Curhatan Seorang Anak yang Merasa Ditipu Tim Gugus Tugas Covid 19

Tega ta Kasi Begitu ki Ummi ku Kodong

03 June 2020 22:54
Tega ta Kasi Begitu ki Ummi ku Kodong
Andi Esa Abram mencoba menghalangi ambulance yang membawa jenazah ibunya.

BugisPos — Andi Esa Abram anak dari Almarhumah Nurhayani Abram (48) pasien PDP yang dimakamkan di pemakaman khusus pasien covid 19 karena divonis covid 19 dan hasilnya dikemudian hari ternyata negatif mengungkapkan kerisauan hatinya karena merasa ditipu oleh tim gugus tugas covid 19 melalui kronologi kejadian yang dikirimkan ke meja redaksi BugisPos, Rabu (3/6/2020).

Adapun kronologinya tidak diedit sedemikian rupa untuk menjaga originalitas tulisan Andi Esa Abram. Berikut ini kronologinya :

Jumat, 15 Juni 2020

Saya menerima telpon dari Etta (Papa) pukul 14.47, etta saya ingin berbicara dengan Ummi (Mama), saya membangunkan ummi dan memberikan Handphone saya. Setelah kurang lebih 2 menit bicara, sambungan telpon dimatikan. Saya melihat ummi saya susah menahan Hp nya sendiri dengan tangan kiri. Saya bertanya “kenapaki ummi?”, ummi jawab “tidakji, belumpeka bangun bae2 ini, kagetka tiba2 bangun, mau dulu kukasih baik prasaanku”. Tetapi saya melihat ada yang aneh dengan gerakan tubuh ummi. Ummi susah bangun dan susah menggunakan tangan kirinya.

Setelah itu ummi bangun sendiri dan duduk di kursi dengan gerakan yang sempoyongan (oleng/seperti mau jatuh) jadi saya dan Alya (adik bungsu) mengawasi ummi. Kacamata ummi patah dan berusaha memperbaikinya, tapi lagi-lagi gagal karena tangan kirinya yang sudah mati rasa. Ummi menggigit, mencubit tangannya berusaha merasakan, dan kami bantu dengan pijatan di kaki dan tangan, tapi tangan kiri ummi tetap tidak merasakan apapun.

Ummi bangkit dari kursi dibantu Alya (berencana ingin pergi ke rumah ibu Aji untuk Tanya-tanya obat), sebelumnya ummi masuk ke toilet untuk buang air, kami khawatir ummi akan jatuh karna kondisi badannya yang sempoyongan makanya ditemani alya di toilet. Setelah itu ummi berganti baju sendiri menolak dibantu, dengan susah payah memakai baju lengan panjang dan celana panjang, saya memasangkan jilbab. Kami pun pergi kerumah ibu aji namun ibu aji tidak ada, kami menyeberang pergi kerumah tante kebo (tetangga) untuk bertanya obat. Kaki ummi masih lumayan kuat untuk berdiri dan mengangkat perlahan. Sesampainya dirumah tante kebo, ummi duduk dikursi dan cerita dengan tante kebo tentang obat dan klinik terdekat. Ummi masih bisa bicara namun bibir kirinya sudah miring. Tante kebo menyarankan kami pergi ke apotik lorong sebelah untuk cek tensi. Alya pergi untuk cek apotik tersebut kalau-kalau mungkin saja tutup.

Setelah keluar dari pagar tante kebo, kakinya ummi sudah tidak tertahankan lagi, ummi pun lemas, dengan sigap tetangga yang melihatnya segera membantu saya untuk supaya ummi bangun berdiri. Tante kebo masuk mengambil kursi. Tapi ummi sudah sangat lemas, makanya kami bawa ummi pulang ke rumah dengan mengangkatnya gotong royong. Sesampai dirumah, ummi kami dudukkan di kursi dan saya menelpon teman yang dilimbung untuk minta bantuan bawa mobilnya untuk bawa ummi ke Rumah sakit segera. Ibu Aji tetangga didepan rumah memberikan saran untuk ummi di bawa dulu ke klinik dokter di lorong sebelah. Dengan bantuan beberapa tetangga, kami bawa ummi duduk di Bentor, dengan susah payah karna ummi sudah tidak sanggup untuk berdiri dan badannya sudah lemas.

Saya dan alya membawa ummi ke dokter yang disarankan, tetapi prakteknya belum buka, jadi saya bawa ummi ke apotik saja untuk cek tensi. Sampainya di apotik, apoteker disana bilang alatnya tidak bisa dibawa keluar karena sudah steril, pasiennya harus masuk ke dalam apotik. Kami coba untuk menurunkan ummi turun dari bentor, tapi sangat susah, ummi terduduk di tempat kaki bentor dengan kaki terlipat, saya melihat itu menyiksa ummi makanya saya dan beberapa orang yang membantu didepan apotik kembali mendudukkan ummi di bentor dan dibawa pulang ke rumah.

Setelah sampai di rumah saya menjelaskan keadaan di lorong sebelah tadi dengan beberapa tetangga, dan saya ingin membawa ummi ke Rumah sakit. Ibu Aji depan rumah menyuruh saya membawa ummi ke Rumah Sakit karena katanya disana khusus stroke. Tidak berselang lama, teman saya sudah sampai, segera kami ingin membawa ummi ke dalam mobil. Ummi sempat menolak dan mengatakan “Bawa meka masuk, mauka tidur, mengantukka” seketika air mata saya tidak bisa saya bendung. Setelah itu kami bergotong royong membawa ummi masuk kedalam mobil.

Diperjalanan ke rumah sakit, ummi terus mengeluh kepalanya sakit. Saya dan Alya bantu untuk pijit-pijit kepala, tangan dan kakinya ummi. Sepanjang perjalanan ummi mengeluh sakit kepala sampai menangis. Sesampainya di rumah sakit Dadi, kami di tolak, dengan alasan rumah sakit Dadi sekarang menjadi RS rujukan covid. Oleh karena itu saya menelpon tante (kakak ummi) untuk bertanya RS terdekat dari RS Dadi, dan RS Bhayangkara menjadi pilihan. Kurang Lebih jam 5 sore kami sampai di RS Bhayangkara, saya meminta kepada teman saya untuk memanggil dokter ke mobil, datanglah dokternya sambil membawa ranjang IGD, sebelumnya saya ditanya-tanya soal keadaan ummi, saya menjelaskan “Badan sebelah kirinya mati rasa, terutama tangan dan mengeluh sakit kepala sejak awal”. Dokter mengatakan jika ingin dirawat di RS Bhayangkara sebelumnya harus ada Screening dulu untuk pemeriksaan covid, kemudian nanti akan CT scan kepala juga. Sejenak saya masih bingung, maka saya diskusikan dengan Om saya (Arum Spink), Etta pipink mengatakan “ya sudah, ikuti saja dulu semua prosedurnya”. Setelahnya ummi kami gotong naik ke ranjang IGD dan membawanya masuk ke IGD.

Ummi langsung ditanya oleh dokter IGD mengenai keluhannya. Setelah itu masih menunggu lagi penanganan selanjutnya, kemudian saya diberi resep oleh dokter dan disuruh untuk mengurus administrasinya terlebih dahulu, saya pun pergi ke bagian administrasi dan mendaftarkan ummi. Saya mengisi data ummi di form pendaftaran kemudian tanda tangan, kemudian saya diberi lagi beberapa kertas untuk diisi kemudian disuruh tanda tangan. Saya hanya sempat melihat kalau itu kertas prosedur covid dan tidak membacanya karena panjang mengingat saya harus menebus obat di apotik. Maka saya langsung saja mengisi data dan tanda tangan. Bagian administrasi sempat menjelaskan bahwa apabila akan dirawat inap “Keluarga pasien tidak boleh lebih dari 1 untuk merawat, tidak boleh bawa bantal, sendok, piring, fasilitas lainnya sudah disediakan” dan saya pun mengiyakan. Setelah itu saya langsung naik ke lantai 2 untuk menebus obat di apotik.

Di apotik, saya diberikan infus plastik segiempat dan beberapa obat di botol-botol kecil. Saya pun langsung membawa obat tersebut ke IGD. Berselang beberapa menit, infus dan obat-obatan itu pun diaplikasikan ke ummi. Ummi yang ditemani Alya sejak tadi masih saja mengeluh sakit kepala sampai obat sudah masuk kedalam tubuh masih mengeluh sakit dan meminta saya untuk membelikan saja obat paramex, saya pun menolak karna takut ada indikasi lain. Saya meninggalkan ummi dan alya di IGD untuk membeli Air untuk berbuka dan ummi juga Haus. Kembalinya saya dari warung ummi terus-terusan mengeluh sakit kepala dan meminta obat yang diminum. Saya heran kenapa obat tadi tidak bereaksi, saya pun bertanya kepada dokter dan perawat yang ada di IGD. Mereka mengatakan sebentar lagi akan bereaksi. Menunggu beberapa saat, saya pun bertanya kapan akan di screening dan CT Scan karena kepala ummi saya sakit sekali, dokter berpakaian abu-abu mengatakan “iya sebentar lagi, yang lain masih berbuka puasa” dan kami pun kembali menunggu.

Sekitar hamper jam 7 saya diberikan lagi resep obat ke-2, dokter mengatakan “ini resep dari dokter saraf, karena kepala pasien sakit”, saya pun langsung berlari untuk menebus obat tersebut. Obat-obatan itu adalah infus botol plastik yang biasa digunakan dan beberapa obat di botol-botol kecil yang jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya. Saya segera memberikan obat tersebut kepada dokter yang di IGD. Menunggu beberapa menit, datanglah dokter/perawat wanita berpakaian abu-abu untuk mengaplikasikan obat yang ke-2. Saya melihat cairan infus yang pertama sudah berubah warna menjadi merah muda yang sebelumnya bening, kemudian dia mengambil obat yang di botol-botol dan memasukkannya kedalam suntik, selang beberapa saat diapun mencabut selang infus ummi dan memberikkan suntik langsung lewat jembatan antara nadi ummi dan selang infus. Saya tidak mengingat berapa suntikan yang diberikan. Setelah itu, dia mengganti infus yang berwarna merah muda tadi dengan infus baru yang saya tebus ke-2 dan menyimpan infus merah muda itu di ranjang sebelah. Setelah itu selesai.
Ummi terus-terusan mengeluh sakit kepala, ummi berusaha mau duduk, saya dan Alya membantu ummi duduk. Setelah itu saya minta kepada alya menahan ummi dengan kuat. Saya ke meja perawat menanyakan kapan akan di screening dan di CT scan kepala, mereka mengatakan “iya, sebentar lagi”. Saya kembali ke ranjang ummi, menidurkan kembali setelah saya beri minum. Ummi meminta obat untuk diminum, rasa sakit kepalanya sudah tidak tertahankan. Saya menyuruh ummi untuk bersabar, sebentar lagi akan di CT Scan.

Setelah beberapa saat karna sedikit jengkel karena belum juga ditangani, saya kembali ke meja perawat dan bertanya kapan akan di tangani. Mereka bilang “iya tunggu sebentar, tunggu dokternya dating dulu”. Kurang lebih menunggu 5-10 menit dokter pun datang dan mengatakan akan dilakukan ronseng dan CT Scan kepala.
Sekitar pukul setengah 8 kami pun memabawanya untuk di tangani, Alya menunggu di IGD karena tante (kakak ummi) sudah menuju RS. Pertama dilakukan ronseng dada, saya yang dibantu perawat perempuan melepas bh ummi. Saya pun harus memegang ummi, karena ummi tidak berhenti bergerak , ummi terus-terusan mengeluh sakit kepala. Setelah selesai, selanjutnya CT scan kepala. Bagian ini sangat susah untuk direkam karena ummi sangat kesakitan dikepala karenanya tidak berhenti bergerak, berulang-ulang diulangi, ummi juga sempat hampir jatuh dari ranjang CT Scan. Ummi mengeluh ingin buang air, saya mengatakan setelah ini akan ke toilet. Setelah berhasil di rekam kami pun kembali ke IGD, sebelumnya ummi juga diambil sampel darahnya. Karena sudah tidak tahan ummi pun pipis dicelana, saya bilang “iye ummi, kencing meki, sebentarpi dibersihkan”. Setelah itu kami kembali ke IGD tapi bukan ke tempat sebelumnya, tapi IGD yang didalam ruangan yang berisi 3 orang pasien termasuk ummi. Ummi belum dimasukkan didalam kamar dengan alasan kamar rawat inap masih full.

Saya pun memanggil alya untuk mambawa tas yang berisi baju-baju ummi dan sarung, saat itu tante saya sudah datang. Ummi dipasangi alat pernapasan dan beberapa alat dipasang didada dan ditangan ummi, banyak kabel-kabelnya. Saat itu juga saya dibantu perawat untuk memasangkan sarung dan membuka celana ummi yang basah. Saya melap kencing ummi, tapi karena kain sedikit tempat tidur masih agak basah. Setelah itu perawat dan dokter meninggalkan kami. Saya mengatakan kepada alya untuk pulang saja kerumah dan mengemas barang-barang ummi termasuk sarung dan handuk. Saya meminta tolong kepada tante untuk mengantarkan Alya dan membawa barang titipan tadi ke RS. Setelah itu mereka pergi.

