Catatan: Andi Wanua Tangke

Roel Sanre, Sudah mi Kukirim Alfatihah

27 July 2021 08:15
Roel Sanre, Sudah mi Kukirim Alfatihah
Almarhum Roel Sanre

BugisPos —TAHUN 1984. Sambil kuliah di Fakultas Sastra Unhas, saya bekerja sebagai wartawan Harian FAJAR. Saat itu masih berkantor di Jl. Ahmad Yani, Makassar. Seorang lelaki dengan rambut semi gondrong rutin ke ruang redaksi. Senyum selalu menghiasi wajahnya. Lelaki itu kelihatan akrab dengan S. Sinansari ecip, Syahrir Makkuradde, Aidir Amin Daud, Hamid, Baso Amir, dan Abun Sanda. Mereka sering membicarakan hal serius, namun kadang juga pembicaraannya mengundang tawa. Terutama tawa Abun Sanda yang selalu meledak. Terpantul-pantul di ruang redaksi. Syahrir dan Abun kini sudah meninggal.

Lantaran rutinnya ke redaksi–padahal bukan wartawan FAJAR–suatu hari saya mendekati Baso Amir, orang Bulukumba, kini tinggal di Jakarta, mantan Redpel majalah SWA Sembada, itu.

“Pak Baso Amir, siapa itu lelaki yang selalu bawa tas kulit, rutin ke ruang redaksi. Setelah membaca koran, ngobrol, menjelang malam, lelaki itu pulang, dan esoknya datang lagi?”

Sambil tersenyum tipis, Baso Amir menjawab pertanyaan saya. “Roel Sanre. Seorang penulis hebat. Dalam sejarah ITB, namanya tercatat sebagai aktivis yang berani.” Baso Amir menatapku. Meninggalkanku
Dia mendekati Roel Sanre yang sedang membaca buku.

Entah apa yang disampaikan Baso Amir ke Roel Sanre? Sejak itu saya jadi akrab dengan lelaki semi gondrong itu.

Belakangan saya baru tahu mengapa dia sering ke redaksi FAJAR. “Saya ini wartawan di sejumlah media. Bukan hanya satu media. Seperti sekarang saya mendapat tugas dari majalah yang terbit di Jakarta untuk menulis tentang Toraja dan keunikannya. Sebelum ke Toraja saya mencari referensi tentang Toraja di redaksi FAJAR. Saya yakin di sini banyak dokumen tentang keunikan Toraja. Begitulah kebiasaan saya… Tentu sambil menyumbangkan tulisan untuk koran itu. Begitu juga saat saya ditugaskan menulis tentang Suku Asmat. Saya mengunjungi koran Cenderawasih Pos, sembari berdialog dengan para wartawannya. Menulis itu harus dalam. Data yang akurat.” Roel Sanre melemparkan senyum khasnya yang mencerminkan karakternya yang rendah hati.
*

TAHUN 1992, saya ke Jakarta. Tinggal di Tanjung Priok. Sempat menulis di sejumlah koran, misalnya harian Pelita, harian Terbit, harian Berita Yudha, dan Tabloid Swadesi. Waktu saya lebih banyak di TIM (Taman Ismail Marzuki). Melihat tingkah para seniman. Menyaksikan para sastrawan berdebat secara sehat. Dialog sastra juga sering diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Saya masih ingat, setengah jam sebelum acara dimulai, La Rose, novelis hebat itu, sudah datang.

Suatu hari saya hadir dalam diskusi sastra di salah satu ruang di TIM. Saya duduk di jajaran para tamu sembari memperhatikan tokoh-tokoh sastra di atas panggung. WS Rendra, Ikra Nagara, Emha Ainun Nadjib, duduk sembari memegang buku. Saya yakin itu buku sastra. Saat moderator memberikan prolog dimulainya acara diskusi, saya tiba-tiba berdiri memperhatikan Sang Moderator itu. Saya menajamkan mata fokus ke wajahnya. “Tidak salah, benar dia Roel Sanre.”

“Wanua lagi apa di Jakarta?” Roel Sanre mendekati saya saat usai diskusi sastra.

“Untuk melihat moderator hebat bernama Roel Sanre.” Roel Sanre tidak lagi menampakkan senyum khasnya, tapi tawanya yang panjang sambil menepuk-nepuk pundak saya.
*

DI MAKASSAR, Roel Sanre pernah jalan-jalan ke rumah saya. Saat itu dia baru pulang menjemput anaknya di pesantren. Dia memakai kendaraan motor. Dia menyampaikan mimpinya untuk membangun rumah di tengah kebun. Katanya, punya tanah luas untuk itu. Kalau tidak salah ingat tanah miliknya itu berada di wilayah perbatasan Gowa – Maros. Di rumah itu dia ingin menjadikannya sebagai “markas” untuk orang-orang merdeka. Membicarakan apa saja dengan bebas. Akan dilengkapi dengan perpustakaan. Terbuka untuk umum. Di hadapannya, saya menyambut idenya itu dengan kagum.

Tiba-tiba dia diam. “Tapi mimpi saya itu butuh uang banyak. Saya tidak punya uang….”

“Pak Roel Sanre kan dulu seorang aktivis hebat, dari ITB lagi. Tentu teman-temannya sudah banyak yang sukses…”

“Betul itu. Teman saya banyak jadi pengusaha, kini sudah kaya. Ada juga menteri. Menjadi duta besar, banyak.”

“Mengapa tak menghubungi mereka. Siapa tahu mereka tertarik dengan idenya, dan terpanggil mau membantu.”

“Itulah kekurangan saya. Saya tak terpanggil untuk itu. Juga lantaran sebagian dari mereka, setelah menikmati hidup mewah, rata-rata sudah berubah. Idealisme sudah hilang di kepalanya…” Roel Sanre menatap saya dengan tatapan penuh arti.
*

ROEL SANRE juga pernah ke tempat kerja saya. Dia tertarik dengan judul-judul buku bertemakan kearifan lokal yang saya terbitkan. Puluhan judul buku diambil saat itu. Setumpuk buku dalam kardus itu disimpan di motornya bagian depan. Katanya, dia akan tawarkan ke person-person yang berminat dengan buku-buku tersebut. Benar saja, beberapa hari kemudian, dia datang lagi, untuk membayar buku yang sudah terjual.
Sesungguhnya, saat itu, saya sedih melihatnya. Bagi saya, Roel Sanre itu orang besar dan hebat. Di kalangan seniman, sastrawan, budayawan, di Jakarta, namanya harum. Disegani lantaran lahir dari rahim aktivis yang konsisten. Tapi dia memilih hidup yang tersembunyi. Mirip kehidupan guru aktivis asal Sinjai yang tinggal di Bandung, namanya Rahman Tolleng.

Selamat jalan, saudaraku. Kau orang baik. Rendah hati. Sudah saya kirimkan Alfatihah untukmu… *

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya