Andi Ryadi : Tabe, Tolong ka Kodong

24 June 2020 15:57
Andi Ryadi : Tabe, Tolong ka Kodong
Andi Esa Abram didampingi oleh Andi Baso Ryadi Mappasulle menyerahkan surat kepada anggota DPRD Sulsel.

BugisPos — Andi Baso Ryadi Mappasulle yang didampingi putrinya Andi Esa Abram membuat pengaduan secara resmi kepada DPRD Sulsel di Ruang Aspirasi DPRD Sulsel, Rabu (24/6/2020).

Dalam pengaduannya, mereka didampingi oleh tim solidaritas pengacara, LSM dan Ormas dari berbagai unsur.

Dalam penyampaian aspirasinya, mereka diterima oleh Andi Edy Manaf dari Komisi D Fraksi PAN dan Erfan dari Komisi E Fraksi PAN .

Andi Ryadi begitu akrabnya dipanggil, menyampaikan kembali kronologis kejadian mulai dari sakit hingga istrinya Almarhumah Nurhayani Abram wafat dan ditangani secara covid 19.

Suasana haru menyelimuti ruangan, ketika Andi Ryadi mulai menyampaikan kronologisnya. Sesekali ia nampak menyeka air mata yang mulai keluar seiring dengan suara yang terbata menahan duka yang mendalam.

Kedua anggota dewan pun tampak menundukkan wajahnya, tak tahan dengan kejadian yang menimpa Andi Ryadi.

Menurut Andi Ryadi, dirinya merasa diperdaya oleh gubernur dan tim gugus Covid terkait janji gubernur yang akan menindak lanjuti pemindahan makam istrinya itu.

“Saya merasa kecolongan, pertama sewaktu tanggal 3 Juni 2020, saya bersama dengan tim pengacara dan beberapa gabungan Ormas dan LSM akan mengajukan surat permohonan pemindahan makam, namun karena ada telepon dari keluarga yang katanya telah ditelepon oleh gubernur untuk bertemu, maka pada hari itu surat batal saya masukkan dengan asumsi saya akan menyerahkan langsung kepada gubernur. Namun kenyataannya, sesampai disana ternyata pertemuan dengan gubernur baru direncanakan, dan kami hanya ditemui oleh TGUPP atas nama Hendra Fachri,” jelasnya.

“Hingga pada tanggal 09 Juni 2020 dengan terburu-buru setelah saya menjemput anak saya dari Manado, akhirnya kami dapat bertemu dengan Bapak Gubernur beserta keempat anak saya yang difasilitasi oleh TGUPP Hendra Fachri. Dalam pertemuan itu ada beberapa poin yang gubernur janjikan. Karena pada pertemuan itu, adalah pertemuan keluarga, maka saya panggil “minta tolong ka ini Karaeng” agar makam almarhumah istri saya dapat dipindahkan. Beliau menyampaikan bahwa, akan melihat situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk pemindahan makam, yang kedua Beliau menanyakan bahwa apakah makam untuk almarhumah sudah disiapkan di Bulukumba untuk dipindahkan?, itulah point penting yang saya tangkap hingga saya berkesimpulan bahwa istri saya akan dipindahkan dalam waktu dekat. Namun apa yang terjadi kemudian, hingga hari ini tepat hari yang ke 40 almarhumah istri saya tidak ada kontak, informasi ataupun penjelasan dari pihak gubernur maupun dari Bapak Hendra Fachri (TGUPP),” protesnya.

“Jadi saya minta kepada anggota dewan, tabe, tolong bantu ka kodong,” katanya dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.

“Karena sudah ada kasus di Sukabumi yang sama dengan yang menimpa kami, namun jenazahnya sudah dipindahkan yang disaksikan oleh tim gugus tugas dan pemerintah setempat. Bahkan menurut Humas IDI, jenazah yang sudah 7 jam wafat, jenazahnya tidak dapat menularkan lagi, apalagi jenazah istri kami yang sudah 40 hari meninggal,” tambahnya.

“Tidak banyak ji permintaan ku kodong, simpel ji, bagaimana makam istri saya Almarhumah Nurhayani Abram dapat dipindahkan, itu ji,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Edy Manaf dan Erfan dari Fraksi PAN menjanjikan akan melaporkan hal ini kepada Ketua DPRD Sulsel yang selanjutnya akan diadakan RDP dengan mengundang semua yang terlibat.

“Ini merupakan kasus tuntutan pertama di Indonesia, semoga kasus ini menjadi pintu masuk bagi seluruh kasus korban Covid 19 yang ada di Indonesia,” ungkap Edy Manaf

“Karena hari ini hingga hari hari Jumat seluruh anggota dewan ada kegiatan di dapil masing-masing, Insha Allah minggu depan akan kita jadwalkan,” jawabnya.

Ditempat yang sama Tim Solidaritas Pengacara untuk Almh. Nurhayani Abram, Syamsuddin Nur, SH, MH menyampaikan sudah menyiapkan memori hukum baik itu tuntutan secara pidana maupun perdata apabila cara kooperatif berupa mediasi sudah menemui jalan buntu.

“Kita tunggu saja perkembangannya,” singkatnya.

Penulis : One

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya