Menelusuri ki jejak Bissu di segeri, pangkep

13 April 2021 22:42
Menelusuri ki jejak Bissu di segeri, pangkep
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Masyarakat bugis kuno memiliki tradisi atau kepercayaan bahwa terdapat lima gender yang ada dalam kehidupan masyarakat dahulu. Selain laki-laki (uroane) dan perempuan (makunrai) juga terdapat laki-laki yang menyerupai perempuan (calabai), perempuan yang menyerupai laki-laki (calalai) dan Bissu.

Bissu adalah pendeta bugis kuno yang suci serta menjadi penghubung antar dua alam yaitu Alam Manusia dan Alam Dewata. Bissu bukanlah banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender manapun, namun menggunakan setelan tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka.

Sanggar Dipanegara (SANGDIPA) Universitas Dipa Makassar adalah organisasi yang berorientasi pada bidang seni dan budaya. Dalam kegiatan Study Tour Budaya yang diselenggarakan pada 9 April 2021, SANGDIPA mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan salah satu Bissu yang ada di Kabupaten Pangkep tepatnya di Kecamatan Segeri.

Menurut salah satu Bissu yang ada di Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep bernama Bissu Eka. Bissu dahulu merupakan pelindung sekaligus penasehat kerajaan, Bissu juga selalu memimpin berbagai upacara adat serta dipercayai masyarkat untuk menentukan hari yang baik. Untuk menjadi seorang Bissu juga membutuhkan proses yang panjang. Para Bissu yang telah ada sebelumnya mendapatkan ilham atau mimpi bahwa akan ada Bissu yang lahir. Setelah itu para Bissu berkomunikasi dengan leluhurnya kemudian Bissu tersebut harus melalui proses pembentukan jati diri untuk menjadi Bissu yang sesungguhnya.

“Jadi untuk gelar Bissu melalui proses yang panjang, harus belajar di Arajang. Jadi sebelum belajar di Arajang di situ ada panggilan jiwa. Sebelum panggilan jiwa, terlebih dahulu para Bissu tua (Puang Malolo dan Puang Matoa) dan Bissu-Bissu lainnya mendapatkan mimpi bahwa ada cikal bakal Bissu lagi yang akan jadi.” kata Bissu Eka. Kemudian Bissu tersebut akan di tempah atau melalui proses irebbang selama 7 hari 7 malam dan akan di uji mulai dari ketabahannya, kekuatannya, serta ilmu yang didapat dari roh leluhur.

Namun kini jumlah Bissu yang ada mulai berkurang. Sejak Indonesia merdeka dan menjadi republik, kerajaan-kerajaan Bugis tersebut pun di lebur ke dalam republik dengan konsekuensi peran para Bissu pun terpinggirkan. Bahkan tak lama setelah kemerdekaan, ketika terjadi pemberontakan DI/TII di Sulsel, para Bissu menjadi sasaran dan dikejar-kejar untuk dibasmi karena di pandang bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu, faktor usia juga menyebabkan jumlah bissu makin berkurang dan kurangnya minat masyarakat untuk mengetahui tentang sejarah Bissu membuat eksistensi bissu mulai pudar. Beberapa Bissu juga memilih untuk mengingkari janjinya dan meninggalkan rumah adat kerajaan.

“Sekarang tidak ada kerajaan, sawah adat, tanah adat, kerbau dan sebagainya untuk kelangsungan hidup Bissu. Tidak ada lagi yang memfasilitasi. Ada, cuman bangunan rumah saja. Bagaimana kita bertahan hidup, makan minum. disisi lain tamu-tamu sering datang dan membutuhkan fasilitas lebih dari rumah saja. Berbeda dengan yang dahulu, sebelumnya Bissu itu sejahtera, yang dia fikirkan hanya makan, minum dan serta mengabdi kepada raja.” Kata Bissu Eka

Kami berharap kegiatan Study Tour ini, dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang sejarah Bissu dan eksistensinya. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih kepada para Bissu mengingat peran Bissu yang terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia khususya di Kerajaan Bugis dalam mengusir penjajah pada zaman dahulu..

-Tim Jurnalistik SANGDIPA-


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya