Editor : Zhoel

Mengakali Covid-19 Cukup mi kah dengan Behavior Imunity ?

30 May 2020 15:12
Mengakali Covid-19 Cukup mi kah dengan Behavior Imunity ?
Usdar Nawawi

BugisPos — Media South China Morning Post mem publist baru-baru ini,  bahwa Tim peneliti dari Harvard Universitas Harvard, Amerika Serikat, menyebut Wabah virus corona dapat berlanjut hingga hingga akhir tahun 2024.

Kecuali jika vaksin atau perawatan yang lebih baik untuk pasien terinfeksi virus corona sudah tersedia. Atau kapasitas perawatan kritis bisa meningkat secara substansial.

Prediksi dari penelitian ilmiah ini tentu saja belum pasti benar. Tetapi dia akan lebih pasti kebenarannya dibanding dengan sejumlah perkiraan yang tidak berlandaskan penelitian ilmiah.

Dengan prediksi seperti ini, maka kita akan membayangkan betapa panjang waktu bagi masyarakat dunia menghadapi pandemi Covid-19 ini. Mungkin saja karena itulah, Presiden Jokowi  berkesimpulan, sebaiknya kita semua berdamai saja dengan Covid-19 ini.

Cara berdamai, tentu tak hanya memasifkan protokol kesehatan, dengan rajin cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, ukur suhu badan, semprot disinfektan, dan seterusnya.

Cara berdamai tentu saja tak bisa hanya sekadar pemberlakuan new normal, seperti ide Kadis Kesehatan Sulsel dr, Ichsan Mustari, yang cuma akan menerapkan Behavior Imunity di Sulsel pada era new normal itu.

Bahwa behavior imunity yang digagas itu sungguh tak lebih dari konsep protokol kesehatan. Pada imunitas perilaku memang penting menerapkan protokol kesehatan dimana-mana, tetapi apakah inovasi kita hanya cukup sampai di situ saja? Tidak adakah cara-cara elegan untuk melengkapi konsep behavior imunity itu? 

Apakah kita hanya bisa terpaku pada keadaan dimana dunia kedokteran belum menemukan vaksin penawar Covid-19 ? Harusnya kita berkata ; tidak. Kita mesti punya inovasi bagaimana menemukan obat penawar Covid-19 yang telah disediakan Tuhan di sekitar kehidupan kita.

Saya tertarik pada ide Pj. Walikota Makassar, Prof. Yusran Jusuf, yang mencoba memanfaatkan ramuan kearifan lokal dalam menghadapi Covid-19.

Yusran Jusuf  dengan cerdas melihat tentang potensi penawar Covid-19 ada pada tanaman lokal kita, seperti buah pace (mengkudu), jahe, kunyit dan sejenisnya. 

Hanya saja Prof. Yusran Jusuf tak menyebutkan, apakah pemanfaatan tanaman lokal ini akan melibatkan ahli atau praktisi herbal atau tidak. Pj. Walikota hanya menyebut akan melibatkan langsung masyarakat kota membudidayakan tanaman lokal tersebut.

Artinya, ide pemanfaatan tanaman lokal tersebut belum terkonsep secara lengkap dan ideal, dalam konteks penggunaan dalam berdamai dengan Covid-19.

Sebetulnya sudah ada herbal produksi rumahan di Makassar yang diberi nama Jus C-19 yang diracik oleh Irwan Paturusi dari bahan dasar buah pace (mengkudu), dan sudah dikonsumsi oleh ribuan orang, baik untuk mengobati Covid-19 maupun untuk berjaga-jaga agar tidak terjangkit virus corona. 

Jus ini bahkan telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulsel dan di luar Sulsel. Faktanya, memang sudah banyak menyembuhkan pasien corona.

Hanya saja, baik Pemkot Makassar maupun Pemprov Sulsel, belum juga memberi perhatian atas produk rumahan ini. Padahal bila produk ini dimanfaatkan pemerintah daerah, bisa saja Sulsel keluar jadi pemenang terbaik melawan Covid-19.

Yang terjadi di lapangan, baru sebatas oknum pejabat atau oknum dokter yang mengkonsumsi diam-diam, dan membawa kesembuhan bagi mereka dari wabah Covid-19. Di lain sisi, pemerintah daerah sepertinya tak tertarik dengan obat covid lokal ini, dan memilih pasrah pada situasi belum ditemukannya vaksin penawar Covid-19.

Sangat disayangkan memang. Tetapi itulah yang terjadi. Bahkan pernah ada perintah melarang Jus C-19 ini masuk ke tempat isolasi di empat hotel di Makassar. Padahal yang memesan Jus itu adalah mereka yang terpapar corona di kamar isolasi. 

Kemudian keluar pengumuman pemerintah daerah, bahwa alhamdulillah sudah ratusan pasien yang dinyatakan sembuh. Hanya tak disebutkan obat apa yang diberikan ke mereka sehingga sembuh. Padahal mereka para pasien itu pada diam-diam mengkonsumsi Jus C-19. Itu pun mereka dapatkan dengan gratis dari peraciknya, Irwan Paturusi, adik kandung Prof. Idrus Paturusi. 

Tujuan utama Irwan Paturusi, seperti diungkapkan ke penulis beberapa waktu lalu, adalah untuk menolong secara gratis kepada mereka yang positif Covid-19 ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya