Macca, Remaja Penulis Novel Butterfly Asal Salassae Dipuji ki Wabup Bulukumba

28 July 2020 09:44
Macca, Remaja Penulis Novel Butterfly Asal Salassae Dipuji ki Wabup Bulukumba

BugisPos,- Namanya Nayla Putri Humaira. Gadis belia asal Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa dan masih berusia 13 tahun dan masih duduk di bangku sekolah.

Secara sepintas gadis hitam manis itu, sama saja dengan remaja lainnya. Belajar di sekolah, dan belajar di rumah di tengah Pandemi. Tingkahnya yang polos, namun tetap santun.

Hanya saja, ada satu pembeda dibanding gadis sebayanya. Diusianya yang belia, putri dari pasangan ibu Leha dan Pak Asri, sudah mampu menulis novel yang dicetak dalam bentuk buku.

Hobinya yang memang menulis, mengantarkan remaja kelas 9 SMP itu, mampu menulis novel di tengah pandemi Covid-19.

“Selama libur sekolah, saya manfaatkan waktu untuk menulis. Alhamdulillah saya bisa menerbitkan novel dengan judul _Butterfly_,” ungkap Nayla.

Meski dicetak dengan jumlah terbatas, novel ‘Butterfly’, milik Nayla berencana akan dijual di tempat-tempat tertentu. Uang hasil penjualannya pun akan digunakan untuk biaya pendidikannya.

Butterfly yang berarti kupu-kupu, kini sudah bisa dipesan, jumlahnya pun terbatas hanya 80 buah.

“Bagi yang ingin pesan, boleh melalui kontak whatsapp di https://wa.me/6285242201522. Insya Allah semoga bisa berkah,” katanya.

Atas karyanya, Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto mengapresiasi dan mengundang Nayla ke Kantor Bupati untuk bertemu, Senin 27 Juli 2020.

Wabup Tomy, memuji dan salut kepada Nayla. Bakat menulisnya yang mulai muncul sejak masih SMP kata Tomy Satria, harus terus diasah dan didampingi agar mampu menjadi penulis andal dan berkelas serta diperhitungkan di kanca nasional.

“Adik Nayla, jangan patah semangat. Bakat yang kamu miliki hari ini, harus kamu teruskan. Kita butuh sosok seperti adik Nayla. Ke depannya adik Nayla kita bantu dalam hal pendampingan,” kata Tomy Satria.

Sebagai wujud dukungan kepada penulis muda Bulukumba, Tomy mengapresiasi Nayla dengan membiayai percetakan novel Butterfly. Hasilnya penjualannya, Tomy berharap dapat digunakan untuk Nayla menempuh pendidikannya lebih lanjut. Bakat menulisnya, kata Tomy harus terus diasah.

“Semoga virus menulis Nayla menjadi pandemik di generasi kita di Bulukumba. Pemimpin masa depan juga harus lahir dari seorang penulis, agar mampu menguatkan sejarah kepemimpinannya,” pinta Tomy Satria.

Sedikit gambaran dari novel Nayla, novel itu menceritakan tentang perjuangan seorang ayah dalam mengasuh anaknya.

“Teruntuk orang tua, berikan kasih sayang kepada anakmu tanpa membeda-bedakan anak satu dengan yang lainnya, kalaupun mereka berbuat salah tegur dengan baik tetapi tetap tegas. Anak adalah anugerah, yang tidak semua orang dapat memiliki,” kata Nayla sedikit membuka makna dari Novelnya.

Nayla mengaku, selama ini terinspirasi dari beberapa penulis terkenal, seperti Tere Liye. Buku karya penulis terkenal di Indonesia pun tak luput ia baca, bahkan menjadi koleksi pribadinya.

Hingga akhirnya memutuskan menulis novel pertamanya, Nayla banyak didampingi orang terdekatnya. Alhasil hanya butuh 8 hari untuk menyelesaikan tulisannya.

Kata Nayla, jauh sebelumnya telah banyak menulis, cerpen, hanya saja karena terkendala biaya, akhirnya mengurung niatnya untuk menerbitkannya dalam sebuah buku. Cerpen karangan Nayla masih tersimpan rapi. Hingga akhirnya mendapat suppor dari kerabatnya dan memutuskan mencetak novelnya.-(*)

Editor Suaedy

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya