Makassar

Tunggu Maki Cappo ! Dafi School, ICMI Sulsel dan K-apel Mau ki Buat Ekosistem Riset

277
×

Tunggu Maki Cappo ! Dafi School, ICMI Sulsel dan K-apel Mau ki Buat Ekosistem Riset

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Makassar — Sekolah Islam Terpadu (SIT) Darul Fikri atau lebih populer disebut Dafi School menggelar pertemuan dengan Ikatan Cendikiawan Muslim (ICMI) dan Komunitas Anak Pelangi (K-apel), Rabu (7/1/2026) di Saung Topaz Makassar.

Pertemuan ini untuk membahas dan membentuk kesepahaman antara tiga elemen masyarakat dalam rangka gelaran Dafi Fest & Expo Riset 2026 yang rencananya akan digelar pada 10 hingga 12 Februari 2026 mendatang.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Ketua ICMI Sulsel Prof Dr Arismunandar, M.Pd didampingi wakil Ketua bidang Iptek Prof Dr SC Agr; Ir Baharuddin itu, menyepakati kolaborasi tiga elemen masyarakat dalam membentuk ekosistem riset di sekolah, mulai dari jenjang kelompok bermain hingga sekolah menengah.

Hal ini diungkapkan Pembina Dafi School Ir. H. Rusdi Hidayat, yang pada pertemuan itu juga didampingi pembina Jafar Sodding, Ketua Yayasan Rasyidin Adnan, S.Hi serta Alwi, S.Pd.,M.Pd, Mabrur,S.Si, Ishafiuddin, S.Pd.,M.Pd dan para pengurus yayasan.

H. Rusdi demikian akrabnya disapa juga mengungkapkan bahwa pegelaran Dafi Fest & Expo Riset 2026 ini akan membuat gaungnya lebih besar dari pagelaran sebelumnya.

“Untuk itu Pak Prof, kami juga menggandeng Komunitas Anak Pelangi untuk ikut merumuskan masalah dari grounded di masyarakat yang kemudian akan dijadikan sebagai bahan riset yang akan kita tampilkan,” tutur H. Rusdi yang juga Wakil Bendahara ICMI Sulsel ini.

Lebih jauh lagi, ia juga menyampaikan ajan menggandeng Badan Riset Nasional (BRIN) dalam Fest & Expo kali ini.

“Semoga Ketua BRIN Prof Dr Arif Satria SP MSi dapat hadir dalam Dafi Fest & Expo Riset 2026,” kuncinya.

Sementara itu, Ketua PW ICMI Sulsel Prof Arismunandar menyambut baik ide Fest & Expo yang akan digelar pada Februari nanti dengan menggandeng komunitas.

“Kalau tidak undang dalam silaturahmi ini, tentu kami tak mengenal K-apel ini,” kata Mantan Rektor UNM ini.

Dia juga mendukung budaya riset yang akan digelar ini sembari membeberkan kegiatan yang dilakukan ICMI seperti program Desa Binaan ICMI dan diskusi bulanan.

“Ide ini sangat baik, namun saya mengusulkan agar kegiatan riset ini dilokalisir di daerah Makassar dulu,” usulnya.

Ia juga menyampaikan bahwa untuk kota Makassar ini, potensinya cukup besar, karena menurutnya pihak sekolah dapat membiayai dirinya melalui dana BOS.

Prof Arismunandar juga mengungkap berbagai inovasi siswa yang ada di Sulsel.

“Seperti siswa SMA di Wajo mengembangkan budaya berbahasa Bugis, jadi setiap 15 menit mereka berbalas pantun menggunakan bahasa Bugis, demikian juga inovasi siswa di Bulukumba yang mengembangkan mesin pengawet ikan. Ini yang saya maksud bahwa inovasi-inovasi siswa kita sudah sangat luar biasa,” tambahnya.

Ia juga berpesan agar pada kegiatan ini, dapat memetakan apa saja sasaran yang akan dituju dan juga segmen mana yang akan diriset.

Menyambung hal itu, Prof Baharuddin yang merupakan seorang peneliti di bidang pertanian menyinggung tentang sistem urban farming yang sangat cocok digunakan di daerah seperti Kota Makassar ini.

“Tentu untuk menerapkan urban farming kita sangat cocok memproduksi kecambah (tauge) atau juga metode green farming,” ujar Guru Besar Unhas ini.

Ia juga mengungkapkan bahwa untuk tanaman itu sangat memerlukan natrium. Dan menariknya, kata Prof Baharuddin, udara yang kita itu 78 persennya mengandung natrium.

“Dan ini kita bisa manfaatkan untuk urban farming ini,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung beberapa masalah krusial di kota Makassar yang sebenarnya dapat dimanfaatkan.

“Seperti biomassa (sampah), eceng gondok itu bisa dimanfaatkan, jikalau ada nilai komersilnya harus di patenkan,” tandasnya.

Di sisi lain, perwakilan K-apel yang dihadiri oleh Founder Rahman Rumaday, S.I.Pem, didampingi Dewan Pembina Dr Zulkarnain Hamson, S.Sos.,M.Si dan Arwan D. Awing, SE sebagai elemen masyarakat dalam kolaborasi itu, mengambil peran sebagai pemetaan basic masalah di kota Makassar.

Seperti yang diungkapkan oleh Dewan Pembina Dr Zulkarnain Hamson saat memberikan masukan dalam pertemuan tersebu.

“Saya diajak bergabung dalam komunitas ini, untuk bagaimana kita dapat membangun jiwanya masyarakat kita melalui program-program yang ada di komunitas,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, ia mengungkapkan bagaimana jiwa ke-Islaman kita dapat diterapkan di kota Makassar. Bahkan ia membandingkan anak-anak di kota Makassar dengan di Jepang.

“Tentunya ini semua butuh riset yang akan memetakan masalah yang kemudian dari hasil riset itu akan muncul inovasi yang akan menyelesaikan masalah kota Makassar,” tutupnya.

Ini juga ditambahkan oleh Founder K-apel Rahman Rumaday agar Dafi School sebagai sekolah yang telah menerapkan kurikulum berbasis riset agar segera membuat laboratorium riset di sekolah.

“Mengapa ini penting, agar Dafi School dapat menjadi rujukan bagi warga yang ingin mengetahui hasil-hasil riset tentang berbagai permasalahan di kota Makassar,” ungkap penulis buku Trilogi Maharku Pedang dan Kain Kafan ini.

“Jika orang bertanya tentang permasalahan sampah dan bagaimana solusinya, mereka cukup datang di laboratorium riset di Dafi School dan semuanya dapat terjawab,” terangnya.

Pria berkacamata tebal ini juga sangat setuju agar hasil festival dan Expo riset ini dapat membentuk ekosistem riset yang selanjutnya akan secara rutin mengadakan pertemuan.

“Kami di K-apel akan memberikan bantuan untuk suksesnya acara Dafi Fest & Expo 2026 nanti,” pungkasnya.

Diketahui, pada gelaran nanti, ada 14 kompetensi riset yang akan dilakukan dengan 4 cabang jurusan yang ada.

Di mana, SIT Darul Fikri telah mengadakan kegiatan Dafi Fest dan Expo Riset 2025 pada tanggal 17-20 Februari 2025 yang lalu.

Expo Riset ini diikuti oleh semua murid dari lima jenjang sekolah yang ada di Dafi School, yakni para murid unit KB, TK, SD, SMP dan SMA.

Pagelaran Expo Riset di tahun 2025 ini merupakan suatu kegiatan yang dikemas untuk menampilkan hasil riset dan penelitian dari para murid atas penelitian yang telah dilakukannya.

Jumlah judul penelitian riset para murid dari semua jenjang sekolah yang ditampilkan dalam Expo Riset ini berjumlah sekitar 573 judul penelitian riset, yang semuanya dikerjakan dan dan dibuat oleh para murid Dafi School di bawah bimbingan para guru.

Expo Riset ini selain bertujuan untuk mempromosikan kepada khalayak ramai bahwa salah satu budaya yang dikembangkan di Dafi School adalah budaya riset, ajang ini juga dimaksudkan sebagai sarana yang dihadirkan agar para murid Dafi School berkesempatan untuk menampilkan, memaparkan dan membagikan hasil penelitiannya kepada para pengunjung.