Saya masih menemani ummi dengan kesakitan dikepala. Ummi juga gerah sehingga ingin bolak balik tapi tidak bisa, membantu ummi memiringkan badan ke kiri dan mengipas belakangnya. Beberapa saat dokter memanggil, saya menitipkan ummi kepada keluarga pasien yang di ranjang sebelah. Saya pun menemui dokter. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan lab tadi. Pertama, dokter menjelaskan hasil rongseng dada, di paru-paru ummi terdapat sedikit infeksi di sebelah kiri bawah, dan dokter mengatakan karena terdapat infeksi di paru-paru ummi dinyatakan PDP. Namun dokter mengatakan bukan itu masalah yang utama, hasil CT Scan Kepala ummi terdapat pembuluh darah yang pecah di sebelah kanan, oleh karena itu, itulah penyebab ummi terkenan stroke. Ditakutkan pelebaran darahnya meluas kebagian otak kiri. Dokter mengatakan akan dilakukan operasi dan nantinya ummi butuh pearawatan ICU, tetapi hal itu harus didiskusikan dulu kepada dokter sarafnya. Sementara ini, ummi akan dirawat dulu dengan obat-obatan untuk mengurangi pendarahan di otak. Setelah itu saya melaporkan hasil tadi kepada Etta dan menyuruh etta untuk segera ke RS (saat itu etta berada di Bulukumba).

Saya kembali menemani ummi, sekitar jam 10 lewat ummi muntah kuning, saya segera membalikkan badan ummi ke kiri dan segera memanggil dokter. Dokter langsung menangani ummi. Mengeluarkan cairan yang masih tersisa dengan selang. Sesaat kemudian sudah datang membawa sarung. Ummi terlihat susah bernafas. Kemudian dokter memberikan resep, tante yang pergi menebusnya. Saya melihat dokter memberikan bantuan pernapasan dengan alat. Sesaat tante sudah datang dengan obat dan membawanya ke meja perawat. Kemudian mereka membawa obat tersebut masuk, saya hanya melihat obat yang dibungkusan tidak mengingat obat yang lainnya. Dokter berusaha memasang selang lewat hidung tembus lambung, tampaknya susah, saya melihat hidung selang itu ada darahnya, ummi sempat bersin. Kembali memasang selang lewat hidung, dan berhasil, namun seluruh badan ummi gemetar. Dokter selesai melakukan penanganan tapi badan ummi masih gemetar, dokter bilang “nanti akan kembali normal”. Mereka keluar.

Saya dan tante memberikan sarung tambahan ke badan ummi, tapi ummi tidak berhenti gemetar, saya memijat seluruh badan ummi, kaki tangan, telapak kaki yang menegang, saya khawatir, tidak ada dokter yang berusaha menghilangkan getaran tubuh ummi. Berselang setengah jam badan ummi gemetar, gemetarnya berkurang, tapi saya melihat keanehan di monitor, semua angka disana bertambah tinggi, saya langsung memanggil dokter. Dokter datang dan melihat, seketika dokter memegang HP dan mengatakan “Code Blue” saya pun langsung menangis memegang kaki ummi. Dokter lainnya datang, melakukan bantuan pernapasan, saya memeriksa nadi ditangan ummi, tidak ada, saya memeluk mendengar detak jantung ummi, sangat lemah. Lagi dan lagi dokter memberikan bantuan agar detak jantung ummi kembali normal dan tiba-tiba monitor memperlihatkan hasil garis lurus. Dokter menyatakan ummi meninggal, sebelum jam 12 ummi meninggal. Seketika saya menangis ditemani tante yang juga menangis. Kami tidak percaya ummi meninggal. Pagi harinya ummi baik-baik saja tidak ada gejala apapun akan sakit. Saya merasa keanehan kenapa tubuh ummi sangat bergetar. Dan akhirnya meninggal. Andai saja waktu itu mereka langsung melakukan operasi saja. Tapi mereka bilang harus diskusi dulu.
Waktu itu kami masih menunggu etta yang menuju RS, saya belum memberitahu etta kalau ummi meninggal karena etta bawa motor dari bulukumba, saya takut terjadi apa-apa dijalan. Saya tidak berhenti menangis sambil memegang mencium kaki ummi. Pukul setengah 2 etta baru tiba dan melihat ummi sudah tiada. Etta hanya bisa menangis. Kemudian saya meminta tolong kepada tante untuk pulang saja ke rumah kami, menyiapkan dan membersihkan rumah untuk ummi. Tante pun pergi. Saya mengatakan ke Etta agar segera menyelesaikan administrasi namun etta menyuruh saya untuk bertanya ke perawat kalau berapa total biaya perawatan dan kami sudah ingin membawa ummi pulang. Saya pun ke meja perawat untuk menanyakan. Namun dokter dan perawat disana bilang “Tidak bisa dibawa pulang, kami akan melakukan protokol covid karena pasien PDP dan akan dimakamkan di penguburan khusus covid”, saya pun menangis membantah kalau ummi bukanlah covid, saya memohon untuk ingin membawa ummi saya pulang. Saya menanyakan biayanya dan akan membayar , tapi itu semua ditolak oleh mereka. Saya pun kembali ke kamar IGD sambil menangis memberitahukan ke Etta. Seketika etta langsung membantah dan menolak untuk ummi di lakukan protokol covid. Dokter dan perawat juga bersikeras tetap menolak kami membawa ummi pulang ke rumah. Etta ingin mengangkat ummi sendirian keluar RS, tetapi saya menolak, karena pasti mereka yang diluar akan menghadang etta dan ummi. Saya tidak ingin ummi di oper-oper. Ummi pasti akan sedih melihat keadaan itu.

Sementara itu, saya menelpon tante yang sudah dirumah, mengatakan untuk kembali saja ke RS dan membawa adik-adik saya (Adel dan Alya). Saya terus memeluk ummi takut etta akan mengangkat ummi. Di luar kamar terdengar etta marah-marah tidak ingin ummi dimakamkan di pemakaman khusus covid. Kami ingin ummi di makamkan di Bulukumba (kampung halaman kami). Etta juga mengatakan akan membawa Ambulance sendiri dan membawa ummi pergi dari RS. Setiap dokter yang datang di kamar tersebut saya memohon untuk ummi kami agar kami bisa bawa pulang. Dokter mengancam akan memanggil tim gugus. Etta dengan segala upaya menelepon semua kenalan yang bisa membantu kami. Tim gugus pun datang ingin mengambil ummi, saya dan etta menolak mereka. Kami mengatakan akan membawa ummi pulang karena ummi kami bukan covid. Kami bersikeras untuk tetap ingin membawa ummi dan memakamkan ummi di Bulukumba. Mereka pun dengan tegas menolak.

Sementara itu saya tidak ingin melepas pelukan untuk ummi. Siapapun yang masuk/melihat diluar ruangan saya memohon untuk kami agar bisa membawa ummi pulang “Mohon kodong pak, saya mau kuburkan ummiku di bulukumba, ummiku bukan covid, ummiku meninggal karena stroke, pembuluh darah pecah diotaknya, bukanji covid. saya ingin bikinkan kuburan yang layak, selama hidupnya ummi belum pernah punya rumah sendiri, tolong kasiang pak” itulah ucapan yang saya selalu ulangi setiap saat, dibantu etta saya yang ikut memohon. Adik-adik saya yang sudah lama sampai di RS di hadang oleh mereka tim gugus yang ada didepan dan tidak mengizinkan adik-adik saya masuk untuk melihat ummi yang sudah meninggal. Mereka sangat kejam. Mereka tidak punya hati.
Sekitar jam setengah 5 subuh, kami di bujuk oleh beberapa dokter untuk tetap tenang dan tidak emosi serta melakukan pembicaraan yang baik dengan pimpinan gugus. Lama mereka membujuk kami, mereka mengatakan ingin mengafani ummi karena sudah terlalu lama, virus itu katanya akan menyebar kalau terlalu lama. Saya mengatakan ummi tidak covid, ummi baik-baik saja, ummi meninggal karena stroke. Saya meminta izin untuk memandikan ummi sebelum mereka ingin mengafani, karena saya anak perempuannya dan ada kakak perempuan ummi (perempuan) di depan RS, tetapi mereka menolak. Mereka mengatakan mereka akan melakukan tayammum saja kepada ummi sesuai prosedur. Tetapi saya amat sangat tidak setuju diawalnya, saya tetap bersikukuh untuk tetap akan memandikan ummi, karena ummi sempat hadats kecil. Tapi mereka juga menolak. Mereka tetap menolak. Etta saya mengatakan, “baik silahkan mandikan, silahkan kafankan, tetapi ijinkan kami membawanya ke bulukumba untuk dikuburkan”, saya pun ikut mengiyakan. Tidak lama, pimpinan gugus datang didepan kamar, etta dan saya tidak henti memohon kepada pimpinan tim gugus. Dan seketika etta saya langsung bersujud mencium sepatu pimpinan tim gugus tersebut, saya menangis tiada henti melihat peristiwa itu, entah dimana hati nurani mereka tidak memberikan kami izin padahal ummi kami bukanlah meninggal karena covid.

Mereka membujuk Etta agar membicarakan hal tersebut diluar, awalnya saya dan etta Ragu. Karena terlihat mereka sudah mengepung kami diruangan itu, banyaknya dokter yang datang untuk mengafani ummi membuat saya takut setelah itu mereka akan membawa ummi pergi. Namun mereka mengatakan “Mari kita bicarakan dulu pak diluar secara baik-baik, biarkan dokter disini mengurus jenazah istri bapak”, Etta juga merasa ragu namun akhirnya terbujuk dan menyuruh saya untuk tidak meninggalkan ummi serta membiarkan dokter untuk mengafani ummi. Etta melihat peti, etta mengatakan, “kalian silahkan mengafani istri saya, tapi kodong kasiang, janganki kasih masuk di peti, saya mau bawa ke Bulukumba istri saya untuk dimakamkan.” Petugas gugus mengatakan “iye pak, mari kita bicarakan baik-baik dulu didepan”. Dokter mengatakan akan menyolatkan ummi setelah dikafani. Etta mengatakan, “Tolong tunggu saya kembali, saya ingin ikut menyolatkan istri saya”, dokter mengatakan (Pak Haji) “iye pak kami Cuma akan tayammumkan ibu dan mengafani, kami akan sholatkan bersama bapak”. Etta pun keluar bersama tim gugus dan tinggallah saya bersama ummi dan dokter-dokter yang akan menangani ummi.

Pertama saya menanyakan kepada dokter (Pak Haji) “apakah tidak apa-apa hanya tayammum saja? Tadi ummi saya kencing dokter”, dokter mengatakan “tidak apa-apa kalau dalam keadaan yang seperti ini”. Tapi saya sangat tidak setuju ummi hanya tayammum, padahal ummi tidak covid dan bisa kami mandikan dengan layak, kafankan dengan layak jika saja mereka tidak menolak. Kemudian mereka menggelar plastik bening besar kemudian diatasnya ditaruh kain kafan berlapis dan kapas-kapas, melihat hal itu saya tidak berhenti untuk menangis. Mereka menyemprotkan juga disenfektan ke kafan ummi, Astagfirullah, entah kenapa mereka berpikiran kalau ummi itu covid.

Dokter mulai mentayammumkan ummi dan membungkus ummi dengan kain kafan. Saya rasanya ingin pingsan melihat hal itu, tapi saya harus tetap kuat dan tidak boleh lengah. Perlahan mereka menjauhkan saya dari ummi, mereka mengatakan ingin memasukkan ummi kedalam peti. Sudah tidak sesuai dengan perjanjian diawal, saya menerik peti tersebut dan menolak agar ummi dimasukkan ke dalam peti. Saya akan membawa ummi sendiri keluar. Tetapi 1 lawan banyak, mereka pun memasukkan ke ummi kedalam peti dan mengatakan “iya dek, kami hanya masukkan kedalam peti, kami akan menunggu bapak untuk menyolatkan ibu”. Saya pun tetap memegang peti dengan kuat dan tak ingin melepasnya. Namun tak lama kemudian, ada tim gugus yang menyuruh saya berdiri dan menenangkan diri, saya menolak. Tetapi dia langsung menarik saya dan saya melawan, ketika saya sudah agak jauh dari peti, mereka mengangkat peti ummi dan menaikkan ke atasa meja beroda. Saya pun dengan bersikeras ingin mencapai peti itu, tapi kekuatan saya kalah dengan 2 orang yang menghadang saya.

Saya hanya bisa menangis dengan keras, mereka tetap menyeret saya, menarik baju dan jilbab saya. Saya terseret ke lantai sambil menangis dan sekuat tenaga ingin meraih peti. Saya bertumpu pada besi yang di dinding, sambil merangkak perlahan. Saya melihat mereka menutup peti ummi dan mula memakunya, astagfirullah, ummi diperlakukan seperti jenazah covid. Saya menangis dan berteriak “Tolong tunggu etta saya, etta saya ingin melihat ummi saya , etta saya ingin ikut sholat jenazah, tolong tunggu etta saya” saya mengulang-ulang kata tersebut, namun bagaikan angina, saya tak di dengar. Mereka pun mulai sholat jenazah. Setelah sholat jenazah saya berlari ke peti, tinggal sedikit lagi menggapai peti, mereka kembali menghadang saya dan memegang tangan menyekap kaki saya agar tidak bergerak. Seluruh badan saya ingin patah rasanya diperlakukan seperti itu.

Ketika peti dibawa tepat didepan saya, saya pun dengan sekuat tenaga ingin meraih peti itu, tapi mereka berjalan cepat, saya mengikuti dari belakang sambil terseret-seret seperti barang karena ada 2 orang tim gugus yang menahan.

Sesampainya diluar, saya mencari-cari etta , tenyata sedari tadi, etta juga disekap oleh mereka. Hanya alasan mereka bilang ingin bicara baik-baik. Saya melihat adik saya (Adel dan Alya) yang sudah sejak malam hari menunggu dijanjikan akan masuk tetapi mereka membohongi adik-adik saya juga. Saya ingin ke peti ummi, tetapi di tahan oleh polisi bertameng, adik saya (Adel) ingin menembus , saya juga mencoba membantu tetapi kami terlempar ke tanah. Saya sudah tidak tahan lagi. Saya melihat etta tidur didepan mobil jenazah, berusaha menahan mobil agar tidak membawa ummi ke pemakaman umum tersebut. Adel pun memblok mobil jenazah dengan memeluk badan bagian depan mobil itu, saya tak tinggal diam. Saya naik keatas badan mobil dan tidak mau turun kalau mereka tidak menyetujui kami untuk membawa jenazah ummi ke Bulukumba. Kami menangis dan memohon kepada mereka untuk mengizinkan kami. Tapi lagi-lagi kami tidak didengar. Berlangsung beberapa menit kami memohon sambil menjalankan aksi blok mobil jenazah tapi kami tidak didengar. Kami pun diseret oleh petugas disana, etta saya ditarik, adel juga ditarik paksa, dan saya dikelitik dengan keras dan meyeret saya jatuh dari atas mobil . saya pun terduduk ditanah. Mereka segera menyalakan mobil. Mereka tidak mengizinkan kami untuk ikut di penguburan, namun segala cara kami lakukan. Etta mengambil motornya, saya pun naik, adel ikut naik dibelakang saya dan saya memanggil alya cepat untuk naik di depan. Kami ber-4 manaiki motor N-max, mengejar mobil ambulance tersebut yang diingiri beberapa mobil polisi. Mereka melaju dengan cepat sehingga kami yang gonceng 4 kesulitan untuk mengejar. Mereka membawa lari ummi, kami sempat kehilangan mereka, tapi segera menemukannya. Jarak RS ke tempat pemakaman lumayan jauh.
Kami sampai di tempat pemakaman, tepatnya di penguburan umum provinsi, gowa (Khusus penguburan jenazah yang covid). Saya langsung turun ke jalan diikuti dengan adik-adik saya, begitupun dengan etta. Kami ingin mengikuti mobil ambulance tersebut masuk ke area pemakaman dan ikut memakamkan ummi, tetapi kami dihadang oleh polisi yang menjaga disana. Sekali lagi kami ditolak. Kami tidak boleh ikut memakamkan ummi. Kami hanya boleh sampai di gerbang saja. Saat itu saya dan adik-adik terduduk lemas sambil menangis tidak tau lagi harus berbuat bagaimana. Etta pun menangis dan berteriak “Tega kalian”. Memang pada dasarnya mereka tidak mempunyai hati. Kami mengikuti seluruh ingin mereka, hanya 1 pinta kamu, kami hanya ingin menguburkan ummi di kampung halaman (Bulukumba) dengan layak, karena ummi bukan covid. Saya mencoba lagi merangkak masuk kedalam pekarangan , namun dihadang. Kami tidak melihat ummi dimakamkan , kami tidak mengetahui letak ummi dimakamkan disebelah mana, dan tidak tau apakah diberi tanda atau tidak. Kami hanya bisa menangis dengan keadaan yang kami tidak tau harus bagaimana lagi. Saya kembali memohon kepada polisi-polisi yang ada disana. Tapi ditolak.

Setelah selesai ummi dimakamkan, mereka pun (Tim gugus dan dokter yang menangani) meninggalkan kami dengan tega di tempat itu. Mereka pergi begitu saja. Merupakan tanda Tanya untuk saya, mengapa kami membiarkan kami tetap disana, mengapa mereka tidak membawa kami untuk di tes covid juga, kerena mereka sudah memvonis ummi covid dan melakukan prosedur covid untuk penguburannya. Mereka sangat tega dan tidak mempunyai hati. Kami masih tinggal untuk beberapa saat disana untuk mendoakan ummi dari luar. Tidak lama adel pingsan, tidak kuat lagi menahan kesedihan dalam diri. Kami pun segera memesan grab mobil untuk pulang ke rumah.

Sesampai dirumah, kami dihampiri oleh para tetangga, mereka sangat sangat tidak percaya ummi meninggal karena covid karena mereka melihat kondisi ummi sebelum kami bawa ke RS. Mereka ikut marah dengan perlakuan tim gugus yang memperlakukan kami tidak layak. Secara tidak langsung kami mendapatkan “Pencemaran Sosial”, tetangga dekat memang tidak percaya kalau ummi covid, tapi keluarga tidak ada yang datang kerumah begitu mendengar kabar covid, begitu juga dengan tetangga-tetangga yang jauh, mereka tidak akan mengerti jika kami tidak jelaskan 1 per 1 sampai hasil swab ummi keluar.

3 hari kemudian saya bersama tante (Kakak etta) pergi lagi ke RS Bhayangkara untuk meminta hasil rekam medis dan hasil swab. Pertama saya kebagian informasi, dan bagian informasi menyuruh kami ke IGD. Maka kami kesana. Sesampainya disana, saya menanyakan hasil rekam medis dan hasil swab a/n Alm. Nurhayani Abram. Setelah itu dokter disana menyuruh kami untuk menunggu diruang tunggu. Kami pun menunggu. Tidak lama kemudian datanglah teman tante saya (Eca) yang ingin membantu kami mendapatkan hasil rekam medis. Eca menghubungi salah satu dokter di RS tersebut yang bernama dr. syarif . dokter syarif mengatakan lewat via wa dengan eca “iye sementara dibuatkan resumenya, tabe’ menungguki”, kami kembali menunggu.

Setelah lama menunggu kami pun dipanggi kembali ke IGD. Dokter disana mengatakan bahwa mereka tidak berhak memberikan hasil rekam medis pasien karena itu katanya memang hak RS sebagai arsip. Saya pun mengatakan “tetapi dokter yang menangani ummi saya mengatakan nanti hasil itu akan diberikan ke saya beserta foto hasil CT scan kepala dan dadanya, kenapa sekarang lain? Kami ini keluarga pasien, saya anaknya”. Katanya itu instruksi dari tim manajemen RS dr. syarif dan katanya dokter syarif sedang berada di RS lain untuk melakukan operasi. Saya langsung mengatakan, “Kami tadi mendapatkan wa dari dr. syarif, katanya sudah dibuatkan”. Tidak lama kemudian dokter syarif muncul dengan pakaian dokter warna biru, hal yang sangat mustahil kalau dokter syarif sedang mengoperasi di RS lain dan tiba-tiba datang ke IGD (Mereka membohongi kami lagi). Dokter syarif menjelaskan bahwa kami hanya bisa mendapatkan resume medisnya. Saya bertanya, “apakah foto hasil CT scan kepala dan dadanya kami bisa dapatkan dokter?” kata dokter syarif “Tidak bisa, tapi hasilnya akan ditulis semuanya di resume”, saya sangat putus asa mendengar itu, mengapa tidak bisa.

Dokter syarif kemudian memberikan secarik kertas contoh permohonan resume medis. Ternyata unruk mendapatkan resume tersebut, saya harus memohon ke pihak RS. Saya rasa begitu dipersulit. Pertama, saya tidak bisa mendapatkan rekam medis beserta rakam fotonya, kedua saya di bohongi untuk mau bertemu dr. syarif, ketiga saya harus mengajukan permohonan lagi. Sebelum itu saya menanyakan untuk hasil swab nya, mereka mengatakan belum keluar paling lambat 5-7 hari baru bisa keluar. saya pun heran, dokter-dokter yang menangani jenazah ummi mengatakan hasilnya akan keluar paling lambat 3 hari. Sungguh tidak ada yang bisa saya percaya. Kemudian saya pun menulis permohonan tersebut, ditengah-tengah saya menulis surat tersebut, saya mendiskusikan dengan etta, etta mengatakan untuk tidak usah dulu melakukan permohonan. Oleh karenanya, saya pulang dengan tangan kosong waktu itu.

Hari ke 5 meninggalnya ummi, etta dan tante kembali ke RS untuk meminta rekam medis dan hasil swab ummi. Namun waktu itu hasil swab pun belum keluar, dan etta hanya memasukkan surat permohonan rekam medis.

Hari ke-7 etta kesana lagi berharap hasil swab sudah keluar. dan benar hasil swab sudah keluar dan hasilnya NEGATIF. Entah perasaan apalagi yang kami dapatkan, senang , sedih, marah sudah campur aduk. Kami marah karna ummi dimakamkan layaknya jenazah covid. Etta hanya bisa mendapatkan resume medisnya tanpa foto asli.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya