Oleh : Rahman Rumaday (Founder Komunitas Anak Pelangi)

Ada Apa ki Dengan Covid-19

10 April 2020 23:40
Ada Apa ki Dengan Covid-19
Rahman Rumaday (Founder Komunitas Anak Pelangi)

BugisPos — Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? “Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta .(QS. al-Ankabut : 2-3)

Apa yang kemudian menimpa dunia hari ini khususnya Indonesia dengan hadirnya seorang makhluk ciptaan Allah yang bernama CORONA membuat semua orang khawatir dan takut padanya mulai dari orang yang diamanahkan memegang jabatan tertinggi yang kehidupannya dijamin dari segala kondisi. Kesehatan, makan minum, keamanan terhadap dirinya berlapis-lapis sampai pada makhluk paling terkecil seperti nyamuk dan semut pun tidak berani menyentuhnya. Sampai pada  masyarakat paling kecil yang kehidupannya tidak terjamin kesehatannya, makan minumnya, bahkan kesehariannya berhadapan dengan maut karna tidak ada jaminan keamanan untuknya. Semuanya tunduk dan takut pada  salah satu makhluk ciptaan Allah yang dikirimkan oleh Allah ke muka bumi saat ini yang bernama VIRUS CORONA.

Tentunya saya sebagai hamba-Nya. Berprasangka bahwa mungkin ada maksud dan tujuan Allah dibalik hadirnya si VIRUS CORONA itu, mungkin sebagai bentuk ujian dari-Nya kepeda hamba-Nya yang bernama manusia yang selama ini mengaku dan merasa dirinya paling hebat, paling terbaik, paling benar dan hebat di antara yang lain, dia yang mampu yang lain tidak, bahkan merasa dirinya serba bisa. Karakter atau sifatnya sebagai masuia yang zalim dan bodoh sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 72. “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Kezaliamn dan kebodohan manusia dalam ayat ini disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat dan memelihara bumi beserta isinya sesuai ketentuan Allah.

Kemudian karakter atau sifat lain dari seorang manusia yakni “TIDAK ADIL” berlaku adil adalah tindakan yang terkadang kurang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita mengambil pelajaran dari suatu kejadian yang terjadi beberapa abad yang lalau yakni kaum madyan yang tidak berlaku adil, lalu akhirnya diazab oleh Allah. “Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud : 85)

Dan juga kecenderungannya takabbur, membanggakan diri, riya (suka pujian dan sanjungan), popularitas, dan sebagainya.sehingga sifat Syaithaniyah, yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan caracara yang jahat.

Oleh karena itu saya selaku manusia biasa yang juga bagian dari masyarakat yang hidup dan berada ditengah-tengah msyarakat biasa yang ikut mersakan dampak dari musiba yang diturunkan oleh Allah yakni VIRUS CORONA yakin dan percaya bahwa apa yang terjadi hari ini adalah bagian dari ujian Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengevaluasi diri terhadap apa yang diamanahkan kepedanya baik yang berhungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Dan ujian akan segerah berakhir apabila kita dapat menyadari hal tersebut, karena Allah tidak akan menurunkan suatu ujian atau beban kepada hamba-Nya dluar kadar kemampuan hamba-Nya.

Dan juga untuk segerah keluar dari musiba ini terdapat dua aspek yang apabilah benar-benar dijalankan maka kita akan benar-benar keluar darinya dianataranya :

1. Aspek Taat

Aspek ini tidak hanya berlaku pada yang diperintah saja tapi juga pada yang memberikan perintah, yang memberikan perintah dituntut untuk komitmen, konsisten terhadap apa yang diperintahkan dan benar-benar menjalankan, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.”  kalau tidak maka yang diperintah ogah-ogahan untuk menaati perintah tersebut. Sebagaimana sebuah perkataan yang mengatakan  “Berikan kami keteladanan maka kami akan serahkan semua ketaatan itu padamu.”

Dan juga kepada yang diberikan perintah berupaya semaksimal mungkin untuk menaati dan menjalankan atas apa yang diperintahkan kepadanya, keringan dan kemudahan itu akan selalu hadir bersama orang-orang yang menaati perintah dan dijauhkan dari bencana dan juga pahala baginya atas ketaatannya terhadap perintah “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

2. Aspek Kompak

Aspek ini sangat penting dalam hal menyelesaikan suatu masalah sebutlah masalah VIRUS CORONA yang menimpa negera kita tercinta indonsia, bahwa  mulai dari tingkat pusat, provinsi, kota dan kabupaten bahkan sampai pada tingkat RT, harus seiring seirama kalau istilah rumus kimia disebut dengan istilah “SENYAWA”  Senyawa arinya zat yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang berbeda hasil bergabung secara kimia

Kubur dalam-dalam persaan saling menyalahkan, merasa hebat sendiri, saling melempar tanggung dan seterusnya. Mari saling bergandengan tangan untuk mencari solusi dari musiba ini sehingga segerah keluar dari musiba tersebut. Istilah orang Maluku “Ale Rasa Beta Rasa.”  “Aleh selingku Beta Lapas.”

Demikian pulah Allah menawarkan cinta-Nya kepada hamba-Nya apabilah hamba-Nya dalam perjuangannya kompak dan bergandengan tangan dan berdiri kokoh untuk kemaslahatan orang banyak maka cinta-Nya akan hadir bersamanya sebagaimana firmman-Nya dalam surat As Shaff ayat 4 yang artinya “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Sebagaimana yang terdapat dalam salah satu pilar Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetap satu jua. Ini yang kemudian  menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis pada lambang negara Garuda Pancasila.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya