Oleh Hamka Darwis

Tongeng, Money Can’t Buy Happiness

28 June 2020 19:09
Tongeng, Money Can’t Buy Happiness

BugisPos — Uang tidak bisa membeli kebahagaiaan. Iya. Karena kebahagiaan ada dalam otak kita. Secara ilmiah rasa bahagia itu ditimbulkan oleh sejumlah hormon yang produksinya dikendalikan otak kita. Ada dopamin, serotonin, oksitosin, endorfin, dan berbagai hormon lain. Kalau ada hormon itu dalam darah kita, maka kita akan merasa nyaman.

Kita tidak bisa membeli hormon-hormon itu. Tapi kita bisa membeli hal-hal yang bisa memicu kebahagiaan di otak kita. Cara yang paling kasar adalah dengan memakai obat atau narkotika. Narkotika itu cara kerjanya adalah dengan memicu produksi hormon-hormon dalam otak, sehingga pemakainya merasa nyaman.

Cara yang lebih “manusiawi” adalah membeli barang atau hal-hal yang memicu hormon-hormon bahagia tadi. Yang suka mobil, belilah mobil. Yang suka mobil dan suka memamerkannya, belilah mobil dan pamerkan. Yang suka burung, belilah burung. Yang suka keintiman, belilah keintiman. Dalam hal ini uang bisa dipakai untuk memicu kebahagiaan. Kita harus akui, banyak orang bahagia karena uang.

Yang tidak atau sulit bahagia adalah orang yang tidak bisa berhenti. Mirip dengan pecandu narkotika, ia selalu ingin dosis yang lebih tinggi. Yang punya mobil 3 masih ingin menambah mobil agar merasa lebih bahagia, karena 3 mobil sudah terlalu biasa. Yang suka memamerkan mobilnya, tidak merasa puas kalau kurang dari 1000 orang memuji atau menjempoli postingnya. Orang-orang ini yang sulit mendapatkan kebahagiaan. Mereka yang lebih tepat dipakai untuk menggambarkan kenyataan tadi, bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan.

Sebenarnya bukan soal uang bisa membeli kebahagiaan atau tidak. Ini soal Anda mau bahagia atau tidak. Bahagia itu soal mengelola pikiran. Kalau Anda bisa mengelola pikiran dengan baik, tanpa perlu banyak-banyak mengeluarkan uang, Anda bisa bahagia. Kalau Anda tidak bisa mengelola, berapa pun uang yang Anda habiskan, tidak akan membuat Anda bahagia.

Dalam kompleks perumahan kami ada telaga yang lumayan besar, mirip danau. Di tepi telaga itu sering saya lihat orang-orang piknik. Mereka tampak menikmati piknik itu. Ada yang mesti menyetir 2 jam ke Puncak atau Lembang untuk piknik. Apa yang mereka dapatkan? Sama-sama kebahagiaan. Kenapa ada orang yang perlu menyetir 2 jam untuk mendapat lebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan piknik di pinggir telaga di dekat rumah saya? Semata karena setting dalam otaknya. Yang telah menetapkan bahwa kebahagiaan tidak bisa didapat di pinggir telaga, tidak akan merasakan kebahagiaan. Sesederhana itu.

Yang sudah jauh-jauh pergi ke Lembang atau Puncak pun belum tentu bahagia. Ada yang setelah tiba di sana ternyata tidak puas. Ada yang sudah sampai di Paris, tetap tidak bahagia. Ada yang naik jet pribadi, tidak bahagia juga.

Jadi soalnya bukan apa yang bisa dibeli dan tidak. Soalnya jauh lebih sederhana, atau mungkin juga jauh lebih kompleks, yaitu bagaimana kita mengatur otak kita untuk bahagia.

Bagi saya, bahagia itu adalah menikmati apa yang saya miliki, mengusahakan yang belum saya miliki, kemudian menikmati yang sudah saya raih itu. Yang tidak bisa saya raih, meskipun saya inginkan, lebih sering tidak saya pikirkan. Saya hanya mau memikirkan sesuatu kalau dengan berpikir itu membuat saya bisa meraihnya.

Yang pergi meninggalkan saya, saya senyumin, dan saya bilang: “Ntar juga aku dapat yang lain. At least, aku pernah menikmatimu.

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya