HTTP Status[404] Errno [0]

Sepasang Botting Jadi Batu di Soppeng

04 September 2021 02:12
Sepasang Botting Jadi Batu di Soppeng
Dua batu berdiri berdekatan ini digambarkan sebagai sepasang Botting Sama' atau pengantin masyarakat biasa yang dikutuk jadi batu.

BugisPos — Di setiap daerah pada umumnya memiliki suatu cerita masa lalu yang kemudian menjadi sebuah legenda. Cerita dimaksud boleh berupa peninggalan budaya, adat istiadat masa lampau, ataupun hal-hal yang kemudian berbau mistik. Mistik yang muncul sebagai misteri alam yang menjadi rahasia Tuhan. Tak terkecuali cerita rakyat yang melegenda dan dipercaya menyimpan misteri.

Salah satu cerita rakyat yang ada di Kabupaten Soppeng, yakni kisah tentang Bulu Botting (bukit pengantin) yang mengisahkan suatu peristiwa di masa lalu tentang sepasang pengantin yang tiba-tiba berubah menjadi batu di atas bukit.

Dari cerita di kalangan rakyat Soppeng, pada suatu masa sepasang pengantin dari kalangan bangsawan (Arung) bersama rombongan, dalam perjalanan dari Umpunge Kecamatan Lalabata menuju Sering (Donri-donri). Di tengah perjalanan, rombongan pengantin memerlukan istirahat sejenak maka mereka pun mencari tempat yang layak untuk dijadikan lokasi yang dipandang bagus. Mereka memilih istirahat di atas bukit sambil memilih-milih batu untuk dijadikan tempat duduk. Di atas bukit ini memang banyak batu gunung yang bisa diduduki.

Saat sepasang pengantin mencari batu untuk diduduki, Indo Botting atau orang yang menangani rias pengantin mengingatkan kepada pasangan pengantin ini, agar ekstra berhati-hati memilih batu untuk diduduki, dan jangan sekali-sekali bersikap takabbur atau bicara sembarang di bukit ini.

Peringatan sang Indo Botting ini rupanya tak dihiraukan oleh pasangan pengantin. Keduanya duduk begitu saja di batu yang mereka pilih. Dan entah apa yang sesungguhnya terjadi, tiba-tiba saja sepasang pengantin ini berubah menjadi batu.

Atas kejadian ini gegerlah seluruh anggota rombongan. Di tempat duduk sepasang pengantin itu tadi tiba-tiba berubah menjadi dua batu besar yang berdampingan dan sangat mirip dengan sepasang pengantin.

Rombongan pengantin kemudian meyakini bahwa batu yang diduduki tadi itu mengandung pengaruh mistik yang luar biasa. Batu itu marah kepada sang pengantin yang tak menghiraukan peringatan Indo Botting dengan terap saja bersikap takabbur, yang memandang enteng batu yang mereka duduki.

Dalam perjalanan kisah ini, kemudian di bukit sebelah juga muncul sepasang batu pengantin, yang kemudian diyakini bahwa pada dua bukit ini, yang satunya terdapat satu pasang batu disebut warga sebagai Botting Arung (pengantin bangsawan). Dan di bukit satunya lagi terdapat Botting Sama’ (pengantin orang biasa). Jarak keduanya terpisah di dua bukit yang masih satu lokasi dengan Bulu Botting.

Petta Lani sang juru kunci Bulu Botting mengatakan, Botting Arung selama ini cukup disakralkan oleh warga. Terkadang ada warga yang datang melepas hajat, namun mereka meyakini bahwa keberadaan Bulu Botting tiada lain kecuali sebagai ciptaan Allah SWT. Warga yang datang biasanya berniat, mereka akan datang lagi berziarah bila nazar atau cita-citanya terwujud.

Di sekitar lokasi Botting Arung terdapat batu yang menyerupai kasur dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Batu pengantinnya juga mirip pasangan pengantin yang lengkap pakaian adatnya. Bahkan di salah satu batunya, mirip pengantin perempuan yang masih terdapat simpolong (konde). Sayang, konde tersebut sudah hilang setelah dipatahkan oleh tangan jahil pengunjung. Lokasinya juga kurang terawat. Pohon besar dan tanaman liar tumbuh menutupi lokasi tersebut.

Kemudian Batu Botting Sama’ yang berada di bukit sebelah, untuk sampai ke tempat itu cukup melelahkan. Dari cerita yang hidup turun-temurun, Batu Botting Sama’ ini dalam kondisi tertentu terkadang tidak muncul dan tak bisa ditemukan. Padahal tidak pernah berpindah tempat.

Di Botting Sama’ ini terdapat beberapa batu yang oleh warga setempat disebut Passepi Botting (pendamping pengantin). Di kawasan itu pula terdapat dua batu larangan. Ukurannya sedang. Batu itu disakralkan warga, misalnya tidak boleh dilangkai. Bila pantangannya dilanggar, orang yang bersangkutan bisa kena malapetaka (*/darna)

2470 Views

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya