah menuju kediamannya di Bumi Batara Gowa Blok E 22 nomor 11.

Dianggap Mesjid Buatan Jin

Bumi Batara Gowa menandai start awal Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com menuju ekspedisinya di mesjid megah 12 kubah yang konon kabarnya berada di tengah hutan.

Awal napak tilas musibah longsor dan banjir bandang terngiang ketika tim memasuki jembatan Manuju. Jembatan yang tadinya permanen kini berganti dengan jembatan kayu semi permanen akibat jembatan roboh diterjang banjir bandang. Segala kisah sedih diceritakan oleh Mister Rustam yang kebetulan saksi hidup peristiwa itu. Namun kisah berhenti karena tim singgah di Tanah Karaeng untuk menunaikan shalat Jumat.

Selepas shalat Jumat, tim berbincang-bincang sejenak dengan sejumlah kepala desa yang kebetulan shalat Jumat di mesjid itu. Ternyata dari informasi dari kepala desa yang bertetangga dengan desa lokasi mesjid yang viral itu tidak pernah melihat dan mendengar bahwa ada mesjid megah ditempat itu sebelumnya. Nanti setelah viral di medsos baru mereka mengetahuinya.
“Masyarakatku pertamanya mengira itu mesjid dibangun oleh para jin pak, karena tidak pernah ki dengar ada pembangunan mesjid. Padahal biasanya kalau pembangunan mesjid begitu pasti diketahui ji karena ada penyampaian kah, sumbangan kah, atau yang lain, ini tidak ada sama sekali,” ujar salah satu kepala desa.

“Tapi pore mentong ki mesjidnya iya, tena ambetai angrinni (tidak ada yang menyamainya disini-red)” tukasnya lagi.

Hal ini membuat Tim Tour Jurnalistik BugisPos semakin bersemangat setelah mendengar informasi dari para kepala desa dan tokoh masyarakat desa-desa sekitar.

 

Napak Tilas Musibah dan Tanah Longsor

Melewati Desa Tanah Karaeng, sejumlah sisa-sisa longsoran tanah masih nampak disisi kiri dan kanan jalan. Tiba-tiba tergambar jelas bagaimana musibah di akhir Januari 2019 itu menimpa desa-desa di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Hujan yang tiba-tiba datang menyambut kami, seakan-seakan menyentil kami sebagai pekerja pers. Terngiang bisikan lirih dari sela-sela desahan hujan yang berkata, “kami masih terbaring disini”. Ini mungkin karena miskinnya informasi yang bisa kami sampaikan ke masyarakat karena keterbatasan kami sebagai jurnalis.

Suasana dalam mobil menjadi tegang, suasana riang, tiba-tiba hening, kami masing-masing diam mendiskripsikan kejadian masa lalu sesuai minda dikepala kami.

Sejumlah titik tempat warga desa membangun rumah yang sebelumnya padat. Kini nyaris dipenuhi tanah setinggi 1 meter yang telah mengering. Cuma masih nampak sisa-sisa puing rumah disela-sela tumpukan tanah. Bumi pada waktu itu menampakkan keunggulannya kepada manusia yang sebelumnya begitu pongah mencabuti mahkotanya serta menguras isinya sehingga bumi tak kuasa lagi mengobati keriputnya yang terkelupas.

Walaupun diberitakan beberapa waktu yang lalu, bahwa korban meninggal hanya berjumlah 14 orang, tapi kenyataannya korban yang tewas sangat jauh melebihi itu.

Hal ini diungkapkan oleh beberapa warga yang sempat kami temui. Rustam yang merupakan saksi hidup ketika kejadian itu terjadi mengungkapkan bahwa pada waktu itu, hujan deras terus mengguyur Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.
“Entah apa yang merasuki ku hingga saya tiba-tiba ingin ke Sapaya, padahal tidak ada urusan yang begitu penting untuk kesini,” kisah Rustam.

“Saya sempat menginap di Sapaya di rumah orang tua, namun keesokan harinya saya merasa ingin pulang, padahal hujan tak kunjung reda, saya memaksakan diri mengambil jas hujan untuk berangkat, padahal orang tua telah melarang,” urainya.

“Baru beberapa saat berjalan, tiba-tiba tanah bergemuruh, pohon-pohon disepanjang jalan saling bersilangan satu sama lain, karena perasaan semakin kacau, saya memutuskan kembali ke rumah orang tua. Kemudian saya mendengar keluarga di desa seberang telah rata tertimbung longsor dan banjir bandang,” kenangnya.

“Ada sepupu yang kehilangan istrinya, ada keluarga yang tertimbung satu rumah, bahkan ada yang hingga kini belum ditemukan jasadnya,” tambah Rustam sembari menunjuk rumah-rumah korban tempat tinggal keluarganya yang telah tertimbun tanah.

Bertemu Tanjakan Curam

Hujan yang datang sebagai ucapan selamat datang di dataran tinggi Gowa, membuat beberapa ruas jalan jadi sedikit licin. Hal ini diperparah oleh pengerjaan proyek jalan yang terkesan tidak profesional. Bayangkan saja, jalan yang menanjak dengan tanjakan curam yang disisi dalamnya sementara pengecoran sedangkan sisi luar jalan batu kerikil tajam dibiarkan berserakan sehingga menambah parah keadaan.

Mobil yang kami tumpangi nyaris saja terperosok karena ban mobil tak bisa mengikat ke tanah akibat batu kerikil yang dibiarkan berserakan. Untungnya joki yang menahkodai armada (Andi Akbar-red) kita cukup handal untuk medan-medan seperti itu. Dia membuat mobilnya berjalan zig zag agar dapat mendaki, patutlah dia dianugerahi sebagai “Sopir Daerah” karena kehandalannya mengemudi.

Imbas jalan yang penuh tanjakan curam serta berkelok-kelok laksana ular itu, membuat salah satu rekan kami tak kuasa menahan luapan isi perutnya karena mabuk perjalanan.

Walaupun cukup malu-malu memperlihatkannya, tapi kantong plastik roti buat bekal perjalanan habis dipakainya karena tak kuasa menahan gejolak isi perutnya.

 

Istirahat di Bontoloe

Memasuki Kecamatan Bontolempangan hujan mulai reda, bahkan sang surya sudah tak malu-malu lagi menampakkan sinarnya. Rustam yang dalam ekspedisi kali ini didaulat sebagai guide tak henti menghubungi keluarganya di Bontoloe.
“Ri Paladinganma Anne, Nia jaki attayang ri biring agangnga (saya sudah di Desa Paladingan, apakah kamu menunggu saya di pinggir jalan)” begitu percakapan yang saya dengarkan.

Kurang lebih 10 menit kemudian tim tiba di Desa Bontoloe dan disambut dengan hangat oleh yang empunya kampung, Usman. Dia mengajak beristirahat sejenak dulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke mesjid yang berada di dusun Langkowa.

Sesaat setelah memasuki rumah Usman, mata kami tertuju keatas meja tamu yang seperti sengaja menggoda kami untuk tanpa malu-malu menggapainya. Dua porsi sajian tradisional Bannang-bannang ditambah perut yang memang sudah dari tadi bersiul walaupun tak seindah siulan burung Kenari membuat kami tak malu lagi untuk menyantapnya.

Belum habis kunyahan Bannang-bannang di mulut, deretan sajian makanan telah tersedia dihadapan mata. Nasi putih yang diolah secara tradisional, sayur kentang yang nampaknya baru dicabut dan yang paling menarik yaitu deretan sajian ayam goreng yang nampak menggugah selera makan.

Tanpa perintah dua kali, seperti orang pada umumnya kalau berbasa-basi, kami segera menyantap hidangan yang memang sangat menggugah selera, apalagi hawa sejuk pegunungan memperlengkap selera makan kami.

(Lanjut bagian kedua)

Penulis : One

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya