KORUPSI : Gugur ki Satu Tumbuh Seribu

25 June 2020 20:42
KORUPSI : Gugur ki Satu Tumbuh Seribu
( Arianto Suyuti )

BugisPos — Korupsi bukanlah hal baru dalam peradaban manusia ,dimana fenomena ini telah dikenal dan menjadi bahan diskusi sejak 2000 tahun silam, ketika seorang Perdana Menteri Kerajaan India, Kautilya menulis buku berjudul “Arthashastra”. Dalam bukunya Arthashastra mengeksplorasi isu kesejahteraan sosial, etika kolektif yang mengadakan masyarakat bersama-sama, menasihati raja yang pada waktu dan di daerah hancur oleh kelaparan, epidemi dan tindakan alam seperti, atau dengan perang, ia harus memulai proyek publik seperti menciptakan saluran irigasi dan membangun benteng di sekitar kepemilikan strategis utama dan kota dan mengecualikan pajak pada mereka yang terkena.

Sama halnya Indonesia, korupsi sudah menjadi momok yang merugikan Negara dan banyak orang. Sebagai salah satu negara yang menduduki peringkat 85 dari 180 berdasarkan data Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia tahun 2019, begitu banyak kasus korupsi yang terjadi baik di lingkungan perusahaan swasta maupun lingkup pemerintahan menjadikan korupsi sebagai salah satu extra ordinary crime.

Gugur satu tumbuh seribu. Kalimat ini mewakili kasus korupsi yang terjadi di Indonesia.

Contoh kasus yang baru-baru ini terkuak ke publik yaitu kasus korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) yang diperkirakan hampir merugikan nasabah dan Negara sebanyak 27 Triliun terbongkar di Kejaksaan Agung pada tanggal 14 Januari 2020, dimana Kejaksaan Agung menahan 5 orang yang terdiri dari mantan jajaran direksi Jiwasraya dan pihak swasta. Masalah Jiwasraya sudah terjadi dari tahun 2000an pada masa Era Susilo Bambang Yudiono sampai Era Joko Widodo, ini bisa terjadi karena kurangnya pengawasan dari berbagai pihak untuk PT. Asuransi Jiwasraya (Persero).

Tak lama setelah kasus korupsi Jiwasyara terkuak muncul lagi dugaan kasus korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ( Asabri) bahkan tak kala fantastis dugaan korupsi dari kasus Jiwasraya yaitu lantaran diatas 10 Triliun kata bapak Menteri Koordinator Bidang Politik, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Belum lagi kasus-kasus korupsi seperti BLBI,Century dan KTP Elektronik yang belum terselesaikan serta yang menimpa para wakil rakyat kita yaitu aggota legislatif yang banyak melakukan penyelewengan anggaran yang menjadikan pembangunan untuk mensejahterahkan rakyat malah tak terlaksana. Ini bisa terjadi karena kewenangan KPK malah di lemahkan akibat UU KPK yang di sahkan oleh DPR. Inilah yang saya tak habis fikir bahwa di negara Indonesia ini korupsi seperti gugur satu tumbuh seribu yang dimana belum terselesaikan satu kasus korupsi malah muncul lagi kasus-kasus korupsi yang baru . inilah betapa bobroknya moralitas para pemangku jabatan di negara Indonesia ini. Beberapa kasus korupsi telah banyak terungkap , namun tak memberikan efek jera kepada pelaku korupsi dan pasti ada lagi pelaku baru korupsi yang bermunculan. Ini seperti kita memotong pohon pisang namun memiliki tunas yang bermunculan dan tak ada henti-hentinya bermunculan para pelaku korupsi ini .

Karena pada dasarnya perilaku-perilaku korupsi sudah ada di sela-sela di kehidupan kita, mulai dari kita anak-anak sampai dewasa yang masyarakat anggap ini merupakan hal yang biasa. Itulah yang kita harus ubah dari pola berpikir kita sebagai masyarakat Indonesia. Maka dari itu Pendidikan moralitas dan norma-norma agama harus di kedepankan agar nanti di masa akan datang para pemimpin kita menjadi pemimpin yang bersih dari kasus korupsi dan memiliki karakter yang berintegritas.

Penulis ( Arianto Suyuti )

Editor : Zhoelfikar

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya