Gadis di Bawah Umur Ditahan ki Dugaan Penganiayaan, Keluarga: Kami Korban! Ada Saksinya

14 June 2021 10:45
Gadis di Bawah Umur Ditahan ki Dugaan Penganiayaan, Keluarga: Kami Korban! Ada Saksinya
Ilustrasi anak-anak berkelahi (theasiantparent.com)

BugisPos – Kasus perkelahian anak di bawah umur kembali terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Minggu 6 Mei 2021.

Kejadian tersebut dilaporkan terjadi di sekitar pasar seni Makale. Kejadian itu pun membuat MM gadis 14 tahun menekam di sel tahanan Polres Tana Toraja.

Dari penahanan tersebut, Keluarga dari terlapor yang kini menjadi tersangka merasa tidak mendapatkan keadilan atas kasus tersebut. Menurut Keluarga tersangka, bahwa mereka tidak diperlakukan baik oleh pihak penyidik Polres Tana Toraja. Sabtu 12 Juni 2021.

“Ini kan jamannya Restorasi Justice, kok anak kecil berkelahi malah ditahan layaknya Kriminal besar, seharusnya kan kasus seperti ini diselesaikan dengan diversi. Apalagi MM belum pernah diversi kata Hasniwati Nurdin, tante MM kepada sejumlah Awak media.

Ia juga membandingkan dengan kasus pengeroyokan yang dilakukan sejumlah anak dibawah umur sebelumnya yang korbannya merupakan ponakan mereka juga yang diakhiri dengan diversi.

Pasalnya dijelaskan Hasniwati, menurut pengakuan MM bahwa yang terjadi adalah perkelahian.

MM menepis bahwa yang terjadi adalah penganiayaan sadis, melainkan perkelahian.

“Saya diadu oleh naya, katanya Naya sepupu LS (pelapor),kata MM” beber Hasni.

Ia pun menceritakan, bahwa terlapor lah yang memiliki lebih banyak luka memar.

“Mana mungkin yang memukul yang memar-memar? Ini kan perkelahian, hasil visumnya juga ada sama Polisi,” tegasnya lagi.

Ia juga mengatakan bahwa keluarga merasa MM lah yang jadi korban.

“Menurut kami keluarga, sangat sulit menerima MM jadi tersangka karena dinilai menganiaya LS. Yang sebenarnya terjadi adalah perkelahian, bukan penganiayaan, ini saya bicara fakta sesuai pernyataan sejumlah saksi mata di lapangan” tegas Hasniwati.

Pernyataan tersebut dikuatkan saksi H dan CH yang berada di lokasi kejadian saat perkelahian terjadi.

“Kalau yang saya lihat bukan pemukulan. Tapi memang berkelahi. Mereka MM dan LS baku pukul. Mereka diadu,” ujar CH kepada sejumlah wartawan.

CH menceritakan, saat itu mereka baru pulang latihan. Kemudian MM bersama rekan rekannya berpapasan dengan LS di jalan. Mereka bersenggolan hingga terjadi adu mulut.

“Dia hampir kasih jatuh kami, dan di situ terjadi adu mulut antara MM dengan LS,” katanya.

Tapi cekcok itu tak berlanjut. Kata CH, saat sampai di Pasar Seni, LS pergi memanggil NY. Kemudian LS datang besama NY dan menghampiri MM.

“NY ini tanya kenapa kamu ganggu sepupu saya. Dia marah marah sambil mengeluarkan kata kata kotor,” tutur CH.

NY lalu mengatakan ia tidak terima perlakuan MM terhadap LS. Ia lalu menantang MM agar mau duel dengan LS.

“Dia bilang singel bangmoko sama itu MM. Akhirnya mereka berkelahi di situ. MM juga sempat berteriak meminta tolong pada saya. Dia bilang tolong saya dan saya lihat MM disitu mau dicungkil matanya,” bebernya.

CH mengatakan bahwa luka di muka LS itu bukan akibat pukulan dari MM. Tapi karena terbentur tembok saat keduanya bergulat dan saling guling.

“Saya lihat pada saat mereka baku guling karena berkelahi disitu mukanya LS kena tembok,” bebernya.

Sementara H yang juga berada di lokasi kejadian pun melerai perkelahian tersebut.

“Ia saya di panggil ke Polres saya yang melerai keduanya saat berkelahi, saya juga sampaikan seperti itu yang sebenarnya ke polisi,” tutur H.

Hasniwati tante MM Juga menegaskan bahwa MM itu berkelahi dengan LS (17) kerena diadu oleh salah satu oknum mahasiswa di salah satu kampus di Toraja.

“MM berkelahi dengan LS karena dikasi adu dengan SK, namun yang ditahan hanya MM karena LS yang mengaku selaku korban melapor ke polisi,” bebernya.

Saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polres Tana Toraja membenarkan penahanan tersebut. Menurut Kasatreskrim kasus tersebut merupakan pidana murni, yaitu penganiayaan sadis.

“MM seringkali melakukan peristiwa yang sama. Tercatat di polres Tana Toraja MM 3 kali melakukan dengan korban yang berbeda,” ungkap AKP. Syamsul Rijal kepada sejumlah awak media di ruangan kerjanya Sabtu, 12 Juni 2021.

Saat ditanya mengenai laporan keluarga tersangka, AKP Syamsul mengatakan ada dua motif orang melakukan laporan, bisa saja karena jadi korban, maupun untuk melakukan laporan tandingan.

“Jadi ada dua motif orang melaporkan peristiwa, yang pertama dia memang betul karena korban yang kedua dua dia mau melapor itu karena mau bikin tandingan, padahal sesungguhnya dia itu tidak ada apa-apanya, biasalah pikiran-pikiran kita. Dan biasa itu terjadi ketika kita dalam keadaan terdesak, bagaimana caranya kita untuk melapor ulang. Disitulah letaknya kita sehingga diberi ilmu untuk mengetahui motifnya orang melapor karena apa”, bebernya.

Untuk diketahui, pihak dari MM telah melakukan laporan namun sampai berita ini diturunkan, pihak pelapor mengaku belum menerima informasi lanjutan dari penyidik, ia pun meminta Kapolres Tana Toraja, mengevaluasi kinerja Penyidik yang dinilai kurang tanggap terhadap laporan mereka.

“Sampai saat ini, kami belum mendapatkan informasi perkembangan laporan kami, kami hanya berharap agar penyidik tidak tebang pilih dalam menangani perkara,” kata Hasni melalui sambungan seluler Senin 14 Juni 2021.

“Kami masyarakat kecil ini butuh keadilan. Oleh karena itu, kami berharap kepada Bapak Kapolres Tana Toraja agar selalu memonitor anggotanya. Tutup Hasni dengan nada penuh harap.

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya