Mappatakkini’ Klaster Unhas yang Heboh itu

09 July 2020 12:45
Mappatakkini’ Klaster Unhas yang Heboh itu
Ketua Tim Satgas Covid-19 Unhas, yang juga Dekan fakultas Kedokteran Unhas, Prof dr Budu, posituf Covid-19

BugisPos – Penyebaran pandemi Covid-19 di Sulsel, bukannya makin turun ataupun melandai. Tetapi malah semakin menggila. Mungkin pada beberapa waktu ke depan, Sulsel bisa saja mencetak sejumlah 50 ribu orang terjangkit Covid-19. Bisa saja, bila jajaran pemerintah di provinsi ini melangkah dengan tidak tepat dalam penanganan pandemi Covid-19. 

Faktanya, jangankan warga biasa, bahkan orang-orang di Tim Gugus Tugas Covid-19 pun ada yang terjangkit, sebagaimana yang terjadi di jajaran Tim Satgas Covid-19 Unhas. Bahkan ketuanya sendiri, Prof dr Budu,  yang juga adalah Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, terjangkit Covid-19. 

Selain Prof Budu, juga ada nama Prof. Sudirman (Fak Perikanan), Prof. Hasanuddin Tahir (FKG), Prof. Alimin Maidin (Mantan Dirut RS Unhas), Prof. Sherly, Dr. drg. Ruslin (Dekan FKG), drg. Rini Pratiwi (istri alm. dr Herry Nawing) dan Prof dr Atifuddin Djuana. 

Apa ada yang salah sehingga Covid-19 begitu mudahnya menjangkiti mereka ini? Tentu saja hal ini akan menjadi cerita panjang ke depan. Yang pasti, atas peristiwa ini, sesuai kabar yang beredar, kantor Fakultas Kedokteran Unhas pun terpaksa ditutup.

Dengan kejadian ini, publik agaknya sudah boleh mengatakan, bahwa di Unhas ini saat ini, sudah memunculkan klaster baru, yakni Klaster Tim Gugus Covid-19 Unhas. Dan mungkin saja sudah boleh disebut klaster Unhas. 

Hal ini sesuai apa yang dikatakan Jubir Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel M.PH, bahwa klaster adalah penamaan sekumpulan kasus penyakit menular yang terhubung oleh satu peristiwa atau lokasi.

Atas kejadian ini, Prof Budu menyampaikan berikut ini melalui medsos :

Bismillah. Assalamu Alaikum wrwb. Para kolega Dewan Professor dan seluruh anggota WAG terhormat ini.

Terima kasih atas doa nya sejak kemarin hingga saat ini. Saya ingin menyampaikan bahwa hasil Swab RT-PCR saya hari ini Selasa, 7 Juli 2020 dinyatakan positif (+) Covid19. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati berharap jika ada Bpk/Ibu yang telah bertemu dengan saya dalam beberapa hari terakhir sebaiknya memeriksakan diri terhadap kemungkinan terpapar Covid19.

Saat ini saya dalam kondisi stabil tapi akan menjalani masa isolasi selama beberapa waktu. Mohon maaf jika ada kesalahan selama ini dan berharap doa dari Bpk/ibu agar segala nya berjalan baik dan bisa aktif kembali seperti biasa. Aamiin. 

Wslm Budu

Menanggapi kejadian yang cukup mengejutkan ini,  Usdar Nawawi, juru bicara Tim Produksi Jus Anti Covid-19 C-19 di bawah pimpinan Irwan Paturusi, angkat bicara, Kamis, 9/7/20. Dikatakan, ada hal yang selama merebaknya pandemi Covid-19 ini di Sulsel, yang sungguh terabaikan. Padahal sesuatu yang terabaikan itu, justeru dapat berperan penting dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini di Sulsel, apabila pihak Pemprov Sulsel bisa menyadarinya.

Usdar Nawawi yang juga adalah owner penerbit media PT. BugisPos Tujua Utama ini mengatakan, dalam empat bulan terakhir Tim Produksi Jus Anti Covid C-19 yang dimotori Irwan Paturusi, telah melakukan kerja-kerja sosial membantu penyembuhan penderita Covid-19, yang sebagian produksinya disumbangkan gratis ke penderita positif Covid yang ada di kamar-kamar isolasi pada empat hotel wisata covid, dan di sejumlah rumah sakit.

Usdar menjelaskan, sejak pandemi Covid-19 masuk di Sulsel, ditandai dengan meninggalnya seorang jemaah umroh yang tinggal di kawasan Mariso, Makassar, beberapa waktu lalu, sejak itu pula Jus C-19 ini mulai diproduksi dari bahan baku tanaman lokal mengkudu, dilengkapi dengan beberapa bahan lainnya.

Jus buah ini, kini sudah diproduksi sekitar 10 ribu botol berisi 300 mg per botolnya, dan kini telah ditingkatkan dalam kemasan yang lebih cantik dengan isi 350 mg. 

Lebih jauh Usdar menguraikan, khasiat yang telah dibuktikan dari hasil penelitian atas 70 orang penderita Covid-19 yang umumnya isolasi mandiri, ditemukan kemampuhan Jus ini telah menjadi penyembuh Covid-19 bagi penderita, tanpa mengonsumsi obat-obatan atau asupan lainnya.

Muh Yunus, peneliti Jus C-19 ini, telah menjamin atas keampuhan Jus ini dalam mengatasi Covid-19. Pj Walikota Yusran Jusuf bahkan sudah mengagendakan Jus ini akan dipersentasekan di hadapannya. Namun keburu digantikan oleh Prof Rudy Djamaluddin sebagai Pj Walikota Makassar.

Fakta di lapangan lainnya juga telah membuktikan hal itu, misalkan Wabup Tana Toraja, Victor Datuan Batara, yang mengakui sejak mengkonsumsi Jus ini, telah membawanya pada kesembuhan. Tak hanya Victor, tetapi telah begitu banyak dokter di daerah ini, yang terpapar corona, kemudian sembuh setelah mengkonsumsi Jus ini. Cuma memang sangat disayangkan, sebab para dokter ini mengaku terikat sumpah, sehingga mereka tak bersedia ditulis namanya dalam rilis pemberitaan, bahwa mereka sembuh karena minum Jus-19. Kata mereka, dunia kedokteran tak akan mengakui obat apapun selain obat dokter, medkipun mereka sembuh karena obat herbal.

Seorang dokter praktek, yang juga adalah salah seorang kepala Puskesmas di Makassar, menuturkan, dia suatu hari harus menjalani isolasi di salah satu hotel wisata covid di Makassar. 

Awalnya, dia hanya mengkonsumsi obat-obatan rumah sakit. Tetapi nyatanya, justeru penyakitnya makin parah. Drop luar biasa. Seluruh badan terasa nyeri, bola mata seolah tenggelam di kelopak. Dia kemudian ingat seorang pasiennaya yang sembuh dari Covid-19 hanya karena minum Jus C-19.

Sang dokter ini, pun minta bantuan sang mantan pasien, agar dicarikan Jus C-19. Dan alhamdulillah, dang dokter pun mulai minum Jus ini. Hanya saja cara minumnya yang keliru. Sebab dia hanya minum sebanyak 3 sendok pagi dan 3 sendok malam. Padahal itu adalah aturan minum bagi orang sehat, yang hanya sekadar jaga-jaga dari corona. Memang ada perubahan, sudah mulai segar, bisa tidur nyenyak, tapi masih saja positif.

Pada botol kedua yang digartiskan kepadanya, dokter ini sudah tahu aturannya, bahwa bagi orang yang positif corona, harus menghabiskan Jus ini 1 botol dalam tiga hari. Dan hal itupun dia lakukan. Alhamdulillah. Dia kemudian negatif dan kini sudah kembali menjalankan tugasnya sebagai kepala Puskermas dan menjalan profesi dokter praktek.

Sang dokter perempuan ini, mengakui hanya semata menum Jus C-19 hingga akhirnya negatif. Dan satu hal lagi, dokter punya penyakit bawaan berupa sakit jantung. Selama isolasi obat jantungnya tak diminum. Aneh bin ajaib, sebab dengan Jus ini penyakit jantungnya juga sembuh.

Menurut Usdar Nawawi, seandainya Pemprov Sulsel peduli dengan Jus C-19 ini, maka tak akan lama Sulsel didera Covid-19. Bagikan saja Jus ini secara massal ke masyarakat Sulsel, yang penggunaannya selain jaga-jaga jangan terjangkit, juga dijadikan jus penyembuh.

“Pandangan saya dalam tim produksi pimpinan pak Irwan Paturusi ini, yang namanya pademi, apalagi dunia kedokteran belum juga menemukan vaksin penawarnya, maka tai kambing pun kita makan bila itu menyembuhkan Covid-19. Tidak usah kita gengsi menggunakan bahan penyembuh, dan melupakan tanaman ciptaan Tuhan berupa tanaman lokal yang bernama megkudu itu. Untuk apa kasi obat mahal-mahal sampai jutaan rupiah ke pasien covid, kalau toh tak bisa menyembuhkan. Ini penting disadari pemerintah Sulsel, kalau memang ingin bikin kejutan dari Sulsel mata dunia” kata Usdar Nawawi.

Artinya, kejadian menyedihkan di Unhas itu, harusnya tak perlu terjadi, seandainya mereka para profesor ini sebelumnya mengonsumsi Jus C-19 racikan Irwan Paturusi, kata Wartawan senior tiga zaman ini menutup perbincangan dengan BugisPos.com sambil tertawa ngakak .

Sumber : (darna)

Editor : ZHOELFIKAR

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya