Macca na, Putri Nurdin Abdullah Raih Gelar Doktor di Jepang

28 January 2020 13:15
Macca na, Putri Nurdin Abdullah Raih Gelar Doktor di Jepang
Putri Fatimah Nurdin, SE, M.Agr, Phd.

BugisPos — Anak Gubernur Sulsel, Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah dan Liestiaty F. Nurdin, M.Fis, Putri Fatimah Nurdin berhasil merengkuh gelar doktornya di Fakultas Pertanian Universitas Kyushu, Jepang, Senin (27/1/2020).

Putri Fatimah meraih gelar doktornya setelah mempertahankan disertasi berjudul “Landslide Susceptibility Assessment and Cost Benefit Analysis On Mitigation Measure In Bili Bili Watershed, South Sulawesi-Indonesia” di hadapan dua penguji, Prof Hideaki Mizuno dan Prof Takahiro Fujiwara.

Judul itu dipilih karena dia terinspirasi saat terjadi longsor di Gunung Bawakarang. Saat longsor Gunung Bawakaraeng terjadi, Putri masih duduk di program magister.

Saat mengambil program doktor, Putri mulai berpikir untuk mengembangkan riset yang awalnya hanya meneliti penyebab utama longsor dan pemetaan, menjadi sesuatu yang lebih aplikatif dan memberi solusi untuk mitigasi.

“Hasil penelitian saya pada dasarnya wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang itu sangat kecil persentase hutannya untuk bisa bekerja optimal sebagai daerah resapan, dan masih terus menurun karena alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan lainnya,” ujarnya, Senin (27/1/2020).

Putri mengungkapkan, revegetasi yang dilakukan tidak bisa lagi dengan cara lama tapi harus dengan aerial seeding yaitu penyebaran ball seeding melalui helikopter karena wilayah yang kritis didominasi di wilayah yang sulit dijangkau.

Selama lima tahun melakukan riset, Putri mengaku menemukan banyak hal mengkhawatirkan. Seperti, kalau daerah kritis dibiarkan, sedimen akan terus meningkat dan pendangkalan Bili-bili akan semakin parah dan berakibat pada efektifitas DAS sebagai pengontrol banjir akan menurun.

Untuk itu, dalam disertasinya dia memberikan solusi untuk menghindari bencana. Yakni hutan harus kembali disuburkan di hulu, warga terus diedukasi mengenai pentingnya hutan dan rencana pembangunan ke depan harus lebih terintegrasi dengan hazzard map atau peta kerawanan bencana.

“Kalau secara general, saya ingin sekali di Indonesia sudah ada semacam aplikasi early warning system dengan keakuratan yang tinggi. Kondisi Indonesia sekarang sudah jauh berbeda dengan 10-20 tahun lalu. Bencana bisa terjadi kapan saja, dan warga sudah harus diedukasi mengenai upaya evakuasi mandiri agar tidak mudah terbawa hoaks,” harapnya.

Alumni Program Magister Fakultas Pertanian Universitas Kyushu ini menyebut, Indonesia dan Jepang tidak jauh berbeda soal kerawanan bencana.

Hanya saja, Jepang kata dia sangat sigap dan warganya memiliki rasa percaya yang sangat tinggi terhadap upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana. Sebelum bencana terjadi, handphone dan alarm di rumah sudah berbunyi, sehingga mereka melakukan prosedur evakuasi secara mandiri.

“Di Indonesia, kita masih simpang siur dengan hoaks saat ada bencana karena warga belum teredukasi dengan baik mengenai kesiapan menghadapi bencana maka dibutuhkan solusi seperti di atas,” ungkapnya.

Sebelumnya Putri ikut melakukan penelitian saat Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah meninjau sungai Jeneberang pada 24 Januari 2019 lalu dan juga kunjungan ke wilayah yang dilanda banjir bandang di Kabupaten Jeneponto, Jumat 25 Januari 2019.

Pada hasil risetnya yang dipantau melalui udara itu, Putri melihat jika kondisi daerah hulu dari sungai Jeneberang volume sedimen yang berasal dari longsoran gunung Bawakaraeng masih sangat tebal. Itu dikarenakan sebagian besar material berasal dari sisa longsor dahsyat 26 Maret 2004 yang menghasilkan kurang lebih 200 juta meter3 sedimen.

Saat curah hujan tinggi, sedimen longsor ini mengalir ke dam bili-bili dan mengakibatkan pendangkalan sehingga kinerja dam sebagai pengendali banjir pun terganggu.

Tentu kata dia, kondisi ini sangat mempengaruhi kinerja dam sebagai penyuplai air bersih ke wilayah di sekitarnya dan mengurangi umur efektif dari dam Bili-bili.

“Korelasinya dengan penelitian saya adalah tingginya tingkat erosi di hulu sungai Jeneberang, setelah longsor dahsyat yang terjadi tahun 2004, sangat banyak lereng-lereng yang tidak stabil akibat tergerus oleh material longsor saat itu,” paparnya.

Sehingga melalui riset ini, Putri mengaku mencoba untuk memetakan daerah mana saja yang sangat tinggi kerawanannya terhadap longsor dan apa saja faktor yang paling signifikan mengakibatkan longsor di daerah Jeneberang.

Dalam proses pemetaannya dia mengaku menggunakan GIS dan menganalisa sekitar 300-an titik longsor dan 16 faktor yang mempengaruhi longsor seperti kemiringan lereng, elevasi, index kekuatan arus sungai, kerapatan anak sungai, jenis tanah, litologi, curvature (lengkungan lereng), curah hujan, penutupan lahan, jarak ke sungai, dan lain-lain.

“Selain peta kerawanan longsor, saya juga mencoba membuat skenario terbaik untuk mengurangi tingkat sedimentasi di dam Bili-Bili dengan menggabungkan peta kerawanan longsor dan peta lahan kritis. Dengan begitu kita dapat membuat skala prioritas dalam menentukan wilayah-wilayah membutuhkan perawatan dan penghijauan segera,”ujarnya.

Dengan mengetahui lokasi-lokasi yang tinggi kerawanannya terhadap longsor, akan memudahkan pemerintah untuk melakukan tindakan pencegahan seperti melakukan penghijauan untuk mengurangi tingkat erosi di lokasi tersebut, melarang warga untuk bermukim di zona merah dan bisa mulai memikirkan untuk memasang alarm pendeteksi longsor.

Jika tingkat erosi dan longsor di daerah hulu bisa diminimalisir tentunya akan banyak berdampak pada efektifitas DAM Bili-Bili.

Sumber : Sindo News.

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya