Peranan Perempuan Bersiap-siaga dalam Bencana

18 April 2021 15:56
Peranan Perempuan Bersiap-siaga dalam Bencana
( Siti Uswatun Hasanah )
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Penulis : Siti Uswatun Hasanah (Penulis buku : Jejak Kaki Menuju Negeri Down Under dan Persahabatan 3 Negara)
Kelas : 10
Sekolah : SMA Negeri 5 Gowa 

BugisPos — Kita ketahui bahwa bencana yang terus menerus melanda negara kita Indonesia bukan hanya bencana alam namun juga berupa bencana sosial. Dampak yang ditimbulkan setelah bencana terjadi adalah kerugian harta benda dan nyawa bahkan mengancam keberlangsungan kehidupan sosial bagi korban jiwa.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Gambar 1 bahwa jumlah kejadian bencana alam di Indonesia (per 1 Juli 2020) sebanyak 1557 kasus bencana alam. Jenis bencana alam yang telah terjadi adalah banjir mendominasi dengan 621 kejadian, puting beliung 426 kejadian, tanah longsor 332 kejadian, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 142 kejadian. Selain itu, secara geografis Indonesia juga terletak pada rangkaian cincin api (ring of fire) yang membentang sepanjang lempeng pasifik yang merupakan lempeng tektonik paling aktif di dunia, seperti terlihat pada Gambar 2. Oleh karena itu, Indonesia berada dalam zona yang sangat rawan dengan bencana gempa. Dari data BNPB, telah terdapat 10 kali kejadian gempa bumi. Dan belum lama di tahun 2021 ini, kejadian gempa bumi besar telah terjadi di wilayah Sulawesi Barat (Mamuju dan sekitarnya) dan di wilayah Jawa Timur (Malang dan sekitarnya).

Gambar 1. Data Infografis bencana Indonesia tahun 2020.

Gambar 2. Wilayah Indonesia dalam cincing api dunia.

Hasil sensus penduduk tahun 2020 (SP2020) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa, dimana diantaranya jumlah penduduk perempuan sebanyak 133,54 juta orang atau 49,42%. Dengan jumlah persentasi ini maka perempuan merupakan bagian kelompok besar yang sangat rentan ketika telah terjadi bencana alam. Saat ini sangat diperlukan peran serta perempuan dalam menghadapi bencana terutama dapat ikut melakukan migitasi sebelum bencana, selama kejadian bencana dan mengurangi resiko pasca bencana.

Banyak peranan perempuan yang dibutuhkan untuk aksi ini. Mereka dapat terlibat dalam mitigasi bencana seperti meningkatkan pengetahuan dan informasi peringatan akan datangnya bencana, hingga sampai pada aksi menghadapi bencana ketika datang sewaktu-waktu (tiba-tiba). Perempuan juga perlu dibekali dengan pelatihan dan keterampilan ketika menghadapi dampak bencana sehingga dapat mengurangi korban, kerugaian material dan non-material besar dari bencana alam tersebut.

Perempuan perlu dibelaki pengetahuan tentang teknologi informasi dan komputer (TIK). TIK saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam hal menghadapi bencana yang dating tiba-tiba, TIK seperti Internet dan komunikasi seluler dapat dimanfaatkan sebagai media informasi dan untuk berkomunikasi. Melalui Internet juga kita bisa senantiasa mengikuti perkembangan-perkembangan terkini seperti halnya gejala-gejala alam.

Kita dapat menggunakan media Internet untuk mengakses informasi awas bencana atau peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baik melalui website https://www.bmkg.go.id/ maupun media mereka lainnya yang sangat mudah diakses dan terupdate seperti Facebook, Instagram, Youtube, Twitter, maupun mobile aplikasi (playstore BMKG App). Contoh tampilan media informasi dari BMKG seperti terlihat pada Gambar 3. Dalam informasi ini kita dapat mengetahui prakiraan cuaca, maritim, penerbangan, iklim, kualitas udara, gempa bumi, tsunami dan tanda waktu di Indonesia dengan cepat, tepat, akurat dan luas.

Gambar 3. Tampilan Media Informasi dari BMKG (Facebook, Instagram, Youtube, Twitter, BMKG App).

Dengan demikian, setiap perempuan harus memiliki kemampuan IT yang bagus agak tidak gaptek (gagap teknologi) dan mampu memanfaatkan smartphonenya untuk mengikuti berita-berita terkini dari informasi terkait cuaca dan dampak alam. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengikuti (follow) atau bergabung (joint) sehingga menjadi follower media sosial (medsos) BMKG.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman sekarang ini, hampir semua perempuan sudah familiar dengan teknologi seluler handphone bahkan sudah memiliki gadget smartphone dengan beragam mobile aplikasi yang ditawarkan. Informasi dari BMKG bebas diakses dan tidak berbayar sehingga tidak menyulitkan siapapun untuk mengaksesnya.

Internet dan seluler bisa dimanfaatkan sebagai media untuk berkomunikasi, baik melalui email, chatting, video call dan bahkan forum publik. Dengan adanya kejadian bencana disuatu daerah maka kita sangat mudah cepat mengetahuinya. Perempuan juga dapat berperan besar dalam hal ini. Jika terdapat bencana disuatu daerah, maka perempuan dapat melibatkan diri untuk menjadi sukarela langsung atau tidak langsung. Antara lain contohnya memberikan bantuan sembako atau kebutuhan mendesak yang dibutuhkan korban. Perempuan dapat terjung langsung dalam penggalangan dana atau menyebarkan informasi-informasi agar cepat sampai ke tujuan yang tepat.

Internet bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi media publikasi informasi, baik melalui website, berita onlie, mailinglist, maupun medsos kita masing-masing. Kita dapat menggunakan medsos kita sebagai sumber berita atau share/menyebarkan berita penting yang dibutuhkan oleh tim penyelamat dan para korban. Tentunya, kita harus memiliki kesadaran besar untuk menyampaiakan atau men-sharing berita yang benar dan beradasarkan fakta. Perempuan harus menunjukkan posisi terdepan agar terhindar dari berita hoaks atau menyebarkan gambar-gambar yang dapat menimbulkan kebingungan atau kesediahan bagi siapa saja. Konten hoaks biasanya berisi hal negative atau bersifat hasut dan fitnah, sehingga dapat menyasar emosi masyarakat atau opini lain terhadap aksi para sukarelawan dan pemerintah.

Sebagai kesimpulan bahwa perempuan perlu dilibatkan dalam program penanganan bencana di setiap daerah. Pada umumnya, kebijakan penanggulangan bencana seringkali menempatkan laki-laki pada peran gendernya sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan, dan hanya menempatkan peran perempuan sebagai ibu rumah tangga saja. Kita mengharapkan setiap kaum perempuan diajak dalam pelatihan penanganan bencana sehingga akses untuk mendapatkan informasi dapat diperoleh secara langsung, dan bukan lagi melalui orang lain atau suami. Kita juga harus mengurangi terjadinya distorsi informasi, yaitu ketika terjadi bencana, perempuan kebingungan dan tidak dapat melakukan tindakan sigap bencana tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Dan lebih penting lagi bahwa perlunya perempuan memiliki kekuatan pengetahuan Internet dan akses informasi dari kebijakan berkaitan dengan program penanganan bencana. Pengetahuan luas tentang akses Internet ini memudahkan perempuan terlindungi dan bukan mnejadi korban terbanyak dalam bencana, terlebih lagi perempuan harus melindungi anak-anaknya.


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya