Soal Covid, Eja Tompi na Doan

26 August 2020 11:56
Soal Covid, Eja Tompi na Doan
Oleh Usdar Nawawi

BugisPos — Pada hari ulang tahun ke-74 negeri tercinta Republik Indonesia, 17 Agustus 2020, Pj Walikota Makassar menggelar upacara terbatas di halaman Balai Kota, yang dihadiri oleh sangat sedikit peserta upacara. Tidak seperti biasanya, dimana yang lalu-lalu sering dilaksanakan di lapangan Karebosi, yang dihadiri banyak orang. Kali ini, pesertanya dibatasi. Yang terpenting upacara dilakukan, dengan menaikkan bendera merah putih ke angkasa, dan pemimpin kota berpidato.

Para peserta upacara cuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan jaga jarak. Begitulah kondisi yang tercipta lantaran pandemi Covid -19.

Pj Wali Kota Rudy Djamaluddin berpidato. Dia bilang, sesuai dengan tagline Indonesia maju, maka mari kita satukan kebersamaan, bersatu padu, satukan tekad berjuang bersama melawan Covid 19 Rudy membacakan pidato seragam gubernur Nurdin Abdullah. Gubernur meminta agar masyarakat, pemerintah, dan berbagai stakeholder bahu membahu mengurangi potensi penularan Covid 19.

Pandemi ini tidak hanya memberi dampak bagi dunia kesehatan, tetapi juga perekonomian dunia hingga daerah. Moment ini kit jadikan empati untuk bersatu padu menyatukan kekuatan melawan Covid-19, kata pidato gubernur.
Persoalannya ialah, sejauh mana pemerintah mampu menggalang dan menggerakkan masyarakat untuk bersatu melawan covid? Itulah tantangan
bagi pemerintah saat ini. Kesadaran masyarakat menggunakan masker, menjaga jarak, rajin cuci tangan, boleh disebut sangat rendah. Dimana-mana di tempat umum, masih begitu banyak orang yang terlihat kurang disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Mereka bawa masker, tapi tak digunakan. Mereka lihat tempat cuci tangan, tapi tak disentuh. Mereka bahkan berdesakan di pasar, di mall, di warkop, di toko, atau dimanapun, dengan sikap cuek-cuek saja soal protokol kesehatan.

Mereka seolah berkata : “Ahhh eja tompi na doang …” artinya, nantilah merah baru disebut udang. Maknanya, nantilah tertular covid, barulah percaya kalau memang covid itu. Tetapi mau bilang apa lagi kalau sudah masuk kamar isolasi, positif Covid-19, nauzubillah.

Kebiasaan buruk dengan memandang enteng sesuatu, padahal itu berbahaya bagi nyawa, kesannya masih saja terpelihara dengan baik di tengah masyarakat kita. Melihat lubang di depan, dipandang biasa saja.

Nantilah mengeluh kesakitan bila sungguh terjatuh di lubang itu. Itu pun masih terlontar bahasa berbau bangga ; saya memang jatuh, sakit, tapi tidak sampai patah tulang.

Bahwa kesadaran menjalankan protokol kesehatan, mestinya dilakoni setiap orang. Mestinya mendapatkan pengawasan berlapis dari pemerintah. Mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, OPD, dan seluruh personil Tim Gugus Covid yang ada.

Jangan biarkan kesadaran masyarakat redup dalam menjalankan protokol kesehatan.

Pemerintah juga mesti intens mengajak dunia usaha menjadi motor penggerak protokol kesehatan. Sehingga siapapun itu, kebiasaan baru yang ketat dalam protokol kesehatan, bisa menjadi genderang perang yang dahsyat melawan Covid-19 ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya