Virus Corona dan Sembako

05 May 2020 13:44
Virus Corona dan Sembako
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos — Ada fenomena lain di tengah wabah Covid-19. Bahwa kebijakan pemerintah melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menyuruh warga berdiam di rumah saja selama dua pekan.

Bila keluar rumah harus pakai masker, menjaga jarak 1,5 meter dari orang lain, menutup semua usaha kecuali usaha tertentu, dan lain-lain dan lain-lain. Setiap orang harus rajin cuci tangan, semua tempat disemprot cairan disinfektan. 

Semua itu dilakukan, untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona kepada makhluk bernama manusia. Teorinya, bila tak ada orang keluar rumah selama dua pekan, maka virus corona akan stres dan mati sendiri. Kalau jutaan virus yang menyebar di satu kota umpamanya, tapi tidak menemukan manusia, lalu virus itu mati dengan sendirinya, maka berlalulah ancaman Covid-19, dan kota itu bisa kembali normal. Begitu kira-kira idealnya.

Masalahnya ialah, orang juga butuh hidup. Tak semua orang adalah ASN, Polisi, Tentara, pegawai BUMN, yang biar diam di rumah gajinya tetap jalan.

Jauh lebih banyak orang yang tak bisa bekerja, artinya tak bisa dapat uang, artinya akan mati kelaparan. Disitulah pemerintah harusnya hadir membagi makanan kepada warga yang membutuhkan siang dan malam. Bukannya cuma membagi sembako dalam jumlah terbatas, yang hanya sekali sepanjang dua minggu orang harus tinggal di rumah.

Membagi sembako juga tanggung. Cuma membagi ke 60 ribu kk, padahal warganya sebanyak 1,6 juta jiwa. Aneh memang, padahal ratusan miliyar duit disiapkan pemerintah untuk menghidupi warganya, tetapi yang terjangkau hanya di 60 ribu kk. Ke 60 ribu kk itupun cuma kebagian satu kali saja, padahal mereka harus diam di rumah selama dua pekan.

Dampak pandemi Covid-19 ini, memang sungguh-sungguh telah memporak-porandakan kehidupan di 170 negara. Bangkrut, PHK, kelaparan, dan segala urusan terganggu, bukan saja urusan duniawi, tetapi juga urusan akhirat. Faktanya, Mesjid harus tutup selama PSBB berlangsung.   

Krisis pandemi Covid-19 ini, adalah krisis wabah dunia setelah 100 tahun. Tahun 1920 juga ada wabah dunia. 1820 juga ada, 1720 juga ada. 1620 juga pernah terjadi. Agaknya siklus pandemi seperti ini sudah diatur oleh penguasa alam semesta, bahwa dalam setiap 100 tahun akan ada wabah yang menerjang orang sedunia. 100 tahun ke depan mungkin juga akan ada wabah dunia dalam bentuk lain, yang akan menimpa anak cucu kita kelak. Itu jika tak keburu kiamat ***

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya