PKD Pemuda Ansor Maros Memasuki mi Tauwwa Hari Kedua

20 February 2021 16:08
PKD Pemuda Ansor Maros Memasuki mi Tauwwa Hari Kedua
Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Angkatan I Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Maros memasuki hari kedua, yang digelar di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Maccopa, Kec. Turikale, Kab. Maros, Sabtu (20/02/2021).
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Angkatan I Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Maros memasuki hari kedua, yang digelar di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Maccopa, Kec. Turikale, Kab. Maros, Sabtu (20/02/2021).

Pada hari ini panitia pelaksana PKD Angkatan I GP Ansor Maros menghadirkan Komandan Kodim 1422 Maros, Letkol Inf Budi Rahman sebagai pemateri.

Materi pelatihan yang dibawakan Dandim Maros adalah penguatan ideologi pancasila, ujar Ketua Panitia Abustan sesuai rilisnya (Sabtu, 20/02/2021).

Budi Rahman menyampaikan bahwa pancasila sebagai ideologi bangsa adalah warisan ulama-ulama pendiri bangsa yang diantaranya adalah Ulama NU.

Karena itu, GP Ansor sebagai anak kandung ormas terbesar di negeri ini yaitu Nahdlatul Ulama harus terdepan dalam mengawal dan menjaga pancasila dari berbagai ronrongan ideologi trans nasional.

Budi melanjutkan, GP Ansor harus membangun kapabilitas dan kompetensi diri kader-kadernya agar memiliki kemampuan leadership yang berdaya saing sehingga layak menjadi memimpin ditengah-tengah masyarakat.

Sebab tantangan masa kini dan masa depan semakin kompleks, apalagi saat ini pandemi covid 19 belum berakhir, persoalan kesehatan dan ekonomi menjadi hal utama yang harus memperoleh solusi dari cepat dan komprehensif dari pemerintah dengan dukungan dan peran serta masyarakat, lanjut pria asal Purworejo, Jawa Tengah tersebut.

Sementara itu Ketua PC GP Ansor Maros, Abrar Rahman menegaskan bahwa pancasila ditetapkannya sebagai dasar negara tidaklah berjalan mulus, mengalami berdebatan yang panjang utamanya soal sila pertama pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Abrar menceritakan, proses merumuskan Pancasila ini bukan tanpa silang pendapat, bahkan perdebatan yang sengkarut terjadi ketika kelompok Islam tertentu ingin memperjelas identitas keislamannya di dalam Pancasila.

“Padahal, sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang dirumuskan secara mendalam dan penuh makna oleh KH Wahid Hasyim merupakan prinsip tauhid dalam Islam”, lanjut Abrar.

Namun, kelompok-kelompok Islam dimaksud menilai bahwa kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa tidak jelas sehingga perlu diperjelas sesuai prinsip Islam.

“Akhirnya, Soekarno bersama tim sembilan yang bertugas merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 mempersilakan kelompok-kelompok Islam tersebut untuk merumuskan mengenai sila Ketuhanan”, katanya Abrar.

Setelah beberapa hari, pada tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan sila Ketuhanan yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” bebernya.

“Kalimat itu dikenal sebagai rumusan Piagam Jakarta. Rumusan tersebut kemudian diberikan kepada tim sembilan. Tentu saja bunyi tersebut tidak bisa diterima oleh orang-orang Indonesia yang berasal dari keyakinan yang berbeda”, lanjutnya.

Poin agama menjadi simpul atau garis besar persoalan yang diambil Soekarno yang akhirnya menyerahkan keputusan tersebut kepada Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk menilai dan mencermati serta memeriksa kebenaran (mentashih) apakah Pancasila 1 Juni 1945 sudah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai ajaran Islam atau belum.

Di antara tirakat Kiai Hasyim ialah puasa tiga hari. Selama puasa tersebut, beliau meng-khatam-kan Al-Qur’an dan membaca Al-Fatihah. Setiap membaca Al-Fatihah dan sampai pada ayat iya kana’ budu waiya kanasta’in, Kiai Hasyim mengulangnya hingga 350.000 kali.

Kemudian, setelah puasa tiga hari, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah dua rakaat. Rakaat pertama beliau membaca Surat At-Taubah sebanyak 41 kali, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Kahfijuga sebanyak 41 kali. Kemudian beliau istirahat tidur. Sebelum tidur Kiai Hasyim Asy’ari membaca ayat terkahir dari Surat Al-Kahfi sebanyak 11 kali.

Paginya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil anaknya Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) perlu dihapus karena Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam.

Sila-sila lain yang termaktub dalam sila ke-2 hingga sila ke-5 juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip ajaran Islam. Karena ajaran Islam juga mencakup kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Atas ikhtiar lahir dan batin Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, akhirnya rumusan Pancasila bisa diterima oleh semua pihak dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia hingga saat ini.

Meski digelar di tengah pandemi Covid-19, PKD Angkatan I PC GP Ansor Maros tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes),” tegasnya.

Editor : Syahrul

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya