HTTP Status[404] Errno [0]

Ini mi Misteri Kerajaan Sungai di Bone

11 September 2021 11:44
Ini mi Misteri Kerajaan Sungai di Bone
Misteri Kerajaan Sungai di Bone

BugisPos — Sungai Walanae yang melintasi kabupaten Bone, Wajo dan Soppeng berhubungan erat dengan sungai Cenranae di Bone yang bermuara di teluk Bone. Kedua sungai tersebut menyimpan sejuta misteri yang sangat menarik untuk diungkap.

Sungai yang merupakan salah satu urat nadi penggerak perekonomian masyarakat di tiga kabupaten itu, sering dipergunakan sebagai sarana transportasi antar pulau.

Kapal-kapal yang mengangkut kayu olahan dari Sulawesi Tenggara dan Kalimantan sering melalui sungai tersebut. Sebaliknya, hasil-hasil pertanian seperti beras dari tiga kabupaten itu juga diangkut oleh kapal-kapal itu untuk dijual ke Kalimantan, Maluku bahkan hingga ke Papua.

Keangkeran kedua sungai itu sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitarnya, terlebih bagi warga pendatang yang ingin mempergunakan kedua sungai tersebut.

Biasanya orang-orang sekitar sungai sering memperingati apabila ada orang baru yang akan menyebrangi sungai itu.

Hati-hati ki, dik! Beri salam ki dulu baru turun disungai Kata si tukang perahu memperingati wartawan Mitos ketika mengadakan peliputan baru-baru ini. Karena orang pendatang yang takabur biasanya mendapat musibah di sungai itu.

Seperti yang diceritakan oleh Alling (38 thn) seorang warga Pakkasalo kabupaten Bone. Sekitar tahun 2000, rombongan mahasiswa Unhas melakukan KKN di daerah itu.

Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kerja ada yang di desa Uloe, Pakkasalo dan desa Tawaroe. Karena sebagian masyarakat di tiga desa itu beraktifitas di sungai, maka mahasisiwa itu pun mandi dan mencuci di sungai.

Pagi itu, lima orang mahasiswi pergi mandi di sungai Walanae, ketika akan mandi ditempat biasanya, nampak seekor buaya besar lagi berenang dipinggir sungai. Hal yang jarang dilihat sebelumnya. Bukannya mahasiswi itu takut , tetapi mereka kembali kerumah mengambil kamera untuk mengabadikan buaya itu.

Kisah Alling kepada Mitos. Bukannya mahasiswi itu takut setelah melihat buaya, sorenya mereka kembali kesana bertiga dengan ditemani seorang anak kecil yang kebetulan warga asli.

Alasannya karena mahasiswi asal Takalar ingin belajar berenang. Ujar Alling. Mahasiswi asal Bulukumba itu yang akan mengajarinya, tapi Dia bicara agak sombong, Dia berkata bahwa :

Sedangkan laut di Tanjung Bira tidak ku takuti apalagi Cuma sungai seperti ini. Ujar Alling. Akhirnya musibah itu datang, ketiga mahasisiwi itu tenggelam. Tapi yang satunya berhasil selamat setelah ditolong oleh anak kecil itu, sedangkan mahasiswi asal Takalar dan Bulukumba itu meninggal dunia.

Menurut penuturan Mahasiswi yang selamat itu, kakinya seakan-akan ada yang menariknya turun dan Dia tak bisa melepasnya. Sedangkan Mahasiswi asal Takalar itu, mayatnya baru ditemukan keesokan harinya ditempat Dia tenggelam.

Yang mengalami kesulitan adalah pencarian mahasiswa asal Bulukumba yang cukup memakan waktu, walaupun telah dibantu oleh tim SAR. Nanti setelah dilakukan ritual pemotongan ayam, Mayatnya lalu ditemukan mengambang ditempat itu pula.

Sungai Walanae dan sungai Cenranae sebenarnya memiliki kehidupan masyarakat didalamnya. Disepanjang sungai itu terdapat kerajaan sungai yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang karena berada pada dimensi lain yaitu dimensi alam gaib yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang diberi penglihatan batin oleh tuhan. Hal ini pun diakui oleh masyarakat sekitar dan mereka pun sering memberikan penghormatan kepada mereka dengan melakukan ritual ritual tertentu apabila akan melakukan suatu hajatan.

Adapun susunan pemerintahan kerajaan dikedua sungai tersebut adalah sebagai berikut :

Puang Nipa-Nipa
Merupakan raja di sungai Walanae dan Cenranae yang memang berhubungan. Tempatnya di Daerah Nipa-nipa, Pallime kab. Bone di sungai Cenranae.

Kemunculannya biasanya bertiga dengan permaisurinya serta salah satu anak perempuannya.

Kesaktiannya ialah apabila Dia ingin mengambil orang yang bersalah, walaupun berada diatas gunung akan ditariknya hingga kesungai.

Puang Sumpang Opo Jabatannya sebagai Penasehat Kerajaan. Tempatnya di bawah jembatan Sumpang opo perbatasan kab. Bone dan kab. Wajo. Ciri-cirinya kulitnya agak gelap dan matanya agak picak
Puang La Gellang
Jabatannya sebagai Perdana Menteri Kerajaan. Tempatnya disepanjang sungai Walanae dan Cenranae. Ciri-cirinya tubuhnya berwarna kekuning-kuningan dan di alamnya wajahnya sangat tampan.
Puang Sulilie / Daeng Maserang
Jabatannya sebagai Panglima Perang Kerajaan.

Tempatnya di daerah Sulilie desa Pakkasalo. Ciri-cirinya: tubuhnya agak gelap dan memiliki tubuh yang sangat besar, sebesar kapal kayu. Di alamnya, Dia tak pernah memakai baju / bertelanjang dada dan sering memakai ikat kepala.

Puang Maggalatung
Jabatannya sebagai Menteri Wanita Kerajaan. Tempatnya di desa Cendrana, tepat didepan mesjid Cenrana. Ciri-cirinya: tubuhnya berwarna putih

Puang La Bellang
Jabatannya adalah Kurir Kerajaan.Tempatnya di sungai Unyi(anak sungai Walanae) tepat dibelakang Mesjid Raya Uloe. Ciri-cirinya : Tubuhnya bergaris-garis / belang.

Puang Pakka Saloe
Jabatannya sebagai Dewan Pemerintahan seperti Sekretaris Kerajaan. Tempatnya di.pertigaan pertemuan Sungai Walanae, Cenranae Dan Unyi. Kemunculannya sangat jarang didapati. Dia hanya muncul apabila ada isyarat banjir besar yang menimpa desa-desa disekitar sungai itu.

Merekalah yang menjalankan pemerintahan gaib disepanjang sungai itu. Keterangan tersebut diatas dikumpulkan dari berbagai sumber yang sering berhubungan langsung dan pernah mengalami hal-hal aneh tentang mereka.

Menurut tim gaib Mitos berdasarkan investigasi dan penelitian yang mendalam disimpulkan bahwa : Penampakan berupa wujud buaya pada mereka yang sering disaksikan oleh orang-orang adalah penampakan yang bukan sebenarnya, karena mereka adalah mahluk gaib dari kalangan Jin yang memiliki tubuh gaib yang tak kasat mata. Jadi bentuk buaya yang sering kita lihat adalah piaraan atau kendaraan mereka di sungai, seperti pada manusia yang memiliki kuda untuk alat transportasi.

Untuk berinteraksi dengan manusia yang sifatnya material (nyata) dan mereka yang in material (gaib) tentu mereka butuh wadah atau sarana berinteraksi yang berwujud material yang barang tentu, mereka memilih buaya yang sifatnya material sebagai alat untuk berhubungan dengan manusia. Beberapa golongan jin memakai sarana ular, penyu, gurita dan ikan duyung sebagai alat berinteraksi dengan manusia supaya keberadaannya di bumi dapat diketahui dan dihargai.

Untuk manusia yang memiliki indera keenam atau penglihatan batin, mereka biasanya berhubungan langsung dengan wujud yang sebenarnya. (Awing dan Ali)

1177 Views

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya