Jangki Terlalu, Menuding Nurdin Abdullah Peramal dan Berbohong

03 June 2020 17:57
Jangki Terlalu, Menuding Nurdin Abdullah Peramal dan Berbohong
Gubernur Nurdin Abdullah

BugisPos – Beberapa hari ini, segelintir orang terang-terangan membully gubernur Nurdin Abdullah di media sosial sebagai peramal dan berbohong. Itu mencuat di medsos sejak 31Mei 2020 hingga hari ini, dan mungkin juga pada hari-hari berikutnya. 

Tudingan itu berawal dari pemberitaan media detikcom yang dipublis Jumat, 08 Mei 2020, berjudul “Gubernur Targetkan Akhir Mei Sulsel Mulai Terbebas dari Corona”

Isi pemberitaan menyebut, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menargetkan di akhir Mei kasus positif virus Corona (COVID-19) sudah mulai turun dan mendekati nol kasus. Nurdin meminta tim Satgas COVID-19 di seluruh wilayah Sulsel untuk lebih masif melacak kontak langsung para pasien positif Corona.

“Saya sangat berharap kita lebih masif lagi untuk melakukan tracking kontak supaya kita betul-betul bersih dari sumber-sumber penularan, akhir Mei sudah bisa landai dan mendekati titik nol, sehingga kehidupan bisa berjalan normal,” ujar Nurdin seperti dikutip detikcom.

Nurdin ingin agar para bupati/wali kota yang menjadi ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di daerah, agar fokus menyembuhkan pasien positif hingga PDP. 

Ketua Tim Relawan Nurdin Abdullah Community (NAC) Sulsel, Usdar Nawawi, menanggapi tudingan yang meyebut gubernur Nurdin Abdullah berbohong dan peramal, adalah tudingan yang berlebihan, tanpa mencermati isi pemberitaan media tersebut.

Kata Usdar Nawawi, mereka hanya membaca judul berita tanpa mencermati isi pemberitaan. Atau mungkin bisa saja mereka paham betul isi pemberitaan itu, tetapi sengaja dibuat menjadi issu panas, bahwa gubernur berbohong dan menjadi peramal, sebab ternyata pandemi Covid-19 di Sulsel tidak menurun bahkan malah bertambah.

Menurut Usdar Nawawi, sangat jelas gubernur Nurdin Abdullah menyatakan di bulan Mei 2020 pandemi Covid-19 ditargetkan menurun, adalah doa, adalah isayarat keinginan, harapan, dan motivasi bagi seluruh bupati/wali kota se Sulsel, agar mereka bisa bekerja keras memutus mata rantai pandemi. Mereka toh para bupati/wali kota itu adalah ketua gugus tugas penanganan Covid-19 di daerah masing-masing. 

Bahwa dengan belum menurunnya angka-angka Covid-19 di Sulsel, hal itu sangat tergantung pada kerja-kerja para bupati/wali kota. Gubernur sendiri selaku ketua tim gugus tugas Covid-19 tingakat Sulsel, mensupport bantuan, baik itu APD, sembakol, dan menyiapkan lahan dan teknis pemakaman sesuai protap Covid-19 yang berlaku, dan memberi semangat. 

“Bila orang menyebut gubernur berbohong dan bahkan dicap sebagai peramal, adalah hal yang sungguh keliru. Di pemerintahan itu setahu saya, tak ada yang disebut ramalan. Yang ada ialah prakiraan, atau rencana, atau target. Apa yang ditargetkan itu juga belum tentu tercapai, meskipun diharapkan tercapai, demi masyarakat Sulsel itu sendiri. Ini soal wabah dunia yang sulit diprediski akan seperti apa akhirnya” kata Usdar.

Bahkan boleh jadi, kata Usdar, orang yang menuding Nurdin Abdullah itu berbohong dan menjadi peramal, malah mereka bisa disebut melakukan pembongan publik. Mereka bisa saja disebut membolak-balik cerita dengan maksud membohongi publik, agar publik menjadi tidak suka dan benci kepada gubernur. 

“Jika Sulsel telah berhasil menuntaskan masalah pandemi Corona di akhir Mei, selanjutnya Nurdin meminta bupati/wali kota untuk langsung mengantisipasi masalah ekonomi pasca pandemi Corona” itu yang ditulis Detikcom.

Jika, andakata, seandainya, apabila, dan seterusnya, adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang belum pasti. Artinya gubernur tidak memastikan. Dia hanya sebatas berharap kepada para bupati/wali kota untuk bekerja maksimal menangani dampak Covid-19. 

Karena itulah Usdar berharap, sebaiknya kita semua berlaku bijak dalam mencermati setiap perkataan gubernur Nurdin Abdullah. Bukannya membolak-balik pemaknaannya untuk digelindingkan menjadi bola panas di tengah masyarakat.

Dikatakan, dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, kita semua butuh persatuan dan kebersamaan. Mungkin saja kita mengritisi gubernur dengan sangat tajam, tetapi justeru kita sendiri tak menjalankan protokol kesehatan dalam keseharian kita. Mungkin saja kita sendiri tak memotivasi keluarga atau teman atau tetangga, atau kepada siapa saja, agar mereka dapat menjalankan protokol kesehatan demi menyelamatkan jiwa banyak orang. Mungkin saja (darna)

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya