Editor : Zhoelfikar

Persoalan na Ialah Pendangkalan Muara Sungai dan Stok Benur

17 November 2020 16:45
Persoalan na Ialah Pendangkalan Muara Sungai dan Stok Benur
saat melakukan panen udang windu di Desa Waetuoe, Kelurahan Lanrisang, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang

BugisPos — Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. HM Nurdin Abdullah pada setiap kesempatan kerjanya, selalu berupaya untuk mengetahui persoalan yang ada di tengah masyarakat dari apa yang dialami dan dilaporkan langsung oleh mereka.

Termasuk saat melakukan panen udang windu di Desa Waetuoe, Kelurahan Lanrisang, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, Senin,16 November 2020.

Ia meminta petambak memberikan masukan serta apa yang perlu didukung oleh Pemerintah Provinsi. Ditemukan persoalan utama adalah muara saluran sungai yang mendangkal dan kualitas benur yang rendah dan belum mencukupi. Hal itu terungkap dari Ketua Komunitas Pemerhati Udang Windu (Kontinu) Indonesia, Syarifuddin Zain dan Ketua Pokdakan Cempae, Abdul Waris Mawardi

“Masalah muara kami, itu mengembangkan udang windu akan berkembang jika muara ini sudah terbuka, karena terus terang saja. Pada tahu 1995 kami belum ada muara Pak Gub, itu udang windu agak belum naik, pada tahun itu juga sudah ada pembukaan muara, muara sungai dibuka, langsung pada saat itu melonjak,” urainya.

Tetapi sejak tahun 2000 di Jampue, sudah ada 20 tahun sudah tertutup dan hanya memanfaatkan air sungai yang mengalir dari sungai saddang, dengan harapan air hujan dari Enrekang tidak meluap. Belum lagi jika memasuki musim kering kurang pasokan air. “Tapi kalau dia meluap bulan Januari, otomatis udang windu sudah tidak menghasilkan. Daerah yang pernah Pak Gub datangi waktu panen 2019 tahun lalu,” sebutnya.

Selanjutnya, soal kualitas dan kuantitasnya benur windu yang bisa dikatakan kurang bahkan bisa langka. Jika terjadi hal demikian maka biasanya pembudidaya akan menebar vaname untuk menutup kerugian yang ada.

Imbuhnya, di beberapa titik, tambak yang ada perlu untuk direhabilitasi. Tetapi ini dukungan dari pemerintah. “Kami mohon kepada Pak Gubernur sekiranya ada subsidi kepada pembudidaya, untuk penggalian rehabilitas tambak ini,” harapnya.

Sedangkan Ketua Pokdakan Cempae, Abdul W mewakili petambak lainnya berterima kasih atss program kebangkitan udang windu.

“Semangat pembudidaya di desa Lanrisang maupun Waetoe mulai bangkit kembali, dan sudah menjadi komoditas unggulan di Lanrisang,” ungkapnya, disambut pembudidaya lainnya.

Namun, ia juga mengharapkan agar persoalan benur menjadi perhatian serius.

Nurdin Abdullah kemudian menanggapi keluhan dan harapan pembudidaya.

‘Jadi saya kira dua petanya tadi intinya adalah benur, saya kira kunci ada pada indukannya, oleh karena itu saya kira memang saya akan programkan tahun depan, bagaimana memberikan subsidi benur kepada petambak ini,” sebutnya.

Persoalan muara sungai akan segera kita selesaikan. Ia menambahkan bahwa dalam budidaya windu peran penyuluh sangat penting. Terutama soal salinitas (kandungan garam dalam air laut).

“Termasuk itu tadi normalisasi empang, nanti saya komunikasi dengan Pak Bupati apa yang harus kita lakukan. Yang pasti nanti, kita akan memperbesar lagi anggaran untuk pengembangan windu, daerah yang fokus ke windu itu akan kita berikan lebih banyak,” sebutnya (*)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya