Biduk Tak Bernahkoda

28 February 2021 14:09
Biduk Tak Bernahkoda
Gambar Ilustrasi : GOOGle.com
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Biduk itu berlayar dengan tenangnya ditengah samudera, sudah dua tahun setengah ini berlayar tanpa badai yang berarti. Biduk ini dinahkodai oleh seorang yang dikabarkan andalan dimasanya.

Diawal pelayarannya biduk itu pernah ditempa badai kecil yang berhasil dilewati dengan gemilang. Dalam pelayarannya, biduk itu dipercantik dengan kreatifitas dari tangannya dengan melibatkan tukang-tukang dari daerah asalnya. Seluruh potensi coba dia keluarkan agar biduk yang dinahkodainya dapat selamat dipenghujung 2023 nanti.

Segala macam penghargaan diterimanya selama menjadi nahkoda, mulai menahkodai biduk yang kecil hingga saat menahkodai biduk yang lebih besar.

Segala puja dan puji didapatkan karena kepiawaiannya. Berbagai macam orang ingin ikut bergabung di biduk besarnya, walaupun diketahuai sebagian orang itu pernah menumpahkan meriam ke biduknya.

Akhirnya dipenghujung Februari 2021 badai besar datang tiba-tiba menerpa. Sang nahkoda yang lagi terlelap dalam mimpinya, tersontak kaget akan musibah yang menimpanya, sehingga harus meninggalkan biduk yang dinahkodainya.

Para awak kaget melihatnya, walaupun ada beberapa yang mungkin tersenyum. Sebagian awak yang dimasa keemasan sang nahkoda sering melontarkan pujian tanpa sungkan-sungkan melompat dan berenang ke biduk yang lain. Sebagian lainnya mencoba mencari pelampung untuk dapat menyelamatkan diri.

“Hai Sobat, kapal kita belum karam,” ujar salah seorang awak yang masih setia kepada sang nahkodanya.

Seruan itu ditanggapi beragam, ada yang mencemooh ada pula mengindahkan dan banyak pula yang pura-pura tuli. Watak asli para awak muncul seketika, sebagian berharap sang nahkoda kembali memegang kemudi sebagian lagi dengan haqqul yakin mengucapkan “say good by” kepada biduk ini.

Satu persatu meninggalkan biduk ini, hingga biduk ini mulai kosong melompong, mungkin yang tersisa cuma “setia” dihati namun kepentingan “perut” jauh lebih menggonda untuk meninggalkan biduk yang dipastikan akan karam.

Seorang loyalis sang nahkoda masih berdiam diri merenung, apakah mengambil kendali sementara untuk kemudian mengarahkan biduknya mencari nahkoda baru. Sudah jelas dimatanya para awak yang bisa “dipakai” dengan awak yang hanya numpang kepentingan di biduknya.

Walaupun badai itu telah merenggut sang nahkoda, tapi yang membuatnya teriris adalah para awak yang mulai merusak kapalnya untuk menyelamatkan diri. Badai hanya menghempaskan sang nahkoda namun para awak menggerogoti layar hingga geladak kapal untuk “selamat”.

Biduk tak bernahkoda itu masih berlayar walaupun tersendat untuk mencari sang nahkoda baru yang lebih cakap dan tentunya dengan awak yang lebih baik.


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya