Ormas Pekat IB Pertanyakan ki Tragedi Berdarah di Loeha Luwu Timur

20 January 2020 09:08
Ormas Pekat IB Pertanyakan ki Tragedi Berdarah di Loeha Luwu Timur
Mursalim ketika dirawat di rumah sakit.

 

BugisPos — Tragedi berdarah antara kelompok Mursalim versus kelompok Sultan yang terjadi pada tanggal 5 November 2019 lalu, yang menyebabkan tewasnya Sultan menyisakan banyak pertanyaan dari berbagai pihak.

Menurut aktivis dari ormas Pekat IB Sulsel kepada BugisPos pada Minggu (19/1/2020), kisah berdarah ini melibatkan dua kelompok bermula dari adanya sengketa lahan antara kelompok Mursalim vs kelompok Sultan (Almarhum).

“Dari hasil penelusuran saya, diduga yang menyerang adalah pihak Sultan bersama puluhan rekannya. Tempat kejadian perkaranya tepat di depan rumah Abbas.
Diduga tragedi ini sudah direncanakan,
Karena ada 3 mobil yg mengangkut massa dari pihak Sultan. Hilux warna putih milik H. R, Sedangkan Hilux warna merah dan satu mobil truk milik S alias pak D. Sedangkan dalang pembakaran adalah berinisial A bersama puluhan rekannya yang memakai Topeng. Saat ini A belum diamankan dan ada saksi yg melihat pelaku lebih dari 2 orang, dan siap bersaksi,” beber Ahmad.

“Saat saya konfirmasi, menurut Mursalim dan istrinya Murniati, yang bersengketa sebenarnya adalah saya (Mursalim) dengan Haji B alias Haji Bapak R. Sultan (Almarhum) dan rekan-rekannya tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan lahan tersebut,” jelas Ahmad meniru tutur dari Mursalim.

“Kini Mursalim bersama tiga orang rekannya (Abbas, Kamaruddin dan Rusdin alias puyu’ ) telah diamankan di Mapolres Luwu Timur. Sedangkan dari pihak Sultan (Almarhum) ada tiga orang yang juga telah diamankan di Polsek Malili, Luwu timur.
( Rian alias Papa Egi, Jhon alias Papa Kesia dan Mail),” ungkap Ahmad lagi.

“Sebagai aktivis tentunya saya ikut memantau perkembangan kasus tersebut.
Tepatnya hari Selasa tanggal 07-01-2020 saya mengonfirmasi langsung Kasat Reskrim Polres Luwu Timur IPTU Eli Kendek. Saat itu saya mempertanyakan beberapa hal kepada Beliau.Sudah ada berapa orang yang diamankan dari pihak Sultan (Almarhum).
Singkat Pak Kasat menjawab, sudah tiga orang.Tak lupa pula saya pertanyakan bahwa :
apakah hanya tiga orang ini yang melakukan pembakaran tujuh rumah, pembakaran empat sepeda motor, dan pengrusakan ratusan pohon merica serta pelaku pemarangan, karena dalam hal ini Mursalim juga menderita beberapa luka, luka tebas di kepala, bahu dan juga ada jari tangan yang terputus akibat terkena senjata tajam. Jawab Pak Kasat, kasus ini masih dalam tahap pengembangan, kami tidak mau asal tangkap sebelum bukti betul-betu akurat, katanya pada waktu itu,” jelas Ahmad lebih detail.

“Menurutku, kasus ini diduga ada yg terlewatkan dari pantauan rekan-rekan penyidik kepolisan, karena diduga sengketa lahan tersebut hanya antara Mursalim dengan Haji B alias Haji Bapak R. Namun mengapa pihak Sultan (Almarhum) dan rekan-rekannya yang bertaruh nyawa demi lahan tersebut.Ada apa ? dan mengapa ?,” tanya Ahmad.

“Mungkinkah masih ada sesuatu yang tersembunyi yang sampai saat ini belum terungkap. Semoga rekan-rekan kepolisian Luwu Timur sanggup menyingkap tabir atau misteri dalam kasus ini,” harapnya.

“Karena yang terlibat langsung dengan perkara tidak pernah di BAP dan pelaku pembakaran masih bebas berkeliaran,” ungkap Ahmad.

“Saat ini para tersangka masih di tahanan Mapolres Luwu Timur,” pungkas Ahmad.

Menanggapi hal ini, Kasat Reskrim Polres Luwu Timur, Iptu Eli Kendek ketika di konfirmasi via WhattsApp oleh BugisPos pada Senin (20/1/2020) menyampaikan bahwa berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejari Malili.

“Ijin pak Kasus yang di maksud, berkasnya sudah di Kejaksaan Negeri Malili,” singkat Eli.

Terkait kapan waktu pelimpahan berkas, Eli menuturkan sudah lupa tanggal pelimpahan berkas tersebut.

“Kurang ingat waktu pastinya, yang pasti suda terkirim berkas perkaranya,” jawabnya.

Penulis : One

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya