Ketua KONI Sulsel Lepasmi 6 Cabor ke Papua, Target Wajib 10 Besar

24 September 2021 20:10
Ketua KONI Sulsel Lepasmi 6 Cabor ke Papua, Target Wajib 10 Besar
Caption : Ketua KONI Sulsel Ellong Tjandra saat melepas kontingen Sulsel menuju PON XX Papua.

BugisPos– Ketua KONI Sulawesi Selatan (Sulsel) Ellong Tjandra melepas kontingen tim Sulsel yang akan berlaga di PON XX Papua 2021, Kamis (23/9/2021). Para atlet yang dilepas itu berangkat Jumat (24/9/2021) pagi dengan pesawat City Link.

Pelepasan tim yang berlangsung di Hotel Grand Sayang terdiri dari 69 atlet dan pelatih dari enam cabang olahraga (Cabor).
Masing-masing cabor Panjat Tebing, Sepak Bola, Muathai, Dayung, Takraw dan Panahan.

Ellong Tjandra mengingatkan, Sulsel pada PON kali ini menargetkan posisi 10 besar.

“Itu sudah harga mati. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. oleh sebab itu seluruh atlet harus berpikir menang,” tegas Ellong yang didampingi Kadispora Sulsel Andi Arwin Azis, Wakil Ketua dan Bendahara Satgas PON Sulsel, Musakkir dan Gaffar Lewa.

Mantan karateka nasional ini juga mengingatkan semua atlet tetap menjaga semangat yang kuat untuk tampil semaksimal mungkin di ajang multi event emoatbtajunan tersebut.

“Saya akui, PON Papua ini unik. Terlalu banyak tantangan yang kita hadapi. Karena itu jadikan tantangan itu sebagai bagian dari perjuangan kita untuk meraih prestasi,” lanjut mantan Dirut BPD Sulselbar, ini.

Sementara itu Kadispora Sulsel A.Arwin Azis yang baru tiba dari Papua melaporkan, suasana di bandara Sentani sudah sangat terasa dengan kesibukan PON. Proses kedatangan kontingen diberi kemudahan hingga meninggalkan bandara.

“Untuk posko Sulsel berada di Abepura yaitu di gedung Balai Diklat Depsos,” sebut Arwin.

Jika membandingkan tradisi pelepasan atlet pada PON sebelumnya, kali ini memang terasa berbeda. Pelepasan dilakukan secara parsial sesuai klaster penempatan TC bagi para atlet. Ada tiga hotel yang dijadikan tempat TC. Selain di Hotel Grand Sayang 18 cabor, selebihnya terbagi di Hotel Grand Asia dan Hotel Dalton.

“Pelepasan atlet memang tidak sekaligus. Beda PON sebelumnya. Ini karena masih suasana pandemi. Kita hindari kerumunan. Makanya kita pecah-pecah di tiga klaster penempatan TC atlet,” jelas Andi Arwin.

Terkait keluhan pengurus cabor yang tidak dilibatkan mendampingi atlet di PON Papua, Arwin menyebut karena terkendala minimnya anggaran.

“Anggaran PON kali ini sangat minim. Hanya Rp 20 miliar. Kita ingin semua komponen dilibatkan. Namun karena keterbatasan anggaran sehingga hal tersebut sulit untuk diakomodir,” kata Arwin.

Ia menjelaskan anggaran hibah KONI pun terbatas. Berbeda pada PON Jabar 2016 lalu. Dananya Rp 87 miliar.

“Sekarang hanya Rp 20 miliar. Jauh bedanya. Jadi tidak bisa disamakan fasilitasnya. Tentu beda. Harga-harga juga berbeda. Alokasi anggaran beda. Apalagi pelaksanaan PON di Papua lagi,” keluh Arwin.

Ia berharap pengurus cabor bisa memaklumi kondisi ini. Minimnya anggaran akibat recofusing diakui memang cukup merepotkan.

“Saya berharap pengurus cabor jangan merasa ditinggalkan atau tidak dilibatkan. Tolong dimaklumi. Apalagi akomodasi di Papua juga terbatas. Pesawat terbatas. Cabor itu mitra strategis pemerintah dalam membina atlet. Tidak mungkin tidak dilibatkan,” tegas Arwin.(asiel)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya