Macca Tongeng, Andi Elsa Fadhilah Sakti jadi Doktor Termuda ki di Unhas

18 May 2024 09:53
Macca Tongeng, Andi Elsa Fadhilah Sakti jadi Doktor Termuda ki di Unhas

BugisPos, Makassar — Andi Elsa Fadhilah Sakti berhasil meraih gelar Doktor (S3) termuda setelah mempertahankan disertasinya tentang bullying di sekolah. Gadis 27 tahun, yang akrab disapa Elsa itu, mengikuti Promosi Doktor pada Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat, 17 Mei 2024.

Andi Elsa Fadhilah Sakti tercatat sebagai Doktor Pertama English Language Studies (ELS) FIB Unhas sekaligus sebagai Doktor termuda yang pernah dihasilkan Unhas selama ini. Dia menjalani Promosi Doktornya di Ruang Senat FIB Unhas, Tamalanrea.

Elsa kelahiran Panincong, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, 9 Oktober 1996. Dia merupakan anak pasangan Prof Dr Sukardi Weda dan Andi Rusbanna Amir.

Jika dihitung tahun kelahirannya dengan saat dia meraih gelar Doktor, maka Elsa mampu menyelesaikan pendidikan Doktornya itu dalam usia 27 tahun dan tercatat sebagai Doktor termuda yang pernah dihasilkan Unhas.

Andi Elsa Fadhilah Sakti dalam ujian promosi Doktor dipimpin oleh Dekan Fakultas lImu Budaya Unhas Prof Dr Akin Duli, MA. itu, mempertahankan disertasi berjudul “Bullyng as Social Phenomena in Stargirl by Jerry Spinnelli and Unfriend You” Masihkah Kau Temanku? By Dyah Rinni (A Comparative Study). Perundungan sebagai Fenomena Sosial di Stargirl oleh Jerry Spinnelli dan Unfriend You: Masihkah Kau Temanku? Oleh Dyah Rinni.”

Penelitian ini menggunakan 2 novel karya penulis yang berbeda negara tapi dengan topik yang sama. Temanya tentang bullying yang terjadi di sekolah dan korbannya merupakan siswa baru.

Bertindak sebagai Promotor adalah Prof Dr Fathu Rahman, M.Hum yang juga mantan WD 1 FIB Unhas dan Ko Promotor masing-masing adalah Prof Dr M Amir P, M.Hum, dan Prof Dr Harlinah Sahib, M.Hum.

Adapun yang bertindak sebagai penguji eksternal adalah Prof Drs Muhammad Basri Jafar, MA, Ph.D. dari UNM dan penguji internal adalah Prof Dr Noer Jihad Saleh, MA, Dra Herawaty, M.Hum, MA, Ph.D, dan Dr Prasuri Kuswarini, MA.

Elsa mampu memaparkan dan mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji dengan sangat meyakinkan. Ia dengan tegas mengatakan bahwa fenomena bullying (perundungan) memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja, khususnya siswa baru di suatu sekolah.

Perundungan, kata Elsa, menyebabkan prestasi siswa menurun dan rasa percaya diri berkurang. Bahkan terkadang muncul di pikiran korban untuk bunuh diri. Sebagai akibat korban merasa tidak mendapat penerimaan yang baik di sekolah.

Selain itu, bullying juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekolah, sehingga menimbulkan suasana yang tidak aman dan tidak kondusif dalam pembelajaran. Aktivitas bullying di sekolah dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik korban bullying.

Fenomena perilaku bullying marak terjadi terutama di kalangan anak sekolah dasar, hingga jenjang pendidikan tinggi. Bullying dikatakan sebagai suatu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh teman sebaya atau senior terhadap seseorang atau orang yang lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan bagi dirinya sendiri.

Perilaku perundungan yang sering terjadi pada era ini bersifat verbal, misalnya saling mengolok-olok dengan nama buruk. Bahkan berupa perundungan fisik dengan cara memukul dan menyiksa orang lain pun sering terjadi.

Selain itu, ada yang lebih parah, yakni maraknya perundungan sosial. Bentuknya, mengarahkan orang lain untuk menjauhi seseorang atau merusak citra orang lain. Perundungan ini terjadi terhadap korban yang dianggap lemah atau tidak mempunyai kekuasaan.

Sebagai peneliti, Elsa menghasilkan sebuah model penanganan bullying yang dapat dijadikan referensi untuk menghindari bullying yang marak terjadi di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah, siswa baru seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh siswa lama atau seniornya.

Peneliti merancang model yang disebut model ELSA, sebuah model untuk mencegah perundungan. Model yang mirip namanya itu, merupakan akronim dari Empathetyc (empati), Lovely (menyenangkan), Safe (aman), dan Acceptable (dapat diterima).

Melalui hasil penelitiannya, Elsa menemukan bahwa kecenderungan jenis bullying yang terjadi adalah bullying sosial dan verbal. Bullying jenis ini mudah ditemukan di kalangan remaja. Pelaku bullying merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak menimbulkan kerugian secara fisik. Namun, sesungguhnya, bullying secara sosial dan verbal lebih merugikan mental dan jiwa korbannya. (*)

229 Views

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya