Mengenang Guru ta’ Pendiri Faperta Unhas Prof. Dr.Ir. Fachrudin

21 September 2020 19:12
Mengenang Guru ta’ Pendiri Faperta Unhas Prof. Dr.Ir. Fachrudin

BugisPos — Sosok Langka dan Sederhana
Mendiang Prof.Dr.Ir. Fachrudin memimpin Unhas antara tahun 1984-1987, menggantikan Prof. Dr.A.Hasan Walinono yang diangkat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan tidak sempat menuntaskan masa jabatannya yang tak cukup dua tahun dipegangnya. Hasan Walinono menerima estafet kepemimpinan sebagai Rektor Unhas dari Prof. Amiruddin November 1982 dan tahun 1984 digantikan oleh Prof. Fachrudin.
Fachrudin yang menyelesaikan pendidikan di IPB pada tahun 1962, sudah menjadi pengajar di Bogor. Namun dia terpanggil pulang ke Makassar untuk membangun Unhas yang baru berusia 6 tahun. Untungnya, Fachrudin enteng dan enjoy pulang ke Makassar sekaligus bisa memboyong pulang Islamiah Kurniati, gadis Sunda yang kemudian menjadi pendamping hidup yang dinikahi tahun 1959 dan kemudian memberinya lima orang anak.
Dia kemudian menjadi salah seorang di dalam tim pembentukan dan pendirian Fakultas Pertanian Unhas. Bingung mau mencari tenaga dosen dari mana, Fachrudin akhirnya menggaet Arifin Sallatang dosen mata kuliah Sosiologi Perdesaan dari Fakultas Sastra hengkang ke Fakultas Pertanian. Arifin sebenarnya ditugasi membenahi administrasi fakultas yang baru dibentuk. Fachrudin memperlihatkan kemampuan menyelesaikan masalah di luar batas-batas dan bergerak di luar “lingkaran” yang tidak mau terjebak fanatisme fakultas yang ketika itu cukup kuat mengungkung sivitas akademika Unhas.
Akhirnya, pada tahun 1964, Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian pun dibuka dan mulai menerima mahasiswa baru. Fachrudin selain secara internal membenahi fakultas baru itu, juga secara eksternal menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian. Dia banyak mendekati dosen dari fakultas lain untuk secara intens mengajar di Fakultas Pertanian, termasuk Arifin Sallatang yang mengurus administrasi fakultas diminta juga berdiri di depan kelas.
Melihat gebrakannya ini, Presiden Unhas Arnold Mononutu (Om No) menunjuk Fachrudin memimpin Fakultas Pertanian yang baru lahir. Fachrudin menolak dengan alasan merasa masih terlalu muda (baru 28 tahun). Fachrudin menyampaikan kepada Om No, “semua pekerjaan saya lakukan, tetapi jangan jadikan saya sebagai dekan”. Akhirnya, Fachrudin diangkat sebagai Pembantu Dekan II dengan tugas yang berat, sebab dua pembantu dekan lainnya, orang-orang dari luar Fakultas Pertanian. Nanti pada tahun 1965 barulah Fachrudin menjabat Dekan Fakultas Pertanian.
Di era Fachrudin-lah banyak mahasiswa diturunkan ke areal persawahan melaksanakan bimbingan massal (Bimas) yang terkenal itu. Di antara mahasiswanya yang dikerahkan adalah Radi A.Gany, alm, yang bertugas di Maros. Tidak heran dengan keaktifannya ini, pada tahun 1975, Fachrudin terpilih sebagai dosen teladan Unhas.

Setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai dekan, tahun 1969 Fachrudin melanjutkan pendidikan ke Jepang hingga program S-3. Tetapi belum sempat meraih gelar doktor, Prof.Dr.Abdul Hafid yang menjabat Rektor Unhas (1969-1973) menggantikan Dr.M.Natsir Said,S.H. (1965-1969) memanggilnya pulang untuk diangkat sebagai Sekretaris Unhas (merangkap sebagai sekretaris senat Unhas) yang terdiri atas dua orang, Rektor dan dirinya.
Fachrudin termasuk salah seorang “mat comblang” pemilihan Ahmad Amiruddin sebagai Rektor Unhas menggantikan Hafid. Suatu hari, Fachrudin berkata kepada Pak Amir, yang juga teman se-asrama waktu SMP,
“Begini Pak Amir, untuk memperbaiki keadaan Unhas ini, saya yang sekarang menjadi Sekretaris Universitas belum melihat adanya orang yang mampu mengubah keadaan kalau kita ambil orang dari dalam Unhas)”.
Ternyata, Pak Amir yang sedang bertugas di Universiti Kebangsaan Malaysia itu rupanya tertarik dengan tantangan Fachrudin. Pak Amir waktu itu hanya pulang sekali setahun menjenguk orangtuanya.

Fachrudin kemudian mulai bekerja mempersiapkan dan memenangkan Pak Amir sebagai Rektor Unhas periode 1973-1977. Amiruddin pun terpilih, Fachrudin didapuk sebagai Pembantu Rektor II membidangi masalah administrasi dan keuangan. Namun dia sempat meninggalkan jabatannya sejenak karena harus menyelesaikan disertasinya tahun 1980 dengan yudisium “cum laude” dan meraih jabatan guru besar dua tahun kemudian, 1982.

Pada tahun 1977, Sulawesi Selatan diserang hama wereng. Setahun kemudian, 1978, Pangkep dan Maros ditimpa musibah yang sama. Mengetahui hal itu, Fachrudin mengirim mahasiswa Pertanian Unhas melaksanakan bakti pertanian di Pangkep.
Fachrudin menjabat Rektor Unhas pada tahun 1984, menggantikan Prof.Dr.Hasan Walinono yang baru tak cukup dua tahun menjabat Rektor Unhas karena diangkat sebagai Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud di Jakarta. Kabinetnya terdiri atas Prof.dr. Solihin Wirasugena, Prof.dr.H.A.M.Akil, dan Drs. Med. Nur Nasry Noor, MPH, masing-masing sebagai Pembantu Rektor I, II, dan III.
Di masa Fachrudin menjabat rektor, ada seorang bertubuh tambun tidak terlalu tinggi, Hamid Basma namanya, pria asal Kajang Bulukumba yang dikenal sebagai sekretaris Fachrudin. Setiap orang yang hendak bertamu, begitu pun beragam surat harus melalui meja Hamid. Sebagai orang kepercayaan rektor waktu itu, dia kerap dijuluki sebagai “Pembantu Rektor IV”, meskipun jabatan ini di era Radi A.Gany benar-benar ada.
Sebagai sekretaris, Hamid tahu persis urusan yang tidak perlu sampai dan harus diurus oleh rektor. Misalnya, ada warga kampus yang mengirim surat ke rektor hanya untuk meminjam mobil. Yang “remeh temeh” seperti ini, cukup Hamid yang menyelesaikannya. Dia yang memutuskannya. Begitu pun dengan urusan yang tidak terlalu prinsipil, jarang sampai ke meja rektor.
Saya masih ingat benar, pada tahun 1985/1986, terjadi pergantian Kepala Humas Unhas dari Drs.Andi Bulaeng ke Achmad Ali S.H.(Prof.Dr., M.H. alm.). Perubahan jabatan kepala Humas berimbas kepada perombakan susunan komposisi pengasuh Koran Kampus “Identitas” Unhas. Kepala Humas ex-officio Pemimpin Redaksi “Identitas”. Oleh sebab itu, “Identitas” harus mengadakan perubahan komposisi redaksional lagi.
Begitulah suatu pagi, saya selaku Redaktur Pelaksana bersama Achmad Ali menuju ruang kerja Rektor Unhas Fachrudin. Di dalam daftar pengasuh ada nama Amran Razak, pria berambut kriting yang pada masa mahasiswanya dikenal paling getol melakukan demonstrasi. Jika dilarang berdemo di kampus Unhas, dia akan berkolaborasi berunjuk rasa di IKIP Ujungpandang dan saya menjadi salah seorang saksi mata aksinya selaku wartawan harian “Pedoman Rakyat”, meski berita demo seperti ini tidak akan pernah muncul di media arus utama, seperti koran dan radio lantaran kontrol pemerintah Orde Baru yang represif dan otoriter.
Hati saya dig dag dug juga membawa konsep SK yang berisikan nama-nama pengasuh dan Amran Razak termasuk salah seorang di dalamnya.
Fachrudin menerima surat yang dibawa begitu kami duduk di depannya.
“Mengapa ada nama ini?,” tiba-tiba Fachrudin mengajukan pertanyaan tanpa menyebut nama yang dimaksud, tetapi saya dan Achmad Ali sudah bisa menebak dan memastikan nama yang dimaksud.
“Amran, Prof?,” saya balik pura-pura tidak tahu.
“Ya, Amran,” tegas Fachrudin.
“Ya betul, Prof. Memang dia dikenal sebagai ‘anak nakal”, tetapi kami mencoba “menjinakkannya” melalui “Identitas”. Dia juga sudah sarjana dan melamar menjadi dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat,” kata saya panjang lebar.
“Oh..begitu? Apa kalian bisa jamin?,” Fachrudin balik bertanya lagi dan belum yakin untuk memastikan bahwa Amran akan benar-benar “jinak”.
“Kami akan menjamin, Prof..” kata saya yang sepertinya menjadi juru bicara dalam pertemuan enam mata itu.
“OK, baiklah. Kalau begitu,” kata Fachrudin kemudian memberi paraf setuju pada konsep komposisi pengasuh “Identitas” yang kami ajukan.

Saya dan Achmad Ali meninggalkan ruang kerja rektor dengan hati yang bernbunga-bunga karena lolosanya nama Amran. Tetapi di dalam hati saya juga diiringi satu beban yang sangat berat, yaitu, bagaimana menjamin Amran tidak akan macam-macam lagi.

Belum sampai kami di kantor Humas yang juga jadi markas redaksi “Identitas”, dari arah utara terlihat bayangan Amran yang berjalan sendiri.

“Mran..Mran. Ke sini dulu? Kami berdua ini baru saja masuk ke ruang kerja rektor dan membawa komposisi pengasuh “Identitas:” yang di dalamnya ada namamu. Pak Rektor sempat bertanya tentang kamu. Tetapi kami menjelaskan dan menjamin bahwa kami akan berusaha membuat kamu menjadi anak manis di “Identitas”. Juga kami sudah laporkan ke Pak Rektor bahwa kamu sudah sarjana dan melamar menjadi dosen di FKM. Mohon Amran bantu kami berdua melaksanakan amanah ini,” kata saya panjang lebar.
“Siap, Kak,” jawab Amran sembari menyilangkan kedua tangannya di bawah perut, kebiasaan yang selalu dia lakukan untuk memperlihatkan kesantunannya terhadap seniornya.
Amran masuk ke “Identitas” melalui “pintu” saya juga. Suatu hari dia membawa tulisan yang menyanggah satu artikel yang juga memuat karikatur yang ternyata karikatur itu merupakan jiplakan dan pernah dimuat di salah satu media nasional di Jakarta.

“Karikatur itu jiplakan. Ini saya bawa karikatur aslinya,” kata Amran ketika memberikan lembaran kertas yang berisi tulisannya ketika bertemu dengan saya yang sedang mengetik di ruang di sebelah utara kantor Humas.
“Ok, beri waktu saya beberapa menit untuk membaca,” kata saya kemudian berhenti mengetik.
“Iya, Kak,” sahut Amran pendek.
Saya membaca cepat tulisannya. Sebagai redaktur pelaksana saya punya hak meloloskan tulisan ini.

“Ini anak boleh dan bagus juga gaya menulisnya’ saya menggumam sambil memutuskan membaca habis tulisannya yang runtut dan mengalir.
“Ok, tulisan ini saya muat. Jika berkenan, saya menawarkan kamu bergabung dengan “Identitas”,” saya menawarkan.
“Siap, Kak,” jawabnya pendek, dan sejak saat itu, saya dan Amran menjadi bagaikan kakak beradik. Bersama dia-lah untuk pertama kalinya saya memacu sepeda motor dari Bantimurung dengan kecepatan gila yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untung saja kami tidak “cium tanah air”. Ha..ha..

Kembali ke Pak Fachrudin. Pada masa beliaulah Fakultas Pascasarjana Unhas diresmikan oleh Mendikbud Prof Dr. Fuad Hasan pada 9 Desember 1986 yang kemudian berdasarkan SK Mendikbud tahun 1991 tentang penggantian nama Fakultas Pascasarjana menjadi Program Pascasarjana di lingkungan universitas dan institut negeri. Fachrudin sempat menjadi Ketua Program Pascasarjana Unhas 1982-1986, begitu pulang setelah meraih gelar doktor di IPB.

Pada masa Fachrudin kesejahteraan dosen dan karyawan Unhas sangat diperhatikan. Bagi karyawan administrasi dibangun perumahan di Kompleks Unhas Biringromang Kecamatan Manggala Makassar yang ditangani Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Unhas yang dicicil per bulan oleh para pegawai.

Sementara untuk para dosen dibangunkan perumahan di Perumahan Dosen Tamalanrea Kecamatan Biringkanaya, bekerja sama dengan Bank Niaga. Sejak itulah, para dosen dan karyawan Unhas sudah banyak yang tidak mengontrak rumah lagi.

Pada masa Fachrudin Unhas jarang terjadi unjuk rasa mahasiswa. Beliau, jika hendak pergi mengajar di Fakultas Pertanian, jarang naik mobil dinasnya. Beliau selalu berjalan kaki, melintasi gedung-gedung kampus yang saling bersambung. Pada setiap ada kerumunan mahasiswa, beliau selalu singgah menyapa mereka.

“Apa ntu mae Gang,” kalimat dalam bahasa Makassar yang maksudnya kira-kira “apa kabar/sedang dikerjakan, Bos”, sudah sangat lekat dan akrab di telinga para mahasiswa kala itu.

Biasanya, setelah menyapa seperti itu, barulah Fachrudin memberi nasihat dan wejangan kepada mereka berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi kampus.

Ketika Prof. Amiruddin menjabat Gubernur Sulsel 1983-1988 dan 1988-1993), Fachrudin juga pernah didapuk sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel.

Di masa Fachrudin-lah, Prof. Amir merancang kemudian memperkenalkan Trikonsep Pembangunan Sulawesi Selatan yang terdiri atas:Perubahan Pola Pikir, Perwilayahan Komoditas, dan Petik-Olah-Jual. Dapur pemikir Konsep Trikonsep ini di Unhas selain Fachrudin juga dikomandani mendiang Prof.Dr.Ir. Andi Mappadjantji Amien, CEng.
Perekrutan Fachrudin sebagai Kepala Bappeda, kemudian diikuti juga dengan penempatan dosen Unhas lainnya pada posisi-posisi strategis di lingkungan pemerintahan daerah Sulawesi Selatan, antara lain Prof.Drs.Burhamzah, MBA, diangkat sebagai Direktur Utama (dulu kepala) Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan yang kemudian digantikan oleh Prof.Dr.Rahman Panetto, M.A. Sinergitas antara Pemprov Sulsel dengan Unhas terjalin sangat baik pada masa itu.

Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. dalam acara peluncuran buku Prof.Dr.Ir.Fachrudin berjudu; “Separuh Jiwaku untuk Unhas” di Hotel Mercure, 17 September 2020 mengatakan, Fachrudin adalah tokoh langka.

Dia banyak berbuat demi pengembangan Unhas dan Sulawesi Selatan. Peluncuran buku itu bertepatan dengan 39 tahun usia Kampus Unhas Tamalanrea diresmikan oleh Presiden Soeharto 17 September 1981.

“Selain langka, Fachrudin juga tokoh yang sederhana,” ujar Dwia yang tampil sebagai pembicara bersama cucu pertama Fachrudin Putri Fatimah Nurdin, S.E., M.Sc.Ph.D. Bachtiar Adnan Kusuma, S.Sos, M.M,, dipandu Duta Baca Sulsel Resky Amaliah Syafiin, S.H. Sebelumnya, memberikan testimoninya,dua mahasiswa Fachrudin, yakni Prof.Dr.Ir. Sylvia Syam dan Dr. Melina, M.P.

Saya juga tampil memberikan testimoni setelah Nasir Hamzah, salah seorang pegiat literasi dan rajin menghadiri berbagai acara peluncuran buku.

Kehadiran saya dalam peluncuran buku ini dimaksudkan untuk merekam informasi tambahan yang kelak digunakan mengisi buku yang sedang dipersiapkan bertutur tentang pengalaman saya mendampingi para Rektor Unhas sejak A.Amiruddin hingga Dwia Aries Tina Pulubuhu yang kini sudah terkumpul 50 halaman.

Saya menutup testimoni dengan sebuah cerita singkat mengenai A.Amiruddin dan Fachrudin. Suatu waktu, kedua mantan rektor Unhas ini menziarahi Rektor Unhas Radi A.Gany di Jl. Kartini. Radi sebenarnya tidak enak disambangi lebih dulu oleh kedua seniornya.
“Saya sebenarnya sudah mau pergi bertamu ke Baruga Antang, tetapi Pak Amir dan Pak Fachrudin sudah lebih dulu tiba di rumah,” Radi berdalih.
Pada saat Pak Amir dan Pak Fachrudin hendak pamitan, Radi mengantarnya hingga ke dekat mobil.

“Wah, Pak Amir ini hebat, driver-nya seorang Profesor,” kelakar Radi begitu melihat Pak Fachrudin naik di pintu sopir dan Pak Amir duduk di sebelah kirinya.

“Ha..ha…biasa saja-lah,” balas Pak Fachrudin dengan tertawa khasnya diikuti Pak Amir yang juga tertawa lepas diiringi mobil yang bergerak pelan meninggalkan rumah jabatan yang pernah keduanya tempati pada periode-periode sebelumnya (*).

Editor : ZHoelfikar

Disadur dari : Dahlan Abubakar

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya