Ini mi A’biseang Lalang Bonto, Perahu Penyeberangan Warga Kota Makassar di Muara Jeneberang

13 July 2022 23:38
Ini mi A’biseang Lalang Bonto, Perahu Penyeberangan Warga Kota Makassar di Muara Jeneberang
Salah satu pangkalan perahu penyeberangan warga kota Makassar di tepi muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

BugisPos, Makassar – A’biseang lalang bonto (Bahasa Makassar). Berarti: Berperahu dalam Kampung. Untaian kalimat masa silam tersebut tatkala lingkungan alam belum rusak ternyata masih up date di Makassar yang telah berstatus sebagai Kota Metropolitan.

Saat ini masih banyak warga kota Makassar dalam aktivitas kesehariannya sebagai pegawai atau karyawan di berbagai bidang usaha, setiap hari harus bersentuhan memanfaatkan jasa transportasi perahu.

“Cukup banyak Pak, warga kelurahan Barombong ber-KTP kota Makassar setiap pagi hari jika hendak pergi kerja maupun sore hari saat telah pulang kerja naik perahu motor penyeberangan di sini,” jelas seorang juragan perahu motor di pangkalan Perahu Motor tepi Sungai Jeneberang, wilayah kelurahan Parang Tambung kecamatan Tamalate, kota Makassar, Rabu (13/07/2022) siang.

Kelurahan Barombong kecamatan Tamalate merupakan wilayah selatan kota Makassar yang berbatasan dengan wilayah kabupaten Takalar dan kabupaten Gowa.

Semua wilayah kelurahan Barombong berada di sebelah selatan bentangan Sungai Jeneberang yang mengalir dari arah timur kabupaten Gowa dan bermuara di arah barat Laut Selat Makassar.

Terdapat dua jalur jalan darat bagi warga kota Makassar di kelurahan Barombong jika hendak ke pusat kota Makassar. Pertama, dapat melintasi jalanan menuju Jambatan Kambara di kota Sungguminasi, ibukota kabupaten Gowa. Melalui jalur ini warga kelurahan Barambong harus menempuh perjalanan lebih 20 km untuk mencapai pusat kota Makassar.

Selain itu, untuk ke pusat kota Makassar, warga kelurahan Barombong dapat melalui jalanan lalu melintas Jembatan Barombong di atas muara Sungai Jeneberang. Jarak wilayah kelurahan Barombong ke Balaikota Makassar melalui jalur ini sekitar 10 kilometer.

Melalui jalur Jembatan Barombong di waktu pagi, siang dan sore hari seringkali menyita waktu pengendara lebih lama, lantaran terjadinya kemacetan di jembatan sepanjang 300-an meter dengan lebar 5 meter tersebut.

Salah satu perahu penyeberangan beratap di pangkalan penyeberangan Parang Tambung, Rabu (13/07/2022)/Foto: Mahaji Noesa

Itulah sebabnya banyak warga kota Makassar yang bermukim di wilayah Barombong masih cenderung memilih jalan pintas menggunakan perahu penyeberangan di tepi-tepi Sungai Jeneberang. Jaraknya lebih pendek dengan waktu lebih singkat. Meskipun penyeberangan ini hanya sebatas memuat penumpang orang dan kendaraan bermotor roda dua.

‘’Hanya sekitar setengah jam saya sudah dapat mencapai tempat kerja jika melintas dengan perahu penyeberangan untuk sampai ke tempat kerja saya di Jalan AP Pettarani kota Makassar. Jika melalui jalur jalan lewat Jembatan Barombong atau Jembatan Kambara Sungguminasa harus ditempuh 1 hingga 2 jam perjalanan,’’ jelas Amri, warga berkendara sepeda motor yang mengaku bermukim perumahan sekitar lingkungan Timbuseng, kelurahan Barombong, kecamatan Tamalate kota Makassar.

Sepanjang tepian Sungai Jeneberang, mulai dari kelurahan Parang Tambung hingga Jembatan Barombong, muara Sungai Jeneberang, sejak lama terdapat banyak tumbuh usaha rakyat untuk penyeberangan menggunakan perahu bermotor.

‘’Di sini mi biaya penyeberangan paling murah Pak! Sampai sekarang sekali menyeberang perorang dengan sepeda motornya hanya Rp2.000,” jelas Abdul Madjid Lalu, Kepala Lingkungan Patting kelurahan Benteng Somba Opu Kecamatan Barombong kabupaten Gowa kepada BugisPos, Rabu (13/07/2022) siang di salah satu tempat penyeberangan perahu Benteng Somba Opu.

Wilayah Kelurahan Barombong kecamatan Tamalate kota Makassar berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Barombong kabupaten Gowa.

Justeru Abdul Madjid berharap, agar pemerintah dapat memperhatikan membantu pengembangan usaha rakyat penyeberangan di lintas Sungai Jeneberang. Dapat dibantu dengan membuatkan tempat-tempat penyeberangan yang refresentatif. Menyiapkan semacam baju-baju pelampung untuk dikenakan penumpang di setiap perahu penyeberangan.

“Juga membantu kalau bisa secepatnya dapat menyediakan penerangan lingkungan di tepi-tepi tempat penyeberangan Sungai Jeneberang. Karena kegiatan penyeberangan ini berlangsung hingga malam hari,” katanya.

Sepanjang muara Sungai Jeneberang menyuguhkan panorama alam yang menarik. Tempat terbaik menyaksikan matahari terbit (sunrise) dari arah barisan pegunungan kabupaten Gowa, pagi hari. Juga menjadi tempat terbaik melihat indahnya matahari terbenam sore hari (sunset) di laut Selat Makassar.

Terdapat situs bekas Benteng Somba Opu, benteng induk Kerajaan Gowa abad XVII di sekitar pesisir muara Sungai Jeneberang. Ratusan perahu nelayan penangkap ikan setiap hari silih berganti keluar masuk menambat di alur tepi muara Sungai Jeneberang. Merupakan lokasi yang menarik spesifik jika ditata menjadi destinasi wisata di perbatasan kota Makassar dan kabupaten Gowa.

Menariknya, perahu bermotor angkutan penumpang dan sepeda motor di tempat penyeberangan muara Sungai Jeneberang ada yang open kap. Di arah timur Bendung Karet Sungai Jeneberang justeru banyak terlihat perahu penyeberangan beratap dengan berbagai modelnya yang unik. Berdaya angkut 5 hingga 10 penumpang dengan sepeda motornya untuk tiap perahu penyeberangan.

Ke tepian muara Sungai Jeneberang mi sekarang, saksikan sepanjang waktu siang banyak warga kota Makassar yang masih a’biseang lalang bonto. (aji)

447 Views

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya