Keren na Tauwwa, Begini Cara Chaidir Syam Atasi Krisis Air Bersih di Maros

16 September 2020 14:49
Keren na Tauwwa, Begini Cara Chaidir Syam Atasi Krisis Air Bersih di Maros
Bakal Calon Bupati Maros, H. AS. Chaidir Syam.

BugisPos — Bakal Calon Bupati Maros, H. AS. Chaidir Syam menyampaikan sejumlah ide atau gagasan yang akan diformulasikan dalam bentuk program-program kebijakan untuk mengatasi krisis air bersih akibat musim kemarau yang setiap tahun kerap melanda desa-desa di Maros, utamanya di wilayah-wilayah pesisir.

“Wilayah-wilayah pesisir Maros seperti di Kec. Bontoa, Lau, Maros Baru bahkan Marusu selalu mengalami persoalan krisis air bersih terutama bila musim kemarau tiba, hal tersebut diakibatkan karena tidak adanya sumber air tawar diwilayah itu” ujarnya Sekertaris Partai Amanat Nasional (PAN) Kab. Maros tersebut sesuai rilisnya, Rabu (16/9/2020).

Problem krisis air bersih tersebut harus bisa ada solusinya, dan solusi yang kami tawarkan Insya Allah bisa menyelesaikan masalah tersebut untuk waktu jangka panjang, tandas Wakil Ketua DPRD Maros tersebut.

“Jika masyarakat Maros memberi kepercayaan kepada kami pasangan Hati Kita Keren memimpin daerah ini sebagai Bupati dan Wakil Bupati maka sejumlah program konferehensif dan berkelanjutan kita siapkan” lanjut Chaidir Syam.

Program-program tersebut kata Chaidir antara lain, menyiapkan sumber air bersih yang cukup di wilayah yang memang memiliki sumber air bersih, atau dekat dengan sumber air karena sebagaian besar wilayah yang mengalami kekeringan atau krisis air tersebut memang tidak memiliki sumber air tawar.

“Program berikutnya adalah, semua bendungan yang ada di Kab. Maros kita akan revitalisasi atau bangun kembali agar optimal sebagai penyedia air bersih, berikut pembangunan dan perbaikan jaringan irigasinya” jelasnya.

“Selanjutnya, kita buat waduk-waduk atau kolam-kolam penampungan air yang akan berfungsi menampung air hujan dalam jumlah yang besar, sehingga nantinya kita punya persediaan air yang melimpah untuk kemudian bisa dikelola oleh PDAM Maros dan dipergunakan oleh masyarakat di pesisir” harapnya.

“Jika kita bisa membuat waduk atau kolam penampungan air, maka kita akan punya stok atau persediaan air yang memadai bahkan tidak saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tapi juga untuk keperluan bertani sawah dan berkebun” katanya.

“Karena selain persoalan krisis air bersih yang dialami ribuan kepala keluarga, juga ada ratusan hektar sawah masyarakat khususnya di empat kecamatan tersebut (Bontoa, Lau, Maros Baru dan Marusu) adalah sawah tadah hujan, yakni mengandalkan air hujan, akibatnya masyarakat hanya bisa menanam padi sekali setahun” katanya.

“Namun jika waduk atau kolam penampungan air bisa kita realisasikan kedepan, maka bukan saja krisis air bersih untuk keperluan sehari-hari bisa diatasi, krisis air untuk keperluan bertani sawah dan berkebun pun bisa diatasi” kuncinya.

Yang tadinya masyarakat hanya bisa bertani sawah sekali setahun, karena hanya mengandalkan air hujan, dengan adanya persediaan air yang memadai di kolam penampungan yang kita buat kedepan, maka masyarakat juga bisa memanfaatkannya untuk keperluan bercocok tanam.

“Sehingga masyarakat yang selama hanya bisa bercocok tanam sekali setahun karena hanya mengandalkan air hujan, dengan adanya persedian air tersebut, maka masyarakat bisa bercocok tanam sampai dua kali setahun bahkan bisa tiga kali, dengan begitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat, karena produksinya meningkat” harapnya.

Editor : Syahrul

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya