Manrasani, HMI Makassar Desak DPRD Sulsel Hentikan Keruk Pasir Sangkarrang

03 July 2020 18:36
Manrasani, HMI Makassar Desak DPRD Sulsel Hentikan Keruk Pasir Sangkarrang
HMI MPO) Cabang Makassar dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Sangkarrang

BugisPos — HMI MPO) Cabang Makassar dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Sangkarrang, meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Provinsi Sulsel segera mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait aktivitas pengerukan pasir di Kecamatan Sangkarrang yang merugikan kehidupan penduduk setempat.

Seperti diketahui sebelumnya, ratusan nelayan di Kepulauan Sangkarrang meminta agar PT Boskalis perusahaan asal Belanda menghentikan aktivitas penambangan pasir di wilayah tangkapan nelayan di Selat Makassar.

Ketua KNPI Kecamatan Sangkarrang, Sardi mengatakan, pekan lalu Ia dan beberapa pemuda nelayan asal Kecamatan Sangkarrang melakukan audiensi dengan salah seorang Anggota DPRD Sulsel, Ismail Bachtiar.

“Sepekan berjalan, belum ada tanggapan. Kita mendesak agar aktivitas tambang pasir ini segera dihentikan. Bayangkan, dalam satu hari penambang bisa mengeruk sampai ratusan ribu kubik pasir. Makanya kami meminta ini segera disikapi,” jelas Sardi, Kamis (2/7/2020)

Dikonfirmasi terpisah, Ismail Bachtiar, mengatakan bahwa dirinya masih sedang berada di daerah pemilihannya (Dapil) dan akan segera menindaklanjuti kasus ini setelah berada di Makassar.

“Ini kan prosesnya harus RDP dulu dengan pihak-pihak terkait. Tidak bisa kita langsung ambil keputusan. Mekanismenya adalah mempertemukan semua stakeholder. Nanti setelah balik dari Dapil baru saya follow up, kapan RDP-nya dengan pihak terkait,” singkat Ismail.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Makassar juga meminta hal serupa dengan KNPI. Ketua HMI Cabang Makassar, Faikar Al Baqir mengatakan, hari Sabtu lusa pengurus HMI akan datang ke kepulauan Sangkarrang untuk mengkonsolidasikan gerakan penolakan aktivitas penambangan pasir ini.

Kata Faikar, penambangan PT Boskalis di wilayah yang menjadi sumber penghidupan nelayan merupakan bentuk penghancuran ruang hidup sehingga mengancam keberlanjutan nelayan di Sangkarrang.

Sejak penambangan dilakukan, nelayan Pulau Kodingareng Lompo dan Galesong mulai merasakan dampaknya. Air laut di sekitar wilayah penambangan menjadi keruh. Kekeruhan membuat hasil tangkapan nelayan berkurang drastis, terutama nelayan-nelayan yang mencari ikan-ikan karang.

“Seperti yang sebelumnya di Galesong Takalar, nelayan kehilangan sumber penghasilan karena wilayah tangkap ikannya dihancurkan. Jadi mediasi oleh DPRD dengan pihak terkait harus segera dilaksanakan. Jangan tunda sampai pulau benar-benar tenggelam,” kata Faikar.

Sumber : (*)

Editor : Zhoel

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya