Buku Hak Angket, Buku Siapa dii ?

12 January 2020 02:55
Buku Hak Angket, Buku Siapa dii ?
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos — Saya  terpikat  terhadap hasil wawancara otonominews.com dengan pengamat hukum DR. Amir Ilyas.  Dia menilai, aktor di balik terbitnya buku tersebut bisa terkena pidana. Pasalnya, dalam isi buku berjudul “Hak Angket Kawal Demokrasi” itu, hanyalah berisikan fitnah terhadap Gubernur Nurdin Abdullah.

Dosen Ilmu Hukum Unhas ini menyebut, kehadiran sebuah buku patut dihargai sebagai diskursus pemikiran, termasuk kebebasan berekspresi dan berpendapat, namun, bukan berarti membolehkan seseorang melakukan penghinaan terhadap seseorang, segolongan penduduk, suku, ras, dan agama.

“Tidak bisa karena alasan berekspresi kemudian membebaskan seseorang atas penghinaan terhadap seorang lainnya. Sehubungan dengan terbitnya buku tersebut, sudah pasti akan memunculkan tentang siapa-siapa saja aktor di dalamnya bisa terjerat pidana,” Amir Ilyas berkata tegas.

Ketika Hak Angket berproses di DPRD Sulsel, sesungguhnya terdapat tiga pandangan yang berbeda.  Ada yang berpihak pada penggagas Hak Angket, ada yang berpihak kepada Gubernur Nurdin Abdullah. Ada pula yang hanya menyebarkan aroma netral. Artinya, yang berposisi netral ini, dia akan bertepuk tangan dan mensuppor siapapun pemenang. 

Gubernur Nurdin Abdullah gagal dijatuhkan oleh Hak Angket, maka yang netral itulah menempatkan diri di bawah payung pemenang. 

Nah, yang kalah itulah – boleh jadi – meradang panjang, gregetan, dan mencari formulasi bagaimana mendapatkan dukungan moril dari masyarakat ; tentang demokrasi, tentang hukum, bahkan juga mungkin tentang pesaraan. Lantas ujung-ujungnya muncullah buku itu. Mungkin saja.

Sebetulnya buku itu sudah tak terlalu menarik, bahkan mungkin tak  menarik bagi banyak orang. Sebab perjalanan Hak Angket itu gagal menjatuhkan gubernur.  Andaikan Hak Angket itu sukses menjatuhkan gubernur Nurdin Abdullah, buku itu baru bisa disebut super menarik. Itupun kalau isinya ditulis secara berimbang. Atau memuat tulisan yang berimbang. 

Yang justeru lebih menarik, ialah pernyataan Tim Kuasa Hukum  Gubernur Nurdin Abdullah, Mustandar, SH. Dia bilang, setelah mengkaji dan menganalisa isi buku tersebut,  kesimpulan sementaranya ialah, mengindikasikan bahwa buku tersebut sebagai dibuat berdasarkan motif “dendam”. Dia simpulkan, judul buku tidak sesuai dengan isinya.

“Kalau dibaca judul seakan-akan gubernur ini jelek sekali, tetapi setelah dibaca isi buku, ternyata tidak dijelaskan fakta-fakta seperti apa yang  dimaksud oleh judul. Hanya isu-isu yang berkembang sebelum hak angket bergulir. Jadi buku ini boleh dikatakan hanya opini” Mustandar mempertegas.

Bahayanya sikap Mustandar. Dia bilang, jika memang nantinya ada indikasi pencemaran nama baik, maka akan dia tempuh jalur hukum termasuk aktor di balik terbitnya buku ini akan kita pidanakan.

Pertanyaannya ialah, siapakah yang punya buku itu? Banyak yang menjawab, buku itu boleh jadi dibikin oleh pihak yang bukan pendukung gubernur Nurdin Abdullah. Entahlah. 

Bila ternyata kemudian buku itu diperkarakan, tentu saja cerita tentang buku Hak Angket itu akan bertambah panjang rel perjalanannya. Mungkin saja justeru disitulah hal menariknya ***

Editor :Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya