Kisah Inspiratif dari Seorang Pengemudi Ojol

Bidadari Kecil itu Bernama Aqila

08 October 2021 08:30
Bidadari Kecil itu Bernama Aqila
Ilustrasi Malaikat Kecil

BugisPos — Entah mengapa selalu terlintas dibenakku atas peristiwa kemarin (6 Okt. 2021). Semoga bidadari kecil itu tetap dalam keadaan baik-baik saja….

Setelah menurunkan penumpang di alamat tujuannya, saya bergegas mencari tempat yg teduh untuk menunggu orderan selanjutnya, dan akhirnya beberapa memit kemudian muncullah tanda centang (orderan masuk), yang disertai dengan bunyi nada dering Handphone ku yang khas menandakan bahwa ada orderan yg menunggu dijemput. Dalam hati saya sangat berharap dapat orderan kakap (tarif tinggi) istilah dalam dunia ojol. Dan Alhamdulillah setelah saya tindis tombol terima atau tanda centang tersebut ternyata apa yang saya harapkan demikian adanya, tarif yang lumayan fantastis yakni 79 k, tarif yang sangat diharapkan bagi kebanyakan orang yang bergelut sebagai driver online, dengan tidak membuang waktu lama langsung saya hubungi sang pengorder melalui room chat bahwa saya segera menuju ke titik penjemputan.
Namun setelah saya beranjak dari tempat baru sekitar kurang lebih 100 meter tiba-tiba di depan jalan sana saya dikagetkan oleh beberapa orang yang berlarian keluar dari dalam rumahnya, ada yang berteriak minta tolong, ada yang hanya menangis sambil melambaikan tangannya meminta pertolongan, pikiran saya mungkin ada kebakaran dalam rumah mereka sehingga mereka berhamburan keluar rumah, setelah saya berusaha mendekati dengan pelan-pelan saya majukan mobil dan membuka kaca samping bagian depan dengan niat mau cari tahu adapa apa gerangan yang terjadi, saya tertuju pada wanita /ibu-ibu yg sedang menggendong anaknya yang berumur sekitar 1 tahun, saya bertanya dari dalam mobil, kenapaki Bu? Ada apa? Sang ibu ibu itu cuma menjawab anakku… Anakku…. Anakku pak…. Jadi saya lanjut bertanya kenapa anakta bu? Dia cuma bisa jawab tolong pak…. Tolong pak, dengan sigap saya turun dari mobil sambil mendekati ibu itu, ternyata anaknya (Aqila) lagi demam tinggi dan steep, langsung saya buka pintu mobil dan mempersilahkan naik di mobil untuk segera kita bawa ke rumah sakit terdekat, maka naiklah ibu itu beserta anaknya (Aqila) dan kedua kakaknya disusul bapaknya yg saya persilahkan duduk di jok depan. Dengan seketika saya memacu kendaraan menuju rumah sakit AURI (jalan poros bandara baru) dan orderan penumpang saya putuskan untuk membatalkan demi kemanusiaan. Dalam perjalanan menuju rumah sakit lampu Hazard saya nyalakan beserta sesekali menyalakan lampu panjang dan membunyikan klakson mobil serta melambaikan tangan meminta kepengguna jalan lain untuk memberikan ruang jalan bagi kami lalui bagaikan ambulance yg yang lagi melaju membawa pasien gawat darurat.

Sepanjang perjalanan hanya suara tangis mereka (bapak, ibu dan kedua kakaknya) dengan sesekali anak sulung (sang kakak) selalu memanggil nama adeknya, Aqila… Aqila… Aqila bangun adek, bicara adek, tidak mauka adek…. dari situlah saya tahu bahwa Putri bungsu (bidadari kecil) mereka bernama AQILA. Sepanjang perjalanan pun saya berusaha menenangkan dan menyemangati mereka serta saya coba kasi tips untuk penanganan anak yang steep, pengalaman itu saya bagikan ke mereka karena saya teringat ponakan beberapa tahun lalu juga pernah steep dan kebetulan saya juga yang gendong masuk rumah sakit dan dibeikan penjelasan dari rekam medis tentang pertolongan pertama pada anak yg step. Walhasil setelah ibunya melakukan cara itu beberapa saat kemudian mata adek Aqila langsung turun yg tadinya terbelalak…. Disitulah mereka langsung diam dan tidak terdengar lagi suara tangis, hanya ungkapan syukur Alhamdulillah terdengar dari bibir sang ibu yang memangku adek Aqila.

Saya tetap memacu kendaraan untuk cepat tiba di rumah sakit, di jalan arung teko saya pilih potong kompas lewat lorong yg tembus ke hotel Darma wisata dan langsung berbelok tajam kekanan melawan arus sedikit untuk bisa sampai di jalur sebelah, sepertinya pengguna jalan dari dalam bandara cukup mengerti dengan keadaan mobil yg menyala lampu Hazard dan lampu panjang kami sehingga mereka rela berhenti sejenak untuk memberi ruang jalan kami menuju pemutaran ke sebelah jalur sebenarnya.

Pada saat kami sudah berada di jalur sebenarnya tiba-tiba adek Aqila muntah dan langsung lemas, pecahlah kembali tangisan mereka sambil meraung-raung memanggil Aqila… Aqila…. Aqilah…. Bangun nak, bangun adek…. Bangun adek…. Saya tidak mau adek pergi…. Bangunnnn bangun nakkkk…. Aqila….. Kami sayang adeek….. Tak terasa air mata saya berurai juga dengan berbagai macam pikiran ada apa dengan bidadari mungil ini? Tapi saya tetap fokus mengemudi dengan kecepatan 130-140 KM/jam sambil saya berdoa dalam hati Ya Allah…. Engkaulah maha penyembuh, maka dengan kebesaran Mu lah Ya.. Allah berikan lah kesembuhan kepada adek AQILA. Tiada daya dan upaya kami kecuali dengan kekuatan Mu Yaa Allah.

Dan akhirnya tibalah kami depan gerbang rumah sakit yg pada saat itu dijaga oleh beberapa anggota TNI AU, salah seorang dari mereka menghampiri mobil untuk pengecekan sesuai protokol mereka, namun saya langsung berujar maaf pak gawat darurat, sang bapak tentara pun langsung mempersilahkan masuk dan kami pun lang menuju loby IGD. Setelah di loby saya langsung buka pintu dan turun untuk bukakan pintu samping belakang untuk segera masuk ke IGD, ibu itu berkata pak saya tdk bisa goyang seperti tulang-tulangku tidak ada, bapaknya yg duduk di depan hanya tunduk menangis di dashboard mobil sambil berucap pak apami artinya perjuangan ta ini kl ternyata Aqila sudah tidak ada lagi, saya cuma jawab tidakji pak Aqila masih ada, baik-baik ji tanpa menunggu jawaban sang bapak lagi saya langsung ambil adek Aqila dari pangkuan ibunya, sambil berucap tabe bu saya bantuki ayo masuk temani adek Aqila periksa di dokter. Saya berlalu menggendong Aqila masuk d ruang IGD diikuti ibu dan kedua kakaknya yg masih kecil-kecil juga, kami disambut langsung oleh beberapa tenaga medis termasuk dokter jaganya langsung berucap kenapai adek, saya langsung jawab stepki dok. dokternya pun berucap kasi tidur ki di tempat tidur situ, saya rebahkan tubuh bidadari kecil itu yg sangat lemas, dokter pun dengan sigap memeriksa keadaan Aqila. Kami terdiam beberapa menit setelah itu saya langsung bertanya Dok bagaimana keadaannya, dokter menjawab Alhamdulillah adeknya baik-baik hanya saja dia lemas karena habis kejang pastinya, langsung ibunya berucap hidup ji anakku dokter, dokter tersenyum sambil menjawab anakta baik-baik ji bu, tenangki nah biar diurus sama perawat. Setelah memastikan adek Aqila baik-baik saja saya pun pamit ke ibu untuk meninggalkan ruang IGD, lagian mobil masih di lobby terparkir.

Sesampainya saya di mobil ternya sang bapak masih saja tetap menangis di mobil sambil bertanya bagaimana anakku pak? Saya jawab Adek Aqila baik-baik saja, dia bertanya lagi betulanki pak tidak apa-apa ji, saya sambil merangkul pundaknya sambil berucap adek Aqila sudah ditangani oleh dokter dan Alhamdulillah baik-baik saja. Bapak itu langsung tersenyum dan merogoh kantong celananya sambil bertanya berapami saya bayarkanki pak? Kita sudah tolong keluargaku dan sudah batalkan orderan ta. Saya tetap merangkul pundaknya sambil berucap masukmaki pak temani adek Aqila, dia butuh kita disampingnya masalah bayaran janganmiki pikirki. Bapak itu langsung menangis lagi sambil membungkukkan badannya seolah-olah mau bersujud di kakiku tapi langsung saya tahan dan rangkul untuk bisa segera masuk kedalam menemui bidadari kecilnya, seiring berlalunya bapak itu dibalik pintu IGD saya pun bergegas ke mobil untuk segera meninggalkan lobby IGD.

Pada saat saya mulai mundur tiba-tiba muncul kedua kakak Aqila keluar dari pintu sambil menangis saya hampiri kedua bocah itu sambil bertanya kenapa ki nak? Sang kakak menjawab dilarang ki masuk anak kecil na saya mau temani adek Aqila didalam, langsung saya rangkul keduanya sambil berucap sebentar lagi Adek Aqila sembuh dan keluar dari dalam disinimiki dulu tunggu ki nak di? sambil saya arahkan ke kursi panjang yang ada d depan IGD, diammiki nak nah tunggu adekta sama mama dan bapakta keluar dari dalam. Om jalan dulu yach nak? Mereka pun terdiam sambil mengangguk.

Yaa Allah, sembuhkan dan sehatkanlah Aqila (bidadari kecil itu).
Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatu.
Aqila semoga engkau baik2 saja.

“saya titip seuntai doa untuk kesembuhan adek Aqila semoga bidadari kecil itu baik-baik saja,” tutup Hermanto kepada BugisPos.

(Hermanto)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya