Catatan Perjalanan (Bagian Kedua – Habis)

Ewako, Tour Jurnalistik BugisPos.com di Mesjid 12 Kubah (2)

01 December 2019 19:41
Ewako, Tour Jurnalistik BugisPos.com di Mesjid 12 Kubah (2)
Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com

 

Menuju Mesjid

BugisPos — Setelah beristirahat sejenak sembari meminum kopi, kamipun melanjutkan perjalanan ke mesjid megah di tengah hutan yang menjadi viral karena postingan salah satu pengunjung mesjid.

Dengan dipandu oleh Usman yang memilih mengendarai motor, kami berjalan mengikutinya menuju Dusun Langkowa. Beberapa meter dari rumah Usman terdapat pembelokan kearah kiri dengan papan nama bertuliskan “Coffee Field”.

Belum setengah perjalanan, hujan datang lagi menyambut kami. Dengan menyusuri lorong-lorong dusun yang dibuat seadanya sehingga jalanan dipenuhi dengan batu-batu timbul, lagi-lagi kami dihadiahi dengan jalan yang menanjak.

Beberapa mobil terlihat berada di depan kami. Begitupun ada beberapa mobil pengunjung dan mobil pengangkut sayur berpapasan dengan kami. Apabila berpapasan seperti itu salah satu mobil mesti berhenti untuk membiarkan mobil dapat berjalan agar tidak bersenggolan.

Pemandangan menuju mesjid sangat menyejukkan mata, tampak dari kejauhan mesjid 12 kubah menyembul dari sela-sela rimbunnya pohon.

Ketika hendak memasuki areal perkebunan, ada portal yang dipasang oleh pemuda sekitar perkebunan, mungkin mereka karyawan perkebunan kopi. Setiap mobil yang masuk dikenakan bea masuk sebesar Rp. 10.000 untuk mobil dan Rp. 5.000 untuk motor itupun masih bisa ditawar sesuai keikhlasan semata.

Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com tiba di mesjid waktu Ashar sudah masuk. Kami pun bergegas untuk berwudhu dengan berlari-lari kecil menghindari gerimis lebih membasahi kami.
Usai shalat Ashar, kerja jurnalistik kami mulai. Syahrul dan Rustam bertugas untuk dokumentasi baik itu video ataupun foto. Awing, Aty dan Akbar sibuk mewawancarai para pengunjung yang datang.

Hari itu, sudah sekitar 30 mobil yang masuk ke area mesjid, menjelang Ashar saja masih ada 10 unit mobil minibus yang terparkir di area mesjid.
Mesjid itu memang cukup megah dengan kubah berjumlah 12 buah dengan warna kuning keemasan diujung kubah. Luas dalam mesjid sekitar 11 M2 dan luas keseluruhan bangunan sekitar 16 M2. Mesjid itu memiliki 3 pintu masuk dengan tempat wudhu dan toilet berada di basement mesjid. Di pekarangan mesjid ada pohon pinus yang dibiarkan tumbuh dan seputaran taman mesjid ditanami bunga Bokor yang nampak indah dengan bunganya yang beraneka ragam.

Kabarnya, lokasi mesjid ini adalah tempat menyimpan sesaji (Saukang) bagi masyarakat sekitar. Awalnya disitu terdapat tiga batu besar yang selalu diberi sesajen, karena tempat itu akan dibanguni mesjid untuk tempat ibadah para karyawan perkebunan maka diputuskan untuk memecahkan batu besar tersebut. Dikarenakan masyarakat disitu tak ada yang berani memecahkan maka pihak pemilik mendatang karyawannya dari Papua untuk ditugasi memecahkan batu besar tersebut.

Hasilnya batu besar yang telah dipecah itupun dijadikan sebagai batu pondasi untuk mesjid itu. Menurut salah satu karyawan yang sempat ditemui BugisPos menerangkan bahwa awal pembukaan perkebunan itu pada tahun 2008 dan pada tahun 2011 mesjid itu mulai dibangun secara bertahap bahkan hingga saat ini mesjid ini juga belum selesai, itulah makanya hingga saat ini mesjid itu belum diberi nama oleh pemiliknya.

 

Bertemu Pemilik Mesjid

Dari mesjid kami berlari-lari kecil dengan bertelanjang kaki menuju kediaman pemilik mesjid yang bersebelahan dengan mesjid.

Walaupun masih disirami gerimis-gerimis kecil, itu tak melunturkan semangat tim untuk bertemu langsung dengan pemilik mesjid yang fenomenal ini.
Rumah dengan desain Balla Lompoa terlihat dirumah pemilik mesjid tersebut. Dibawah rumah mobil Rangerover B 7 RV nampak telah dihidupkan oleh seorang lelaki tampan diatas mobil tersebut.

Kami mendekati terus memperkenalkan diri dari BugisPos.com diapun memperkenalkan diri atas nama Johan yang belakangan kami ketahui anak bungsu dari pemilik mesjid.

“Maaf, kami ini sudah mau berangkat,” sapanya sopan ketika meminta izin untuk dapat mewawancarai ayahnya.

“Kami bukan tidak mau diambil gambarnya, tapi ini menyangkut privacy kami, tapi apabila ingin wawancara kami siap melayani,” jawabnya lagi.

Johan juga menolak ketika dia ditawarkan untuk diambil gambarnya karena takut privacy keluarganya yang berdomisili di Makassar terganggu.

Johan kemudian menjelaskan hal ihwal pembangunan mesjid itu hingga menjadi viral seperti saat ini.

“Inipun belum ada namanya karena memang belum selesai,” jawabnya lagi.
Saat asyik mewawancarai Johan, turun dari rumah sesosok pria paruh baya yang masih menampakkan kegagahannya didampingi oleh seorang ibu yang berwajah indo memasuki mobil. Melihat kami mendatangi, dia dengan sopannya turun kembali dari mobil dan berjabat tangan dengan kami.

“Selamat yahh,” ucapnya seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Dialah H. Busli Saraka pemilik perkebunan kopi yang ditengah perkebunannya di kaki Gunung Lompobattang dibangun mesjid 12 kubah yang belum diresmikan ini.

“Sudah kalian buktikan kan disini tidak ada Islam radikal,” pungkasnya seraya berpamitan karena hendak ke Jakarta.

 

Kembali ke Kantor Redaksi

Setelah wawancara tim kembali bergerilya untuk menambah dokumentasi-dokumentasi dan tambahan informasi-informasi yang dianggap penting, tentu tak lupa “turuk-turukkan (ikut-ikutan-red)” berselfi ria mengikuti gaya milenial apabila menemui tempat yang instagramable.

Seperti pepatah Melayu yang mengatakan “Lain Padang Lain Belalang”, lain orang lain pula pemikirannya, begitulah personil Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com yang bergerilya untuk menambah informasi, Rustam fokus menggali potensi religi dan potensi alam di area itu, Syahrul yang dengan jiwa milenialnya tentu mendata kaum-kaum muda yang datang di tempat itu, tentu dengan tujuan akhirnya titipan nomor WA bekal untuk chatting dikemudian hari. Tentunya saya dan Aty yang sedikit lebih dewasa dari segi usia tentunya tetap fokus untuk membedah keberadaan mesjid itu yang jadi polemik, apakah memang di tengah hutan atau memang cuma di tengah perkebunan.

Hasil wawancara dengan 3 pekerja perkebunan yang sudah 11 tahun bekerja di tempat itu terungkap bahwa tempat itu memang awalnya hutan yang sela-selanya ditanami pohon kopi yang hingga kini belum berproduksi maksimal.

“Tahun 2008 perkebunan ini mulai dibuka, memang tadinya ini hutan, kemudian sekitar tahun 2011 mulai pengerjaan mesjid ini, hingga kini mesjid ini juga belum selesai,” terang Kang Umay.

“Kami bertiga dari Sukabumi Jawa Barat yang mengerjakan mesjid ini, dengan cara dicicil-cicil Kang,” tambahnya.

“Selain mesjid juga ada peternakan dibagian bawah, peternakan ini bukan untuk diambil dagingnya, tapi khusus untuk diambil kotorannya saja, karena kopi disini tidak memakai pupuk pabrikan, murni pupuk organik dari kotoran hewan saja,” pungkasnya.

Ada yang menarik dari hasil pengamatan Andi Akbar tentang keadaan desa-desa sekitar perkebunan kopi.

Hasil pengamatannya, setiap 20 meter perjalanan ada berkumpul 7 sampai 8 anak balita, padahal rumah dideretan desa ini sangat jarang.

“Apakah program KB di daerah sini berhasil ?,” begitu pertanyaan dibenaknya.

Pertanyaan ini muncul karena cuaca pegunungan sangat mendukung, juga usia pernikahan dini di daerah-daerah seperti itu biasanya sangat tinggi.
Kedepannya, tim akan menelusuri data di BKKBN dan di BPS untuk mendapatkan keakuratan data terkait jumlah-jumlah tersebut.

Setelah data dan dokumen dianggap telah lengkap, akhirnya tim meninggalkan lokasi mesjid 12 kubah yang berdiri dengan megahnya di bawah kaki Gunung Lompobattang.

Mesjid yang indah dan unik karena berada ditengah perkebunan kopi di Dusun Langkowa, Desa Bontoloe Kecamatan Bontolempangan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Walaupun sempat menjadi polemik antara posisi mesjid yang berada di tengah hutan ataupun perkebunan kopi, namun tak mengurangi nilai niat baik pemilik mesjid yang ingin menghapuskan kesyirikan di lokasinya yang sering membawa sesajen menjadi rumah ibadah bagi umat Islam disekitarnya.

Diperjalanan pulang, sejumlah pekerjaan rumah (PR) menanti dihadapan mata, mulai dari proyek jalan yang tak memiliki papan bicara, penduduk Gowa ketinggian yang pernah mencetuskan untuk membuat kabupaten sendiri, napak tilas musibah longsor dan banjir bandang di Kecamatan Bungaya hingga daerah-daerah produktif yang telah dimiliki para kaum pemilik modal (kapital).

Sang mentari telah tenggelam digantikan sang rembulan yang menyapa lebih lembut dengan sinarnya yang temaram. Malam terasa lebih indah, karena rasa ingin tahu terjawab sudah. Secangkir teh susu hangat di Warkop Koffe Daeng (di bawah kantor Redaksi BugisPos) mengakhiri perjalanan Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com di mesjid viral tengah hutan.

Semoga catatan perjalanan Tour Jurnalistik Wartawan BugisPos.com dapat memberikan nuansa informasi yang cukup informatif, bernilai, bermanfaat dan tentunya tetap menulis apa adanya.

“Mission Complete”

Penulis : One

Tim Tour Jurnalistik BugisPos.com
1. Arwan D. Awing
2. Saniaty, SE
3. Andi Akbar, SH
4. Rustam
5. Syahrul Gunawan

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya