Kampanye Hitam Kedaerahan Hamtam DP, Anu Basi mi

20 March 2020 21:16
Kampanye Hitam Kedaerahan Hamtam DP, Anu Basi mi

 

BugisPos — Gaya lama black campaign yang hari ini digunakan menghantam Danny Pomanto, sesungguhnya adalah gaya kampanye yang sudah basi sejak lama, bahkan telah menjadi alat lampanye yang sudah tidak bertaji sejak masa kampanye di Pilwali Makassar enam tahun lalu.
Demikian dikemukakan Usdar Nawawi, ketua relawan Sahabat DP (SDP) kepada BugisPos, Jumat, 20/3/20 di Posko SDP Jl.Skarda Makassar.
Kata Usdar, dengan mendiskreditkan nama Danny Pomanto (DP) sebagai tak layak memimpin Makassar karena dia putra Gorontalo, sudah sangat jauh tak relevan.
Mereka yang membuat kampanye hitam dengan menuding DP orang Gorontalo itu, dapat disebut sebagai buta nasionalisme. Bahkan bisa disebut bernuansa Sara.
Pada kondisi saat ini menjelang Pilkada Makassar 2020, memangnya figur calon siapa yang putra asli Makassar?
Usdar menjelaskan bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang berasal dari putra Makassar.
Deng Ical misalkan, dia itu putra Selayar. Appi itu putra Mandar, None apalagi, dia putra Gowa.
Di masa lalu pun walikota Makassar, kata Usdar, belum pernah ada yang putra asli Makassar. HM Dg Patompo itu putra Bugis, Abustam Bugis Pangkep, Jancy Raib juga putra Pangkep, Suwayo putra Jawa, Malik B. Masry putra Sidrap, Amiruddin Maula putra Wajo, Ilham Arif Sirajuddin putra Bone campuran Enrekang bahkan punya darah Toraja.
Lantas mengapa kita selalu teriak ingin putra Makassar untuk memimpin Makassar? Owner media BugisPos.com mengatakan,
siapapun yang mampu memimpin Makassar dengan baik, yang mampu membawa perubahan dan kesejahteraan bagi warga kota ini, plus memenangkan pemilihan, maka dialah yang akan memimpin Makassar lima tahun ke depan.
Bicara soal DP yang pernah memimpin Makassar, lalu kembali mencalonkan diri dengan landasan survey tertinggi di antara calon lainnya, adalah hal yang sangat wajar. Terlepas apa dia kelahiran Gorontalo ataupun Makassar.
Yang pasti, DP yang lahir dan besar di Makassar ini, sejak dia memimpin justeru mengembangkan dengan sangat baik kearifan lokal budaya Makassar. Begitu banyak istilah dia kembalikan ke bahasa Makassar. Bahkan hampir semua programnya menggunakan judul bahasa Makassar. Tidak satupun yang berbahasa Gorontalo. Apakah hal seperti ini tak layak kita apresiasi?
Intinya, ajak Usdar, marilah berkompetisi di Pilkada Makassar ini tanpa mencederai etika berdemokrasi.
Saling menghormati itu lebih terhormat dibanding saling mencederai.
Warga Makassar oleh banyak orang disebut sudah sangat cerdas. Maka janganlah kita bertindak bodoh di hadapan mereka (Zhoelfikar)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya