Oleh : Usdar Nawawi

Protes mi Wargayya, Rumah Ibadah Ditutup, THM Boleh Buka

08 July 2021 11:36
Protes mi Wargayya, Rumah Ibadah Ditutup, THM Boleh Buka
Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos — Pemkot Makassar dibawah kepemimpinan Wali Kota/Wakil Wali Kota, Danny Pomanto – Fatmawati Rusdi, menghadapi dilema. Mengadapi masa sulit dalam penentuan kebijakan.

Masa sulit itu ialah, Pemkot Makassar wajib hukumnya menjalankan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang belakangan kembali menggila dan gila-gilaan.

Mendagri pun mengeluarkan instruksi nomor 17 tahun 2021, tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro.

Tidak hanya tempat usaha dan kerumunan lainnya, instruksi itu juga mengatur tentang pembatasan aktivitas peribadatan. Rumah ibadah dilarang buka untuk sementara waktu.

Dari sinilah dasarnya sehingga Pemkot Makassar menutup rumah ibadah lantaran kota ini masuk zona orange Covid-19,

Masalahnya ialah, sebab usaha masyarakat termasuk THM boleh buka sampai jam 17.00 wita. Maka sontak menuai protes di kalangan masyarakat, mengapa THM boleh buka sementara rumah ibadah ditutup. Bahkan semua jenis rumah ibadah, mulai dari masjid, gereja, vihara, pura, semuanya wajib dutup dalam mengahadapi pandemi Covid-19.

Sebetulnya, bila dipikir-pikir, penutupan rumah ibadah di masa pandemi ini adalah hal yang wajar-wajar saja, demi menjaga umat beragama dari pandemi. Sebab toh ibadah sebaiknya dilaksanakan di rumah saja, karena lebih aman. Dari pada ke masjid, ke gereja, ke vihara, ataupun ke pura, yang rentan terjadi penyebaran virus corona. Perbandingannya tentu lebih aman beribadah di rumah saja.

Persoalan kegiatan masyarakat di bidang usaha, mengapa juga tidak ditutup sebagaimana rumah ibadah, tentu saja masalahnya jadi lain. Kegiatan usaha masyarakat, ya di toko, di pasar, di tempat-tempat usaha lainnya seperti warkop, THM, rumah bernyanyi, dan lain sebagainya, itu semua adalah sumber penghidupan. Kalau sampai tutup total, maka siapa yang beri maka ke mereka ?

Memang sejumlah jenis usaha itu tidak ditutup, tetapi jam operasinya dibatasi hanya sampai jalm 17.00 wita di sore hari. Esok harinya baru boleh buka kembali seperti biasa, dan tutup di sore hari.

Pemberlakuan Surat Edaran Wali Kota ini, tentu saja ada batasnya. Tidak akan lama-lama dan panjang-panjang. Wali Kota Danny Pomanto juga berkata, dirinya menjadi tidak nyaman dengan penutupan ini. Tetapi mau diapa, kondisi yang ditimbilkan Covid-19 telah membuat negeri ini kalang kabut.

“Kita tidak larang masyarakat untuk beribadah. Tapi kita patuh terhadap aturan. Kalau sudah zona hijau atau kuning, Insya Allah tidak ada lagi pembatasan seperti ini,” kata Danny Pomanto, Rabu, 7/7/21.

Dia menjelaskan, kebijakan PPKM itu tegas menyebut, jika daerah yang masuk dalam zona oranye dan merah menjadi perhatian pemerintah pusat.

Narasi jelasnya seperti ini, untuk kota kabupaten pada zona oranye dan merah, kegiatan peribadatan di tempat ibadah ditiadakan untuk sementara waktu sampai dengan wilayah yang dimaksud dinyatakan aman berdasarkan penetapan pemerintah daerah setempat dan mengoptimalkan ibadah di rumah.

Olehnya, Danny Pomanto mengimbau masyarakat Kota Makassar untuk mematuhi aturan itu. Pemkot Makassar akan berupaya agar kota berjuluk Anging Ammiri ini bisa terlepas dari zona oranye menuju ke zona hijau.

Ayoo semangat pak Danny, ayo semua warga di kota ini semangat menghadapi pandemi Covid-19 ini. Bila tidak semangat, imun bisa turun dan virus corona yang melenggang ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya