Munduru’ ki Pelatih Dan Mantan Atlit Tapak Suci Cabang Sambung Jawa, Ada apa?

23 May 2022 14:05
Munduru’ ki Pelatih Dan Mantan Atlit Tapak Suci Cabang Sambung Jawa, Ada apa?
Pimda 28 Makassar Tapak Suci Cabang Sambung Jawa

BugisPos– Tapak Suci Cabang Sambung Jawa adalah salah satu cabang latihan yang terdaftar di Pimda 28 Tapak Suci Makassar, dan merupakan salah satu cabang lama di kota Makassar.

Iklan Camat Panakukang

Cabang ini pernah berjaya di jamannya kerena pernah melahirkan atlet nasional yang mengharumkan nama besar Sulawesi Selatan melalui Pra PON dan PON XV Surabaya tahun 2000.

Seiring berjalannya waktu cabang Sambung Jawa sempat vakum kurang lebih 20 tahun lamanya, diakibatkan karena pelatih dan Kader yang membina dicabang sudah banyak yang tidak aktif karena kesibukan pekerjaan masing-masing.

Di awal tahun 2022 cabang ini kembali di aktifkan melalui Angkatan Mudah Muhammadiyah bekerjasama dengan pelatih Tapak Suci yang masih berdomisili di sekitar Cabang Sambung Jawa yang salah satunya adalah Rahmat Tumengkol yang merupakan mantan atlit PON Sulsel pada tahun 2000 silam.

Cabang latihan yang baru kembali muncul ini dikejutkan dengan mundurnya 2 orang pelatih yakni Rahmat Tumengkol dan Hermanto yang selama ini sudah didaulat untuk melanjutkan pendidikan dan latihan kepada siswa Tapak Suci yang sudah terdaftar.

Salah satu pelatih yang menyatakan mundur dari cabang Sambung Jawa adalah Hermanto, dimana dari awal pembukaan kembali cabang sambung jawa aktif melatih dan membina siswa Tapak Suci Cabang Sambung Jawa.

Menurut Hermanto alasannya mengundurkan diri adalah adanya sikap arogansi pengurus yang memaksakan penggunaan sabuk biru kepada semua pengurus dalam pelantikan pengurus namun mereka belum pantas untuk menggunakan sabuk ketingkatan itu, karena mereka bukan Kader atau belum pernah mengikuti proses ujian dan LKPTS untuk berhak menyandang sabuk biru.

Lanjut Hermanto, yang merupakan Kader Kepala mengatakan penggunaan sabuk biru pada orang yang belum memenuhi syarat adalah suatu pelanggaran perguruan, di perguruan Tapak Suci ada aturan yang harus kita jalankan apa lagi ini persoalan keilmuan dan ketingkatan. Ini sabuk bukan main-mainan yang bisa dipakai seenaknya bagi yang belum melalui proses.

“Boleh dikata untuk mendapatkan sabuk biru Tapak Suci kami pertaruhkan nyawa kami, sementara ada oknum yang seenak perutnya mau menggunakan hanya karena mau gaya-gayaan didepan para siswa. Ketingkatan dan sabuk ini sangat sakral dalam perguruan beladiri manapun termasuk Tapak Suci”. Lanjutnya

Hal ini sudah kami ingatkan kepada pengurus untuk tidak menggunakan sabuk biru pada orang yang belum memenuhi persyaratan pada saat pelantikan nanti, bahkan saya sudah memberikan solusi kepada pengurus dalam pelantikan nantinya yakni alternatif pertama memakai baju PDH yang ada lambang Tapak Suci kedua baju Batik Tapak Suci, yang ketiga menggunakan pakaian adat Sulawesi Selatan, kalau hanya ingin tampil seragam di pelantikan. Jangan dengan alasan mau membedakan mana pengurus mana siswa sehingga aturan Perguruan di sepelehkan. Tegasnya.

Adapun konfirmasi saya ke sekertaris Pimda Makassar terkait penggunaan sabuk biru oleh pengurus yang notabene bukan kader Tapak Suci.

“Pimda yang salah besar kalau begitu? Tapi siapa oknumnya krn tdk bisa digenerel sebagai Pimda kalau person, dan tidak ada informasi sama sekali terkait adanya penggunaan sabuk kader abal2 kayak begini…”

“Selesaikan dulu itu, kalau hanya mau merusak tatanan, lebih baik lanjutkan saja tidur panjangnya sambung jawa… bayangkan sorotan cabang2 kalau begini dan pasti pikirannya kita2 yang kasih izin”

Senada dengan itu, Rahmat Tumengkol yang merupakan pelatih senior yang dimiliki cabang sambung jawa dan mantan atlit PON Sulsel, menambahkan bahwa keputusan untuk mundur dari cabang sambung jawa merupakan hal yang harus kami lakukan, saya seorang kader tidak mau ikut mencederai aturan atau AD/ART perguruan Tapak Suci.

Saya paham aturan jadi saya merasa tidak nyaman dengan pelanggaran yang dilakukan, dan pelanggaran itu sudah beberapa kali kami sampaikan ke teman pengurus, namun selalu dikatakan bahwa pengurus sudah berkoordinasi dengan Pimda Makassar dan sudah mendapat izin atas penggunaan sabuk biru. Ungkap mantan atlit PON ini.

Terkait dengan permasalahan ini Sekertaris Pimda 28 Tapak Suci Kota Makassar Haeruddin Makkasau dihubungi secara terpisah melalui telepon selulernya menyampaikan bahwa tidak ada satu orang pun dari cabang sambung jawa menyampaikan ke Pimda terkait penggunaan sabuk biru di pelantikan, dan kami sudah konfirmasi dengan cabang terkait.

Ini memang merupakan pelanggaran berat yang berpotensi merusak tatanan perguruan, olehnya itu kami langsung mengadakan pertemuan dengan pengurus cabang sambung jawa untuk memberikan teguran sekaligus arahan tentang penggunaan sabuk dalam Perguruan Tapak Suci.

Hadir dalam pertemuan tersebut adalan Sekertaris Pimda, Ketua Dewan Pelatih Pimda dan hadir juga Sekertaris Wilayah V Tapak Suci Sulawesi Selatan.

Lanjut Haeruddin Makkasau, bahwa hal ini tidak boleh lagi terulang karena ini merupakan pelanggaran besar dan mencederai aturan Perguruan Tapak Suci. Dan untuk tidak lagi terulang seperti itu maka Pimda harus menarik sabuk biru itu untuk diamankan supaya potensi penyalahgunaan sabuk biru tidak lagi terjadi pada Cabang Sambung Jawa. Lanjutnya.

Silahkan lanjutkan latihan di cabang Sambung Jawa dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai perguruan, karena ada aturan yang berlaku, dan sangat jelas untuk kita patuhi secara organisasi. Tutupnya di ujung telepon selulernya.(Wi)

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya