Tauwwa, Dialog “Politik Itu Keren” di UIT

03 December 2019 11:03
Tauwwa, Dialog “Politik Itu Keren” di UIT
Hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, diantaranya : Ketua KPU Sulsel, Faisal Amir, Anggota Bawaslu Sulsel, Asriadi, pengurus PKB Sulsel, Haikal, Dosen Ilmu Pemerintahan Fisipol UIT, Azhar Aljurida, dan Sekretaris Presidium JaDI Sulsel, Attahiria Nas.

BugisPos — Dengan tema “Politik Itu Keren”, Universitas Indonesia Timur ( UIT ), gelar dialog bersama mahasiswa di Makassar.

Wakil Rektor IV UIT, Zulkarnain Hamson mewakili Rektor, membuka kegiatan secara resmi di kampus I ruang Konsentrasi, beberapa waktu yang lalu.

Dalam sambutannya, Zulkarnain berharap, dialog yang digelar bisa bermanfaat bagi para mahasiswa di semua Universitas terkhusus di UIT.

“Dengan dialog bersama mahasiswa ini, kami harap para narasumber dari KPU, Bawaslu, Partai Politik dan JaDI bisa memberikan kajian-kajian bahwa politik itu keren,” pungkasnya.

Hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, diantaranya : Ketua KPU Sulsel, Faisal Amir, Anggota Bawaslu Sulsel, Asriadi, pengurus PKB Sulsel, Haikal, Dosen Ilmu Pemerintahan Fisipol UIT, Azhar Aljurida, dan Sekretaris Presidium JaDI Sulsel, Attahiria Nas.

Ketua KPU Sulsel, Faisal Amir menyampaikan, bahwa politik harus dipandang dengan paradigma yang keren. Di momentum ini, dijadikan pesta untuk memilih wakil rakyat maupun Kepala daerah/Negara.

Olehnya itu, kata dia, diperlukan peran generasi muda seperti dari kaum mahasiswa untuk ikut terlibat dalam politik yang berintegritas.

“Semua warga negara punya hak memilih. Memilih itu adalah hak. Datang memilih di TPS itu kewajiban,” tegasnya.

Asriadi memaparkan, “politik merupakan cara yang digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, ada dua macam model politisi yakni positif dan negatif. Dirinya pun mengajak agar hadir untuk memperbaiki sistem politik yang buruk. “Untuk menjadi politisi dibutuhkan 3 hal, yakni kecerdasan, keberanian (membuat cara berpikir yang baik) serta berintegritas (kejujuran),” sebutnya.

Azhar Aljurida menyampaikan, dimasa tradisi Yunani Kuno, ada kebiasaan masyarakat senang membicarakan sesuatu tentang kemaslahatan bersama dengan cara mereka berkumpul dan melakukan tukar pikiran.

“Politik itu berbicara gagasan yang ditawarkan ke masyarakat untuk memecahkan masalah publik,” ungkapnya.

Salah satu yang merusak tatanan sistem demokrasi di Indonesia, kata dia, bahwa adanya ketidakjujuran dalam politik. Ia pun berharap, para mahasiswa bisa berkomitmen bahwa agar lebih meningkatkan partisipasi politik sebagai warga negara.

Attahiria Nas menambahkan, bahwa JaDI hadir memasuki kampus-kampus untuk kembali membangun kepercayaan mahasiswa tentang politik.

“Indikator politik keren yakni ada transparansi, akuntabilitas (pertanggungjawaban), ada koordinasi serta partisipasi,” pungkasnya.

Ia berharap, mahasiswa mengambil peran di dalamnya, kerja-kerja politik, minimal sebagai penyelenggara.

Dalam dialog tersebut juga dihadiri oleh Dekan FISIP UIT, Nani Harlinda, Ketua Presidium JaDI Sulsel, Mardiana Rusli serta para dosen dan mahasiswa.(Humas UIT/Bed).

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya