Kodong, Dg Sila 30 Tahun Jaga Rumah Adat Tanpa Honor

15 November 2021 13:17
Kodong, Dg Sila 30 Tahun Jaga Rumah Adat Tanpa Honor
Dg Sila (70) sudah lebih 30 tahun menjaga dan memelihara rumah adat Majene di kawasan Benteng Somba Opu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tidak punya honor tetap/Foto: Mahaji Noesa

Inilah rumah adat Majene di kawasan Benteng Somba Opu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

BugisPos – Lebih dari 30 tahun, Dg Sila dipercaya menjaga sekaligus memelihara rumah adat Majene di kawasan Benteng Somba Opu (BSO), kabupaten Gowa, hingga kini tanpa mendapat honor tetap.

Kakek berusia lebih 70 tahun ini mengaku, sejak tahun 1990 dipercaya menjaga dan memelihara rumah adat Majene di kawasan BSO.

“Waktu itu kabupaten Majene masih masuk wilayah provinsi Sulawesi Selatan,” katanya.
Kabupaten Majene, kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) dan kabupaten Mamuju sebelumnya merupakan bagian dari provinsi Sulsel. Ketiga wilayah tersebut yang dimekarkan menjadi provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tahun 2004.

Sewaktu kabupaten Majene masih masuk wilayah Sulsel, menurut Dg Sila, seringkali ada pejabat dari provinsi Sulsel setiap bulan datang memberikan duit kepadanya selaku penjaga dan pemelihara rumah adat Majene di kawasan BSO.

“Tapi sejak tahun 2004 sampai sekarang tidak pernah lagi ada orang dari provinsi Sulsel maupun dari provinsi Sulbar yang datang memberikan bantuan biaya penjagaan serta untuk pemeliharaan rumah adat Majene ini,” jelas Dg Sila kepada BugisPos.com yang menemuinya di kawasan BSO.

Ayah dari tiga orang anak dengan 6 cucu ini mengungkap, pembelian voucher listrik serta pengadaan air bersih di rumah adat Majene selama telah puluhan tahun dirinya yang menanggung dari hasil kerja serabutan.

Sebelum Pandemi Covid-19, ceritanya, dalam sebulan sering ada satu dua malam kelompok mahasiswa menyewa nginap rumah adat Majene dengan tarif Rp500 ribu semalam.

“Uang sewa itu saya pakai untuk bantu-bantu biaya pemeliharaan dan kebutuhan hidup sehari-hari menjaga di rumah adat. Tapi selama 2 tahun ada virus Corona-19 kita payah betul karena tidak pernah ada yang menyewa nginap rumah adat ini,” papar Dg Sila dengan sorot mata sendu.

Dia berharap ada bantuan biaya hidup dan dana pemeliharaan rumah adat setiap bulan khususnya dari Pemprov Sulbar.

“Kalau penjaga rumah adat Mamuju itu bagus karena sudah diangkat jadi pegawai, ada gajinya tiap bulan,” ucap Dg Sila sembari menunjuk rumah Adat Mamuju ‘Sapo Kayyanna To Mamunyu’ yang bersebelahan lokasi dengan rumah adat Majene di kawasan BSO.

Dalam area BSO, sejak eskavasi dilakukan tahun 1989 terhadap kawasan bekas benteng pusat Kerajaan Gowa abad XVI tersebut, Pemprov Sulsel juga membangun rumah-rumah adat kabupaten di dalamnya, termasuk rumah- rumah adat dari wilayah Mandar yang kini telah menjadi Provinsi Sulbar.

Selain rumah adat Majene dan Mamuju, juga ada dibangun rumah adat Mamasa serta rumah adat Polewali Mandar.

Rumah-rumah adat Sulbar di kawasan BSO tersebut sebagian besar kini kurang terurus. Bahkan rumah adat Mamasa yang berdekatan lokasi rumah adat Toraja di kawasan BSO dalam kondisi sudah lama rusak berantakan.

Rumah adat Mamuju yang berdekatan dengan rumah adat Majene, menurut Dg Sila lantai papannya juga sudah rapuh. (aji)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya