Oleh : Usdar Nawawi

Tabe, Ini Cerita Soal Wartawan Abal-abal

19 November 2021 16:17
Tabe, Ini Cerita Soal Wartawan Abal-abal

BugisPos — Belum lama ini, Dewan Pers menggelar diskusi tentang Wartawan.

Yang mencuat pada diskusi yang dihadiri Kemenkominfo dan Humas Polri itu, adalah soal Wartawan abal-abal. Bahkan usai acara diskusi, Kadiv Humas Polri Irjen. Pol. Argo Yuwono, dalam wawancara media mengatakan, saat ini ada 30 ribu media online di Indonesia yang belum terverifikasi.

Argo Yuwono menyatakan, pihak Polri mendorong Kemenkominfo dan Dewan Pers menertibkan media tersebut, sebab mungkin saja di dalamnya terdapat Wartawan abal-abal.

Pada tulisan ini, Saya tak ingin bicara soal media yang terverifikasi atau belum terverifikasi. Saya memilih bicara soal orang di media itu, yang dapat diduga ada saja di dalamnya yang diangkat sebagai Wartawan, yang kemudian ternyata masuk dalam katagori sebagaimana yang akan Saya ungkapkan dalam tulisan ini.

Namun sebelumnya Saya ingin minta maaf kepada seluruh media pers di negeri ini, oleh karena tulisan ini bisa saja dicap sebagai membuka aib sendiri.

Namun bila ternyata Saya dipandang membuka aib sendiri, maka tulisan ini saya pandang sebagai do’a, semoga kita semua pengelola media, tidak sampai mempekerjakan Wartawan abal-abal.

Kata Abal-abal sebenarnya berarti palsu. Tapi seiring berjalannya waktu, kata abal-abal juga mulai digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak benar/rusak/tidak semestinya. Kata abal-abal ini berasal dari Ambon.

Media profesional di negeri ini memang cukup besar jumlahnya, namun karena mudahnya siapa saja membuat Website pemberitaan, jadinya Indonesia kebajiran media.
Jadinya bikin pusing Dewan Pers, Kemenkominfo, organisasi kewartawanan yang resmi, sampai Polri menyatakan mendorong Dewan Pers dan Kemenkominfo melakukan penertiban.

Dan biarlah mereka mengurusi soal media itu. Saya hanya ingin menulis tentang lima istilah Wartawan yang selama ini menjadi perbincangan luar di masyarakat.

Wartawan Bodrex

Wartawan bodrex dimaknai sebagai Wartawan yang bikin sakit kepala pejabat atau narasumber.

Mereka datangi pejabat dengan pertanyaan atas berbagai data dan masalah. Tapi ujung-ujungnya dia minta bantuan biaya perjalanan jurnalistik bohong-bohongan ke daerah.
Akibatnya bikin pejabat atau sumber berita sakit kepala carikan uang untuk mereka.

Wartawan Muntaber

Wartawan Muntaber (Muncul tanpa berita), dimaknai sebagai Wartawan yang datang wawancara pejabat atau sumber berita, atau menghadiri jumpa pers. Tapi ternyata beritanya tidak muncul di media tempatnya bekerja. Padahal sumber berita telah memberinya uang transportasi. Ya amplop jumpa pers lah istilahnya.

Wartawan Songkok Guru

Wartawan jenis ini suka datang ke acara buka puasa di rumah pejabat atau sumber berita saat bulan Ramadan.

Mereka datang rombongan dengan atas nama berbagai media.
Usai buka puasa, mereka menulis nama dan nama medianya. Kadang juga mengaku media orang lain padahal dia bukan Wartawan di media tersebut.

Bahkan pernah di Rujab Sekda beberapa waktu lalu, sampai 70 org yang rata-rata pakai kopiah dan songkok guru. Mereka tidak mau tinggalkan tempat bila tidak dikasi amplop berisi uang.

Wartawan songkok guru ini lain lagi ceritanya saat perayaan Idul Qurban. Mereka berkelompok mengejar-ngejar daging qurban. Nauzubillah.

Wartawan Silaturrahmi

Wartawan yang datang ke pejabat atau sumber berita saat jam kerja, dengan dalih silaturrahmi.

Padahal Wartawan tugasnya bukan silaturahmi tapi mencari berita untuk medianya.

Mereka juga beralasan mau berangkat ke daerah dengan harapan diberi uang transpor. Kadang tidak mau pulang bila tidak diberi uang.

Nah, empat model Wartawan tersebut di atas, dapat dimaknai sebagai Wartawan Abal-abal. Mereka adalah Wartawan palsu, Wartawan yang tidak benar, rusak, dan tidak semestinya menyebut diri sebagai berprofesi Wartawan.

Megaku Wartawan tapi sebenarnya bukan Wartawan, punya kartu pers. Medianya juga tidak jelas seperti apa. Kartu pers itulah digunakan menemui pejabat atau sumber berita, atau siapapun untuk mencari uang.

Pertanyaanya, siapa pemimpin redaksi/penanggung jawab di medianya. Dan medianya itu adalah media seperti apa ? Masalahnya, Wartawannya itu juga tidak tahu mau wawancara soal apa, tentang apa, mau bagaimana modelnya untuk mengorek informasi bila ketemu sumber berita.

Gayanya bahkan terlihat diam mematung. Duduk cukup lama terkesan tak mau pulang. Itu tanda dia cuma datang dengan menyebut medianya, lalu menunggu pemberian amplop. Waduhhh !!!

Tentu hal ini semua amat menyakitkan hati bagi Wartawan yang sebenar-benarnya Wartawan, yang profesinya mengumpul informasi, bahan berita, lalu mengolahnya menjadi berita sesuai kode etik jurnalistik yang sah, lalu mempublikasikan di media pers tempatnya bekerja.

Bahwa sebetulnya tulisan ini sungguh pahit rasanya.

Tetapi demi perbaikan dunia kewartawanan kita di negeri ini, maka Saya harus menulisnya meskipun menelan rasa pahit yang luar biasa.

Mungkin saja saat ini, Saya sedang menanti seperti apa peran Kemenkominfo yang cukup kuat punya APBN itu, dan Dewan Pers yang tengah menjalankan perintah UU Pers No. 40 tahun 1999, yang tentu saja sedang menyaksikan sepak-terjang Wartawan abal-abal itu ***

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya