Matemija, April 2020 Puncaknya mi Covid-19

25 March 2020 10:46
Matemija, April 2020 Puncaknya mi  Covid-19

 

BugisPos – Rasa takut masyarakat di negeri ini terhadap wabah Covid-19 atau virus corona, semakin memuncak tatkala ada lagi warga yang meninggal. Masyarakat sungguh dihantui oleh pandemi Covid-19 ini, yang melanda dunia termasuk Indonesia. Dampaknya kemudian perekonomian menjadi sangat terganggu.

Sejumlah prediksi pun bermunculan. Sejumlah analisa ilmiah terus mencuat. Sejumlah penelitian tersebut pada mencoba menggambarkan perjalanan Corona Virus Disease (Covid-19). Yang paling terbaru, ialah penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Peneliti ITB, Nunu dan timnya, menganalisa penyebaran Covid-19 di Indonesia akan mencapai puncak pada minggu kedua atau ketiga April dan berakhir akhir Mei atau awal Juni. Dikutip dari Kompas, Selasa (24/3/2020), prediksi itu berdasar hasil simulasi dan pemodelan sederhana prediksi penyebaran Covid-19 yang dilakukan Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB. Nuning Nuraini menggambarkan, salah satu tim peneliti yang melakukan simulasi tersebut menemukan pergeseran hasil dari yang ramai dibicarakan sebelumnya.

Hasil penelitian mereka menunjukkan jika puncak persebaran Covid-19 itu pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020 dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600.

Penelitian tersebut menggunakan model Richard’s Curve Korea Selatan karena sesuai dengan kajian Kelompok Pemodelan Tahun 2009 yang dibimbing oleh Prof. Dr. Kuntjoro A. Sidarto.

Model tersebut terbukti berhasil memprediksi awal, akhir, serta puncak endemi dari penyakit SARS di Hong Kong tahun 2003.

Model Richard’s Curve terpilih ini lalu mereka uji pada berbagai data kasus COVID-19 ter lapor dari berbagai macam negara, seperti RRT, Iran, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, termasuk data akumulatif seluruh

dunia.

“Jadi begini, saat saya menuliskan hal tersebut saya melihat data update per tanggal 14 Maret 2020. Indonesia masih berada di titik 96, lalu difitting data dari beberapa negara yang saat itu sudah terlebih dahulu memiliki

data, dan pelakukan penanganan pencegahan,” kata Nuning, Senin (23/3/2020). Dari negara-negara tersebut, kata Nunung, Korsel memiliki selisih data terbaik dibanding yang lain.

“Sehingga dipilih model data Korsel. Jadi kecocokan nya dilihat dari selisih error perhitungan. Itu saja. Padahal Korea telah melakukan penanganan yang cukup massive,” tutur Nunung .(**/azis)

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya